Sikap Terhadap Bid’ah

Segala puji bagi Allah, kami memuji, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri-diri kami dan dari keburukan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah yang tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabat beliau dan kepada yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat. Amma ba’du.

Wahai saudaraku, Sesungguhnya bagi orang yang mau mengenal manhaj salaf (metodologi salaf dalam beragama) dan menyadari adanya silang pendapat di antara jama’ah-jama’ah Islami, tidaklah sulit untuk mengenali al haq dalam masalah kita ini. Karena Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pernah bersabda,

“Aku tinggalkan kamu di atas kejelasan yang putih cemerlang, malam seperti siangnya, tidak menyimpang dari kecuali orang yang binasa.” (HR. Ibnu Majah (1/16), Ahmad (4/126), Al Hakim (1/175), Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (18/247), disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam takhrij As Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, hal 19).

Yang demikian itu karena agama Islam itu telah sempurna, sebagaimana yang Allah katakan dalam firman-Nya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَ‌ضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku sempurnakan atas nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (Al Maidah: 3).

Kemuliaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala ini adalah nikmat yang besar. Allah memberikan syariat secara sempurna dan Allah subhanahu wata’ala tidaklah menginginkan umat ini menderita kepayahan karena berlebihan dalam mengamalkan syariat. Yang dimaukan oleh Allah azza wa jalla adalah kemudahan. Sebagaimana firman-Nya,

يُرِ‌يدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ‌ وَلَا يُرِ‌يدُ بِكُمُ الْعُسْ

“Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (Al Baqarah: 185)

Akan tetapi tengoklah di sekeliling kita wahai saudaraku, apabila kita melihat di hari ini, muncullah kelompok/sekte-sekte baru yang ghuluw (berlebihan) diantara mereka adalah Syiah, Khawarij, Sufiyah, Ikhwanul Muslimin (Tarbiyah) dan Sururiyah. Maka celakalah orang yang demikian sampai-sampai Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda, “tidak menyimpang kecuali orang yang binasa.”  (Telah berlalu takhrijnya)

Dan Alhamdulillah Allah telah memberikan petunjuk melalui lisan nabi-Nya, bagaimana agar tetap diatas kemuliaan Islam? Yaitu dengan memegang teguh kitabullah dan sunnah nabi-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasalam,

“Aku tinggalkan kepada kalian dua hal yang jika kalian berpegang dengannya, kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selama-lamanya yaitu Kitabullah dan sunnah-ku.(HR. Malik (2/899), Ibnu Nashr dalam As-Sunnah (68), Al Hakim dalam Al Mustadrak (1/93). Syaikh Al Albani menilai hasan hadits ini dalam ta’liqnya terhadap kitab Al Misykaat (186)).

Allah azza wa jalla sendiri telah memerintahkan manusia untuk mengikuti kedua perkara tersebut, sebagaimana firman-Nya,

وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَ‌اطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّ‌قَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah jalan itu dan kamu jangan mengikuti jalan-jalan yang lain sehingga kalian berpecah-belah dari jalan Allah. Itulah yang Allah wasiatkan padamu agar kamu bertaqwa.” (Al-An’am: 153)

Jadi yang namanya al haq itu jelas dan sumber-sumber rujukan juga nyata. Adapun ahlul bid’ah baik di zaman ini dan zaman belakangan telah mengambil sunnah setengah-setengah dan yang setengah lainnya adalah hawa nafsu. Mereka campur adukkan yang sunnah dan yang bid’ah kemudian mereka poles dengan kata-kata “Islam”. Wal iyadzubillah. Akan tetapi mereka tidak akan mampu meruntuhkan dua landasan agung ini. Karena Allah azza wa jalla berfirman,

 يُرِ‌يدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ‌ اللَّـهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّـهُ مُتِمُّ نُورِ‌هِ وَلَوْ كَرِ‌هَ الْكَافِرُ‌ونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka namun Allah terus menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci (tidak menyukainya).” (Ash-Shaff: 8 )

Dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan dua sumber rujukan ini tidak lekang dihapus waktu karena Allah berjanji sebagaimana firman-Nya,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ‌ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Kamilah yang menurunkan adz-dzikr (Al-Qur’an) dan Kamilah yang akan menjagannya. (Al Hijr: 9).

