Karena Allah, Engkau Kumaafkan…

Bismillaah…

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ, الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134)

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan salah satu ciri orang yang bertakwa adalah menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Karena dengan sifat tersebut dia akan selalu berprasangka baik kepada saudaranya sehingga dia tidak menyibukkan diri mencari aib-aib yang ada pada saudaranya. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair,

وعين الرضا عن كل عيب كليلة

كما أن عين السخط تبدي المساويا

Pandangan simpati menutup segala cela

Sebagaimana pandangan benci menampakkan segala cacat

Dengan sifat ini pula dia akan lebih menyibukkan diri memperbaiki aib-aibnya, janganlah kita menjadi orang-orang yang menyibukkan diri mencari kesalahan orang lain dan lupa akan kesalahan dirinya sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiallah ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dari kalian melihat kotoran di mata saudaranya dan melupakan batang pepohonan yang membentang di matanya.” (dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Shahih Al-Jaami’ no 8013)

Berkata Abdur Ro’uf Al-Manawi: “Sepertinya manusia, karena kekurangannya dan kecintaannya kepada dirinya. Mencermati pandangan dalam kesalahan saudaranya dan dia mendapatkannya walaupun tersembunyi. Maka dia buta dengan kesalahanya sendiri, yang tampak dan tidak tersembunyi dengannya. Ini dimisalkan bagi siapa saja yang melihat kesalahan yang kecil dari manusia kemudian dia menghina mereka dengannya. Dan di dalamnya terdapat kesalahan, apa-apa yang disandarkannya kepadanya seperti penyandaran batang kepada kotoran mata dan ini adalah dari seburuk-buruknya keburukan. Dan seburuk-buruknya kesalahan yang ditampakan.”

Memang Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan berbagai keterbatasan dan juga kekurangan, tak ada manusia yang diciptakan sempurna. Akan tetapi manusia yang baik di sisi Allah Azza wa Jalla adalah manusia yang menyadari segala kesalahan dan kekurangannya serta bersegera bertaubat kepada Allah.

Rasulullah ‘alaihi sholatu wa sallam bersabda, “Setiap bani Adam itu bersalah. Dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah orang-orang yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2616 dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 4514)

Dan sungguh memaafkan adalah perkara yang besar di sisi Allah. Kenapa? Karena Allah berjanji melalui lisan Rasul-Nya akan menyediakan surga bagi orang yang mau memaafkan saudaranya, betapapun kedzhaliman yang telah diperbuatnya kepada kita.

Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan renungan untuk kita semua, kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad menurut syarat Bukhari, Muslim, dan Nasa’i.

Anas Ibn Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ‘Akan berlalu saat ini seorang ahli surga.’ Saat itu juga seorang sahabat dari Anshar muncul sambil mengusap jenggot menghilangkan bekas wudhu. Tangan kirinya menenteng sandal. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengatakan hal yang sama dan muncul sahabat Anshar itu. Di hari ketiga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata seperti yang ucapkan sebelumnya. Dan, masih sahabat itu juga yang datang.

Ketika Rasulullah beranjak pergi, sahabat Abdullah bin Umar membuntuti orang itu. Ia berkata (kepada sahabat tersebut), “Aku telah berselisih dengan ayahku. Aku bersumpah takkan tinggal bersamanya selama tiga hari. Jika kau izinkan, aku ingin tinggal bersamamu selama itu?” Sahabat itu menjawab, “Baiklah.”

Abdullah bin Umar bercerita bahwa ia tinggal bersama sahabat itu selama tiga hari. Tapi tak melihatnya bangun tengah malam beribadah, kecuali ketika bangun ia selalu berdoa dan bertakbir hingga menjelang shalat subuh. Abdullah bin Umar berkata, “Aku hanya mendengar ia selalu mengucapkan kebaikan. Selam tiga malam itu, hampir saja aku meremehkan semua hal yang ia lakukan. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya padanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tak pernah terjadi perselisihan antara aku dan ayahku, tapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata sebanyak tiga kali “Saat ini akan berlalu seorang ahli surga.” Aku perhatikan ternyata kamulah orangnya. Aku lantas bermaksud tinggal bersamamu untuk mengetahui lebih dekat semua yang kamu lakukan. Tapi sampai saat ini aku tak melihat kamu melakukan sesuatu yang besar dan berharga. Aku bertanya-tanya apa yang menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan demikian.’ Sahabat itu menjawab, “Diriku hanyalah seperti yang kau lihat.”

Setelah mendengar jawabanya, aku beranjak pergi meninggalkannya. Selang beberapa langkah, ia kembali berkata kepadaku, “Diriku hanyalah seperti yang kau lihat, tapi tak pernah terbetik dalam hatiku, perasaan dengki terhadap muslim lainnya atau iri terhadap anugerah yang Allah berikan kepada mereka.” Abdullah bin Umar menimpali, “inilah yang menyebabkan dirimu menjadi ahli surga.”

Perbuatan yang kelihatan sederhana tapi sangat besar di sisi Allah, sahabat Anshar tersebut ketika hendak tidur selalu menghilangkan perasaan dengki, hasad, dan prasangka buruk kepada saudaranya sesama muslim.

Dan inilah sebaik-baik sifat, yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak pernah beliau marah jika beliau dizhalimi orang lain, justru perbuatan baik dan kata-kata yang mulialah yang beliau tampakkan.

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, “Aku pernah berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu beliau mengenakan selendang yang tebal dan kasar buatan Najran. Kemudian seorang Arab Badui datang lalu menarik beliau dengan tarikan yang sangat keras hingga aku melihat permukaan pundak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekas akibat kerasnya tarikan selendang itu. Lalu orang itu berkata, “Berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu”. Kemudian beliau memandang kepada orang Arab Badu itu seraya tertawa, lalu beliau memberikan sesuatu kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 5809 dan Muslim no. 1057)

Aisyah radhiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita: Bahwa dia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah anda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?” Beliau menjawab:

“Sungguh aku sering mengalami peristiwa berat dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa pada hari Al-Aqabah ketika aku meminta perlindungan kepada Ibnu ‘Abdi Yalil bin ‘Abdi Kulal namun dia tidak mau memenuhi keinginanku. Maka akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah. Aku tidak sadar kecuali aku telah berada di Qarnu Ats-Tsa’aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mengangkat kepalaku ternyata aku berada di bawah awan yang menaungiku, dan ternyata di atasnya ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka katakan kepadamu. Dan Allah telah mengutus kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendakmu terhadap mereka”. Maka malaikat gunung memanggilku, dia memberi salam kepadaku kemudian berkata, “Wahai Muhammad, apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku akan timpakan kepada mereka dua gunung Akhsyab”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan, karena aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun”. (HR. Al-Bukhari no. 2312 dan Muslim no. 1795)

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak pernah memukul seorangpun dengan tangan beliau, tidak itu istri beliau, tidak pula pelayan beliau, kecuali saat berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah sekalipun disakiti lalu beliau membalas pelakunya, kecuali bila hal-hal yang Allah haramkan dilanggar, maka beliau baru membalas karena Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no. 2328)

Semoga Allah Azza wa Jalla menjadikan sifat pemaaf itu selalu ada pada diri-diri kita, kita memohon kepada Allah keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Imran: 133)

Ditulis oleh Rizky Al-Magetaniy

NB: Bagi yang pernah saya dzhalimi, saya minta maaf. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Al-‘afwu minkum..

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s