Catatan Galau Part 2

Sudah menjadi ketetapan Allah Jalla wa ‘Ala, kita sebagai manusia akan terus diuji dalam kehidupan ini berupa kesusahan dan kepedihan. Jiwa merasakan berbagai hal yang menyebabkan rasa sakit, kekhawatiran, kesedihan, penderitaan, dan kesempitan hidup. Terlebih lagi jiwa manusia memiliki tabiat suka berkeluh kesah atas ujian yang dia dapatkan.

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19)

Maka menjadi sesuatu yang menakjubkan, luar biasa, manakala beban berat ditambah tabiatnya yang suka berkeluh kesah itu justru dia gunakan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

عجبًا لأمرِ المؤمنِ ، إنَّ أمرَه كلَّهُ له خيرٌ ، و ليس ذلك لأحدٍ إلا للمؤمنِ ، إن أصابتْهُ سرَّاءُ شكر وكان خيرًا لهُ ، و إن أصابتْهُ ضرَّاءُ صبرَ فكان خيرًا له

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” [1]

Inilah kekhususan seorang mukmin yang tidak ada bagi selainnya. Walaupun orang kafir juga ditimpa musibah tidaklah dia akan mampu melaksanakannya disamping juga kesia-siaan yang akan dia dapatkan dan ditambah pula adzab di hari akhir.

Yang perlu diperhatikan di sini bahwa tidaklah dinamakan kesabaran apabila dia berkeluh kesah yang benar adalah mengadukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Nabiyullah Ya’qub ‘alaihissalaam,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّـهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Bentuk kesedihan dan kesusahan ini bermacam-macam dan berkaitan dengan waktu yang dijalani oleh seorang hamba. Walapun musibah telah berlalu tetap saja menyisakan rasa pedih dalam jiwa dan kekhawatiran atas musibah yang akan menimpanya di masa yang akan datang.

Rasa pedih dalam hati yang berkaitan dengan masa lalu disebut huzn (حُزنٌ/kesedihan). Perasaan pedih dalam hati yang berkaitan dengan permasalahan masa yang akan datang disebut hamm (هَمٌّ/kekhawatiran/cemas). Rasa sakit dalam hati yang berkaitan dengan waktu sekarang atau sedang berlangsung disebut ghamm (غَمٌّ/penderitaan/kesusahan).

Dan segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla yang telah menurunkan Islam ini sebagai solusi atas segala permasalahan. Maka terdapat wasiat yang agung bagi orang yang dilanda kesusahan bertubi-tubi yang menjadikan dunia terasa begitu sempit padahal bumi Allah itu luas.

Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah doa dengan makna dan kandungan yang sangat agung di dalamnya,

ما قال عبد قط إذا أصابه هم أو حزن : اَللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِي حُكْمِكَ، عَدْلٌ فِي قَضَاءِكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اِسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجَلاَءَ حُزْنِي وَذِهَابَ هَمِّي إلا أذهب الله همه وأبدله مكان حزنه فرحا ، قالوا : يا رسول الله ، ينبغي لنا أن نتعلم هذه الكلمات ؟ قال : أجل ، ينبغي لمن سمعهن أن يتعلمهن

Tidaklah seorang hamba ketika dilanda hamm (rasa khawatir) dan huzn (kesedihan) lalu mengucapkan

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha-Mu kepadaku adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan al-qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihan.”

Kecuali Allah akan menghilangkan kekhawatiran dan menggantikan kesedihan menjadi kebahagiaan. Mereka (para shahabat) berkata, “Wahai rasulullah, apakah sebaiknya kami mempelajari kalimat-kalimat itu?” Beliau menjawab: “Tentu saja, sepantasnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.” [2]

Sungguh, ahlul ilmi menasehatkan kepada kita untuk mempelajari dan bersemangat mengamalkan do’a ini ketika tertimpa kesedihan, kecemasan, dan derita (huzn, hamm, dan ghamm).

Apabila mau merenungkan do’a ini, kita akan menemukan empat prinsip yang agung. Tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk terlepas dari rasa kekhawatiran/gelisah, kesedihan, dan penderitaan serta memperoleh ketenangan dan kebahagiaan kecuali dengan memahami empat prinsip ini dan melaksanakannya.

Prinsip pertama

Benar-benar merealisasikan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla, merendahkan diri di hadapan-Nya, menyadari bahwa kita adalah makhluk ciptaan-Nya sekaligus hamba-Nya, baik dirinya maupun ayah dan ibu kita serta pendahulu semenjak Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimassalaam.

Itulah sebabnya kita mengucapkan:

اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu.”

Semuanya adalah hamba Allah. Dialah yang telah menciptakan mereka, Rabb mereka, Penguasa mereka, yang mengurusi segala sesuatu. Tidak bisa lepas walaupun hanya sekejap mata.

Maka sudah sewajibnya kita beribadah dengan rasa keterhinaan dan ketundukannya kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya, selalu butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, dan tidak bertaut pada selain-Nya, baik dalam hal kecintaan (mahabbah), rasa takut (khauf), maupun pengharapan (roja’).

Prinsip kedua

Mengimani qadha dan qadar Allah. apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sedang yang tidak dikehendaki-Nya tak akan pernah terjadi selama-lamanya. Pun bahwa tidak ada yang sanggup ikut campur dalam hukum Allah, tak ada pula yang dapat menolak keputusan-Nya.

مَّا يَفْتَحِ اللَّـهُ لِلنَّاسِ مِن رَّ‌حْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْ‌سِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fathir: 2)

Itulah sebabnya kita mengucapkan:

ناصيتي بيدك ، ماض في حكمك عدل في قضاؤك

“Ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha-Mu kepadaku adalah adil.”