Al Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Allah azza wa jala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya shalallahu alaihi wasalam), serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Ia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al Qur’an dan As Sunnah secara keyakinan dan amalan, itulah sebab keselarasan kata dan bersatunya apa yang tercerai-berai, yang dengannya akan teraih maslahat dunia dan agama serta selamat dari perselisihan…” (Tafsir al Qurthubi, 4/105)

Maka ketahuilah wahai saudaraku, bahwasanya kesempurnaan dien ini akan tetap dijaga oleh Allah tabaroka wata’ala melalui penjagaan ahlusunnah. Sehingga mereka “para ahlul hawa wal mubtadi” tidak akan pernah bisa memadamkan kedua cahaya ini

Tidak ada seorangpun ahlul bidah melainkan penyimpangannya telah dibantah oleh ulama ahlusunnah. Ketika mereka melakukan perubahan tafsir, lafadz, makna, atau juga syariat maka bangkitlah para ulama ahlusunnah untuk membantah perubahan yang mereka lakukan terhadap dien ini. Dengan demikian tegaklah tonggak kemurnian Islam. Serta terwujudlah apa yang Allah janjikan yaitu penjagaan-Nya terhadap dien ini.

Allah azza wa jalla sendiri telah menunjukkan cara untuk mempertahankan cahaya Islam dari penyelewengan ahlul bidah. Allah tabaroka wata’ala banyak memuji orang-orang beriman tanpa menyebutkan kesalahannya sedikitpun namun sebaliknya, Allah banyak mencela orang kafir, munafik, dan fasik tanpa menunjukkan kebaikan mereka sedikitpun. Allah mensifati mereka dengan sifat kufur, nifaq, fasiq, buta, tuli.

Di antara contoh ayat-ayat Al Qur’an yang berisi tahdzir dari kebatilan dan para pelakunya dengan mencerca dan memberi gelaran-gelaran buruk bagi mereka, adalah firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرً‌ا مِّنَ الْأَحْبَارِ‌ وَالرُّ‌هْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar orang-orang ‘alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar telah memakan harta manusia dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At Taubah: 34)

اتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ, وَلَوْ شِئْنَا لَرَ‌فَعْنَاهُ بِهَا وَلَـٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْ‌ضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُ‌كْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُ‌ونَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu ia diikuti oleh syaithan (sampai dia tergoda), maka adilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpanaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dia mengulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia pun mengulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al A’raf: 175-176)

انظُرْ‌ كَيْفَ ضَرَ‌بُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلًا

“Perhatikanlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang engkau, maka sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).” (Al Furqan: 9)

Inilah contoh celaan dan kritik yang sangat tajam serta tahdzir (tahdzir ialah memperingatkan manusia dari pelaku kebid’ahan dan kemaksiatan/kejahatan) yang sangat pedas dalam Al Qur’an dari kebatilan dan orang-orangnya. Allah juga menegaskan untuk menjauhi dan memboikot ahlul bid’ah,

وَإِذَا رَ‌أَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِ‌ضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِ‌هِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَ‌ىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِي

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka jangalah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan tersebut). (Al An’am : 68)

Tahdzir, cercaan, dan sikap keras terhadap ahlul bid’ah juga ditunjukkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. Kita semua sepakat, bahwa Rasulullah memiliki akhlaq yang termulia dan terbaik, sebagaimana direkomendasikan dengan tegas oleh Allah di dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlaq yang sangat tinggi.” (Al Qalam: 4)

Sampai-sampai Aisyah radhiallahu ta’ala anha mengatakan,

“Akhlak beliau adalah al Qur’an” (HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 746 dari jalan Hisyam bin Amir radhiallahu anhu)

Maka tengoklah perangai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dalam bermuamalah. Ketika melihat orang yang salah shalatnya, beliau berkata, “Kembali dan shalatlah, sesungguhnya kamu belum shalat.” Beliau mengulangi perintahnya sampai berkali-kali kemudian berkata, “Sungguh tidak ada yang lebih baik shalatnya kecuali orang ini!” (Lihat HR. Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)

Beliau mengajarinya shalat dan tidak memperingatkan manusia darinya, tidak menuduh sesat dan bid’ah tetapi mengajari cara shalat yang benar.

