Apakah Malaikat Mempunyai Akal

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Jika ada seseorang yang berkata apakah mereka (malaikat) mempunyai akal?”

Maka kita katakan kepadanya: “Apakah kamu mempunyai akal?

Tidak ada yg bertanya seperti ini kecuali dia adalah orang gila, Allah Azza Wa Jalla telah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِين َآمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُم ْنَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُون َاللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُون َمَايُؤْمَرُونَ (التحريم:٦)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim: 6)

Apakah mereka dipuji dengan pujian ini,sedangkan mereka tidak mempunyai akal ?!

يُسَبِّحُونَ اللَّيْل َو َالنَّهَار َلا يَفْتُرُونَ (الأنبياء:٢٠)

Artinya: “Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiad ahenti-hentinya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 20)

Apakah kita mengatakan mereka tidak mempunyai akal?!

Mereka mengikuti perintah Allah,danmelakukanapa-apa yg telah Allah perintahkan dengannya, dan menyampaikan wahyu, dan kita mengatakan:

“Mereka tidak mempunyai akal?”

Dan yang lebih berhak untuk diberikan sifat dengan tidak mempunyai akal itu adalah orang yg mengatakan: “Bahwasanya mereka tidak mempunyai akal!!”

(Majmu’ Fatawa Wa Rasaa’il Al-Utsaimin 8/49 dan dinukilkan Syaikh Yasin Al-Adeni dita’liq beliau di Syarh Ath-Thahawiyyah 447 cetakan lama, Fatwa beliau di Syarh Al-Waasithiyyah).

Karena sesungguhnya tidak datang konteks penafian akal didalam Al-Qur’an kecuali dalam rangka celaan,

وَمَثَل ُالَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَل ِالَّذِي يَنْعِق ُبِمَا لا يَسْمَع ُإِلا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمّ ٌبُكْم ٌعُمْي ٌفَهُمْ لا يَعْقِلُونَ ( البقرة:١٧١)

Artinya: “Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja[107]. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak berakal.” (QS. Al-Baqarah: 171)

وَإِذَا نَادَيْتُم ْإِلَى الصَّلاة ِاتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِك َبِأَنَّهُم ْقَوْم ٌلا يَعْقِلُونَ (المائدة: ٥٨)

Artinya: “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak berakal.” (QS. Al-Ma’idah: 58)

مَا جَعَل َاللَّه ُمِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سَائِبَةٍ وَ لا وَصِيلَة ٍوَلاحَام ٍوَلَكِنّ َالَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُون َعَلَى اللَّه ِالْكَذِب َوَأَكْثَرُهُم ْلايَعْقِلُونَ (المائدة :١٠٣)

Artinya: “Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah[449], saaibah[450], washiilah[451] dan haam[452]. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak berakal.” (QS. Al-Ma’idah: 103)

[449] Bahiirah: ialah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya.

[450] Saaibah: ialah unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja lantaran sesuatu nazar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, Maka ia biasa bernazar akan menjadikan untanya saa’ibah bila maksud atau perjalanannya berhasil dengan selamat.

[451] Washiilah: seekor domba betina melahirkan anakk embar yang terdiri dari jantan dan betina, Maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.

[452] Haam: unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta betina sepuluh kali. Perlakuan terhadap bahiirah, saaibah, washiilah dan haam ini adalah kepercayaan Arab jahiliyah.

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِ ّعِنْدَ اللَّه ِالصُّم ُّالْبُكْم ُالَّذِين َلا يَعْقِلُونَ ( الأنفال:٢٢)

Artinya: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak berakal.” (QS. Al-Anfaal: 22)

وَمَاكَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِن َإِلا بِإِذْن ِاللَّهِ وَيَجْعَل ُالرِّجْسَ عَلَى الَّذِين َلا يَعْقِلُونَ (يونس:١٠٠)

Artinya: “Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus: 100)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَن ْنَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِه ِالأرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنّ َاللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُم ْلايَعْقِلُونَ (العنكبوت:٦٣)

Artinya: “Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (QS. Al-‘Ankabuut: 63)

Abul ‘Aun Muhammad bin Ahmad bin Saalim As-Safaariini rahimahullaah berkata: “Bahwasanya malaikat mempunyai akal tanpa hawa nafsu, dan binatang itu mempunyai hawa nafsu tanpa akal, dan manusia mempunyai akal dan hawa nafsu, kemudian jika hawa nafsunya mengalahkan akalnya, maka dia lebih hina dari binatang seperti firman Allah,

وَلَقَدْذَرَأْنَا لِجَهَنَّم َكَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْس ِلَهُمْ قُلُوبٌ لايَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُم ْأَعْيُنٌ لايُبْصِرُونَ بِهَاوَلَهُم ْآذَانٌ لايَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِك َكَالأنْعَام ِبَل ْهُم ْأَضَلُّ أُولَئِكَ هُم ُالْغَافِلُونَ (الأعراف:١٧٩)

Artinya: “Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isineraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al’Araaf: 179) dan Allah berfirman,

أَم ْتَحْسَب ُأَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُون َأَوْ يَعْقِلُونَ إِنْهُمْ إِلا كَالأنْعَام ِبَلْ هُمْ أَضَلّ ُسَبِيلا (الفرقان:٤٤)

Artinya: “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau berakal. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqaan: 44) dan jika akalnya mengalahkan hawanafsunya maka dia lebih mulia dari malaikat (Lawaami’ulAnwaar Al-Bahiyyah 2/402)

Dan lainnya dinukilkan oleh Ibnu Abil ‘Iz di Thahawiyyah dan juga Syaikh Islam dll rahimahumullah

Yang menyatakan bahwasanya ini Tsaabit dari salaf wallahu ‘alam

Disampaikan oleh Al-Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas (Darul Hadits Syihr)

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s