Ubun-ubun yakni kepada bagian depan, ada di tangan Allah. Dia memperlakukannya sekehendak-Nya. Memberi ketentuan sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tidak ada yang bisa mencampuri ketentuan dan keputusan-Nya, tidak pula menolaknya. Maka dari itu, kehidupan seorang hamba, kematiannya, kebahagiaannya, kesengsaraannya, kesehatannya, cobaan hidup, semua itu kembali pada Allah, bukan menjadi wewenang hamba.

Bila kita meyakini dan menyadari bahwa ubun-ubun kita semuanya ada di tangan Allah, Dia akan memperlakukannya dengan kehendak-Nya, maka akan menjadikan diri kita tidak takut kepada sesama hamba, tidak menaruh harap pada mereka, tidak memposisikan mereka sebagai pemilik dirinya, tidak menggantungkan harapan pada mereka. Setelah itu, barulah tauhid, tawakkal dan penghambaannya kepada Alllah benar-benar terwujud.

نِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّـهِ رَ‌بِّي وَرَ‌بِّكُم ۚ مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَ‌بِّي عَلَىٰ صِرَ‌اطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56)

Ungkapan,

ماض في حكمك

“Ketentuan-Mu berlaku padaku.”

Mencakup dua ketentuan;
1. Ketentuan dalam agama
2. Ketentuan takdir berkenaan dengan semesta.

Dua ketentuan ini berlaku pada diri hamba, ia terima ataupun metolak. Tapi ketentuan takdir yang berkenaan dengan semesta ini tidak mungkin untuk dilawan. Sedangkan ketentuan agama terkadang dilanggar oleh seorang hamba dan ia terancam mendapat siksa sesuai pelanggaran yang dilakukan.

Ungkapan,

عدل في قضاؤك

“Qadha-Mu kepadaku adalah adil.”

Meliputi semua keputusan Allah terhadap hamba-Nya dari segala sisi, baik itu kesehatan atau sakit, kaya atau miskin, rasa nikmat atau rasa pedih, hidup atau mati, mendapat siksa atau mendapat ampunan, semua keputusan Allah itu adalah adil!

وَمَا رَ‌بُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Fushilat: 53)

Prinsip ketiga

Meyakini nama-nama Allah yang husna (asmaul husna) dan sifat-sifat-Nya yang agung yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Bertawassul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

وَلِلَّـهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu” (QS. Al-A’raf: 180)

قُلِ ادْعُوا اللَّـهَ أَوِ ادْعُوا الرَّ‌حْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

“Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-Israa: 110)

Semakin dia mengenal Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka semakin besar rasa takut kepada Allah, semakin besar merasakan pengawasan-Nya terhadap dirinya dan akan semakin jauh dari kemaksiatan dan hal-hal yang menyebabkan Allah murka.

Berkata sebagian salaf,

من كان بالله أعرف كان منه أخوف

“Barangsiapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut kepada Allah.”

Oleh karena itu, hal yang terpenting yang dapat mengusir rasa sedih, cemas, dan gelisah adalah di saat hamba mengenal Rabbnya, memenuhi hatinya dengan pengetahuan tentang Allah dan bertawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena itulah dalam do’a tersebut dinyatakan,

أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك

“Aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.”

Ini adalah wasilah yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Prinsip keempat

Memberikan perhatian pada Al-Qur’anul Karim yang tidak mengandung kebatilan dan keraguan sedikit pun di dalamnya, yang memberi petunjuk, kesembuhan, kecukupan dan jalan keselamatan.

لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Fushilat: 42)

Semakin seseorang memberikan perhatian kepada Al-Qur’an dengan cara membacanya, menghafal, mempelajari, merenungkan, dan mengamalkannya, maka semakin dia akan memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian. Sebagaimana sabda beliau,

إلا أذهب الله همه وأبدله مكان حزنه فرحا

“Kecuali Allah akan menghilangkan kekhawatiran dan menggantikan kesedihan menjadi kebahagiaan.”

Inilah empat prinsip agung dari do’a yang penuh berkah. Sudah semestinya kita sebagai seorang muslim menghayatinya dan berusaha mewujudkannya, supaya bisa memperoleh janji Allah dan keutamaan agung berupa diangkatnya rasa sedih dan gelisah yang berganti dengan kebahagiaan, ketenangan, dan jalan keluar.

Terakhir, semoga menjadi penyemangat bagi kita semua tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه

“Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau hanya sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki” [3]

Maka bersemangatlah, bahwa apa saja yang menimpa diri kita dan semua perasaan hati yang kita alami tidaklah sia-sia, akan menjadi penghapus dosa bagi kita, maka bersabarlah.

Wa billahit taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Surakarta
Sabtu ba’da Ashr, 5 Oktober 2013 (bertepatan dengan 29 Dzulqa’dah 1434 H)
Semoga catatan kecil ini sebagai pengingat bagi diri pribadi dan memberikan faidah untuk yang lain.

Catatan kaki:
[1] HR. Muslim no. 2999
[2] HR. Imam Ahmad 1/391
[3] HR. Bukhari no. 5318, Muslim 2573, At-Tirmidzi 966, Imam Ahmad 3/19

Referensi:
– At-Tabyin li Da’awatil Mardha wal Mushabin, karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr [ebook]
– Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkar, karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr [ebook]
http://dorar.net
http://tanzil.net

Tulisan terkait: Catatan Galau Part 1

4 thoughts on “Catatan Galau Part 2

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s