Contoh lain adalah seorang sahabat yang menyangka tidak boleh makan minum hingga tampak “benang putih dan benang hitam” di bulan Ramadhan. Ia letakkan dua benang putih dan hitam di bawah bantalnya ketika tidur. Ketika terlihat perbedaan warna kedua benang itu, maka ia pun tidak makan dan minum. Padahal sebenarnya yang dimaksud dalam ayat dengan “benang putih dan hitam” adalah terbit fajar. (Lihat HR Bukhari 4/114 dan Muslim no. 1091).

Nabi menerangkannya dan tidak memerintahkan manusia mewaspadai orang ini (yang keliru karena tidak tahu).

Namun ketika beberapa sahabat mendatangi Nabi shallallahu alaihi wassalam dan melihat ibadah beliau, maka mereka merasa kalau ibadah mereka selama ini terlalu sedikit, dan ingin menambah-nambah ibadah dari apa yang telah dituntunkan beliau. Mengetahui ini, Rasulullah pun menjadi sangat marah, lantas berkhutbah dengan menyebutkan ibadah-ibadahnya, bahwa beliau shalat dan tidur, puasa dan berbuka, serta menikahi wanita. Setelah itu beliau memerintahkan mereka dan berkata, “Barangsiapa membenci sunnahku maka bukan dari golonganku”. (Lihat HR. Bukhari no. 4675 dan Muslim no. 2487)

Disini kita dapati sikap beliau berbeda dengan sikap terhadap orang pertama. Mengapa? Karena mereka telah membuka pintu-pintu ghuluw.

Tengok pula kisah sahabat Ammar bin Yasar radhiallahu anhu yang kedapatan meminum khamr, maka ia pun dihukum cambuk, dan pada waktu itu sebagian sahabat mencercanya. Maka beliau shallallahu alaihi wassalam pun mencegah para Sahabat seraya mengatakan bahwa dia masih mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Dengan ini, dapat kita simpulkan bahwa beliau mengubah tata caranya dalam bertindak. Berbeda ketika menghadapi orang yang ingin menambah ibadah di luar batasan syariat.

Tengok pula ketika Dzul Khuwaishirah berkata kepada beliau, “Hai Muhammad, bersikap adil-lah, engkau belum berbuat adil!” Beliau memberi isyarat kepadanya dan berkata,

“Akan keluar dari perut orang ini beberapa kaum, yang yang kalian akan merendah bila shalat kalian dibandingkan dengan shalat mereka, puasa kalian dibandingkan dengan puasa mereka, amal-amal kalian dibanding dengan amal-amal mereka. Mereka membaca Al-Qur’an akan tetapi tidak sampai ke tenggorokan mereka (tidak paham), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari buruannya. Seandainya aku menjumpai mereka maka aku akan membinasakan mereka seperti Allah membinasakan kaum ‘Ad. Barang siapa membunuh mereka maka mendapat pahala sekian dan sekian dan barangsiapa dibunuh mereka maka mati syahid.” (Lihat HR. Bukhari no. 5058 dan Muslim 147/1064)

Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda,

“Ketahuilah bahwa mereka adalah anjing-anjing penduduk neraka. (HR Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah no. 156, HR Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no. 428 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah, Lihat Al Fath Ibnu Hajar Asqalani rahimahullah 2/46, 205)

Rasulullah shalallahu alaihi wasalam juga bersabda,

Mereka adalah anjing-anjing neraka, seburuk-buruknya makhluk yang terbunuh di bawah kolong langit, sedang sebaik-baiknya makhluk yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” (HR. At Tirmidzi, no. 3000, dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu’anhu, dihasankan Syaikh Al Albani dalam Al Misykah, no. 3554)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mentahdzir orang ini serta mentahdzir kaum khawarij yang keluar dari perut orang ini. Hal ini bisa diterangkan dari sisi bahwa penyelisihan terhadap syariat itu bermacam-macam. Orang terakhir ini tidaklah seperti orang yang pertama dalam contoh-contoh di atas. Ia menyelisihi perkara akidah, menentang hukum Rasulullah, mencela pembagian dan amanah Rasulullah. Oleh karena itu beliau bersabda, “Mengapa kalian tidak percaya padaku, sedangkan aku dipercaya oleh Dzat yang ada di langit ?”

Maka ketahuilah wahai saudaraku bahwasanya sikap keras dan tegas yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pun telah dicontoh pula oleh para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, ketika beliau berbicara tentang Al Qadariyyah, “Demi Allah, tidaklah turun ayat: “Rasakanlah oleh kalian adzab neraka Saqar Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan ketetapan taqdir.” (Al Qamar: 48-49), melainkan ditujukan kepada mereka. Mereka itu adalah sejelek-jelek umat ini, jangan kalian jenguk orang yang sakit di antara mereka, jangan kalian shalati orang yang mati dari kalangan mereka. Bila aku melihat salah seorang dari mereka, niscaya aku akan mencungkil kedua matanya dengan dua jariku ini.” (Tafsir Aisirul Karim surat Al Qamar 48-49 karya Ibnu Abbas radhiallahu anhu)

Kemudian tengok pula bagaimana kritikan tajam Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah kepada orang-orang ahlul kalam (filsafat): “Jika kamu melihat ahlul kalam (filsafat) mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari Al Qur’an dan hadits ahad dan tampilkan akal,’ maka ketahuilah bahwa ia adalah Abu Jahal.” (Lihat Siyar A’lamin Nubala Al Imam Adz Dzahabi, 4/472)

Tengok pula bagaiamana sikap Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah ketika membantah muta’zilah (orang-orang yang beragama dengan mengedepankan akalnya): “Perbuatan menentang wahyu dengan akal adalah warisan Syaikh Abu Murrah (iblis). Dialah yang pertama kali menentang wahyu dengan akal dan mendahulukan akal dari pada wahyu.” (Ash Shawa’iqul Mursalah, 3/998, lihat pula Syarh Aqidah Thahawiyah hal. 207)

Ibnul Qayyim rahimahullah juga mengatakan: “Sesungguhnya membenturkan antara akal dengan wahyu adalah asal-usul semua kerusakan di alam semesta. Dan itu adalah lawan dari dakwahya para rasul dari semua sisi karena mereka (para rasul) mengajak untuk mengedepankan wahyu daripada pendapat akal dan musuh mereka justru sebaliknya. Para pengikut rasul mendahulukan wahyu daripada ide dan hasil olah pikir akal. Sedang para pengikut iblis atau salah satu wakilnya, mendahulukan akal dari pada wahyu.” (Mukhtashar Ash Shawa’iq Al-Mursalah, 1/292, lihat pula I’lamul Muwaqqi’in, 1/68-69, Mauqif Al-Madrasah, 1/86)

Wahai saudaraku, adapun ahli ilmu mereka seluruhnya bersikap keras terhadap ahlul bid’ah. Karena Ahli Bid’ah akan berbuat seperti Bani Israil terhadap kitab Taurat dan Nashara terhadap kitab Injil. Mereka memperlakukan kedua kitab itu dengan jalan bid’ah.

Satu generasi datang lalu menafsirkan Taurat. Sebagian lain menulis Taurat dari hasil pikirannya. Sebagian lainnya menafsirkan dengan logika sendiri yang tidak dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, yakni Musa alaihi Salam. Jadi kitab Taurat ini memiliki beberapa tafsiran dan pada saat sama dijadikan rujukan (kitab) suci.

Demikian juga kitab Injil ditafsirkan dalam banyak pemahaman sehingga menjadi rujukan utama. Dimasukkanlah ke dalam agama Isa alaihis Salam perkara baru dan menjadilah perkara itu seolah agama yang datang dari sisi Isa. Padahal kenyataannya itu adalah bid’ah yang dilakukan oleh para pendeta dan ulama jahat mereka.

Seandainya setiap bid’ah dimasukkan ke dalam agama, sehingga terjadi kebid’ahan dalam akidah, akhlak, suluk dan dakwah niscaya akan keluar “agama baru” yang sama sekali lain dari agama yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Oleh karena itu kita mendapati Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersikap keras terhadap setiap perkara baru dalam agama, baik berupa pengurangan ataupun penambahan. Adapun orang yang masih mengikuti syariat namun terjatuh ke dalam dosa besar, beliau jelaskan larangannya dan tegakkan hukuman jika memang terdapat ketentuan hukumnya. Sesungguhnya orang ini tahu bahwa perbuatannya bukan dari agama Allah dan ingin bertaubat. Berbeda dengan orang yang mengadakan perkara bid’ah dan meletakkannya pada posisi agama yang ia serukan.

Sebut saja Syi’ah Rafidhah yang telah menciptakan bid’ah yang sangat besar sehingga menjadikan sebagian kaum muslimin keluar dari Islam. Demikian pula orang-orang sufi yang telah sampai pada tahap keyakinan “wihdatul wujud” (menyatunya Allah dengan Makhluk). Fenomena inilah yang mendorong kita untuk tetap berjalan di atas petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dalam menyikapi Ahli Bid’ah dan pelaku dosa besar. Agar kita tidak seperti Khawarij yang sesat dalam menyikapi pelaku dosa besar. (Al Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal Ibnu Hazm rahimahullah, 2/113)

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah telah membantah prisip Khawarij ini dengan menyatakan bahwa pelaku dosa besar tidaklah kafir. Dan mereka telah menyebutkan banyak dalil yang membantah prinsip golongan sesat ini serta menerangkan bagaimana sikap yang sebenarnya terhadap pelaku dosa beasr dan kebid’ahan di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yang saya tekankan disini adalah bahwa kita harus mengetahui sikap yang sepatutnya terhadap orang-orang yang menyelisihi syariat. Dan itu sudah terdapat dalam kitab-kitab salaf (pendahulu kita yang shalih).

Ketika golongan Khawarij sesat dalam bermuamalah maka para salaf membantah mereka. Demikian pula ketika muncul bid’ah Murji’ah yang menyatakan bahwa dosa-dosa besar tidak mempengaruhi Iman, para Salaf membantah mereka dan menempatkan duduk persoalan pada posisi yang sebenarnya. (Lihat Aqidah Salaf Ashabul Hadits Imam Abu Ismail Ash Shabuni dengan ta’liq Abul Yamin Al Manshuri, I/19)

Pada waktu muncul gerakan Mu’tazilah, para imam Salaf juga membantahnya. Seperti Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah yang memancangkan bendera Ahlus Sunnah, membantah dan berdiri tegak pada posisi yang telah kita ketahui (Lihat Aqidah Salaf Ashabul Hadits Imam Abu Ismail Ash Shabuni dengan ta’liq Abul Yamin Al Manshuri, I/19). Demikian juga Imam Ad-Darimi, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan selain mereka, telah membantah pikiran-pikiran yang menyimpang seperti Shufiyah, Jahmiyah dan lainnya. (Lihat Siyar A’lamin Nubala Imam Adz Dzahabi)

Maka aku katakan: kaidah inilah yang disebut hikmah saudaraku yaitu kaidah yang diambil dari al Quran dan as Sunnah yaitu menghajr (memboikot). Dan bukanlah hikmah itu seperti yang dimaukan dengan berlemah lembut.

Allah memberikan bimbingan kepada manusia. Maka dengan ini aku mendudukkan sesuatu pada tempatnya yaitu menjadikan firman Allah dan perkataan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sebagai hakim dalam permasalahan ini. Sebagaimana firman Allah azza wa jalla,

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisa: 65)

Maksud dari muqadimmah ini adalah untuk memberikan pondasi pada masalah yang penting yaitu kesungguhan dalam menerangkan manhaj yang shahih dan kesungguhan pembelaan terhadap As Sunnah serta kesungguhan menghalangi setiap pintu-pintu agama yang akan dimasuki bid’ah-bid’ah. Ini adalah termasuk amar ma’ruf nahi munkar yang besar. Sebagaimana telah kita ketahui bid’ah-bid’ah mengantarkan manusia kepada syirik besar seperti mengagungkan kubur, meminta berkah dan syafaat kepada mayat-mayat yang ada di kubur yang menyebabkan kaum muslimin keluar dari agama ini.

Dinukil dari:

Muqqadimah Turkah Hasan Al Banna wa Ahammul Waritsin karya Syaikh Ayyid asy Syamari dalam rangka dalam rangka menjawab pertanyaan sebagian jama’ah Ahlusunnah wal Jama’ah asal Belanda tentang perbedaan Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah, Sururiyah dan Yayasan Ihya ut Turats. (Dengan sedikit perubahan)

Ditulis oleh Al-Akh Nur Fii Hidayatullah jazaahullahu khairan

One thought on “Sikap Terhadap Bid’ah

  1. subhanallah, jazaahullahu khairan atas petunjuknya.

    yaa akh, apakah diperbolehkan mendengarkan Al-Qur’an dari komputer (mp3)? bagaimanakah hukumnya, apakah sama seperti mendengarkan musik? mohon penjelasannya.

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s