Dampak Negatif Terorisme

Pembaca yang budiman, pelaku tindakan terorisme mengatasnamakan Islam. Mereka meyakini apa yang mereka perbuat adalah suatu kebaikan dan menegakkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Salah satu alasan mereka, tentara Yahudi, Amerika, dst, telah membantai sekian ribu kaum muslimin. Maka mereka merasa perlu membalas tindakan biadab itu. Tapi apakah cara yang mereka tempuh itu benar? Lempar batu sembunyi tangan, setelah “ngebom” lari dan bersembunyi. Apakah hal seperti ini benar? Akibatnya, banyak kaum muslimin yang tidak berdosa “kena getah” dari perbuatan keji mereka itu.

Pada edisi kali ini, kami akan menyebutkan beberapa perkara yang menjadi dampak negatif tindakan terorisme ini, dengan harapan agar tulisan ini bisa menjadi nasehat bagi semua pihak yang gelisah dan bingung atas tindakan ini.

Dampak negatif yang ditimbulkan dari terorisme antara lain adalah,

1. TINDAKAN TERORISME MERUPAKAN BENTUK PENENTANGAN TERHADAP ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA DAN RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Segala bentuk perbuatan kerusakan, peledakan, dan aksi-aksi terorisme adalah terlarang dalam agama ini. Demikian pula menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan kaum muslimin, kafir dzimmi, mu’ahad dan musta’man adalah haram menurut dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perlu kita jelaskan, bahwa ada pembagian orang-orang kafir menurut syari’at Islam yang mulia ini.

Pertama; Kafir Dzimmi, yaitu orang kafir yang membayar jizyah (upeti) yang dipungut tiap tahun sebagai imbalan bolehnya mereka tinggal di negeri kaum muslimin. Kafir seperti ini tidak boleh dibunuh selama ia masih mentaati peraturan-peraturan yang dikenakan pada mereka.

Kedua; Kafir Mu’ahad, yaitu orang-orang kafir yang telah terjadi kesepakatan antara mereka dan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati.

Ketiga; Kafir Musta’man, yaitu orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan (termasuk di dalam kateori ini adalah turis asing yang datang ke negara muslim, pedagang, utusan & orang yang mau masuk Islam).

Keempat; Kafir Harbi, yaitu kafir selain tiga di atas. Kafir jenis ini yang disyari’atkan untuk diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.

Tentang larangan membunuh orang yang dilarang diperangi, itu berdasarkan firman Allah,

إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدتُّم مِّنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 4)

Maka siapa yang melanggar hal tersebut dengan membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh, maka bersiaplah untuk menuai ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam frmanNya,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَمَن يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 13)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Al-Mujadilah: 20)

2. KELUAR DARI JALAN KAUM MUSLIMIN DAN TIDAK MENGIKUTI JALAN MEREKA

Aksi-aksi terorisme serta menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah dari kalangan muslim, kafir dzimmi, mu’ahad, dan musta’man adalah haram menurut kesepakatan ulama dari semenjak jaman shahabat hingga ulama sekarang. Maka melanggar hal tersebut berarti telah keluar dari jalan kaum muslimin. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

3. PEMBANGKANGAN DAN PENGHINAAN TERHADAP PARA PENGUASA

Terjadinya aksi-aksi terorisme di negeri Islam terhitung sebagai penentangan dan penghinaan terhadap penguasa. Dan cukuplah ia dikatakan berdosa karena telah menyelisihi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (QS. An-Nisa’: 59)

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Karena siapa yang keluar dari kekuasaan sejengkal kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyyah.” (HR. Bukhari no. 7053)

Dan dalam hadits Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Siapa yang menghinakan penguasa maka Allah akan menghinakannya.” (HR. Ahmad 5/42)

4. MEMBUAT BID’AH DALAM AGAMA

Seluruh aksi terorisme yang terjadi di masa ini, walaupun dinisbatkan kepada Islam, namun pada hakekatnya ia adalah perkara baru dalam agama yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan oleh para shahabatnya.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bersabda,

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang mengadakan sesuatu yang baru dalam agama kami, padahal ia tidak ada asalnya (dalam agama) maka sesuatu itu tertolak.”

Dan dalam riwayat lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ر

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk dalam urusan agama kami (yang tidak ada tuntunannya), maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

5. MELANGGAR PERJANJIAN KAUM MUSLIMIN

Kebanyakan dari aksi terorisme yang terjadi di negeri-negeri kaum muslimin adalah bentuk pembatalan perjanjian yang telah dijalin oleh penguasa atau bagian dari negara, baik itu berupa jaminan keamanan, perdamaian dan sebagainya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengancam perbuatan melanggar janji semacam itu, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzimmah (perjanjian/tanggung jawab) kaum muslimin adalah satu. Barangsiapa yang membatalkan perjanjian seorang muslim, maka laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia atasnya (orang yang tidak membatalkan perjanjian itu). Tidak diterima darinya sedikitpun.” (HR. Bukhari no. 3179)

6. TERORISME MERUPAKAN PERBUATAN DZALIM DAN MELAMPAUI BATAS

Seorang muslim yang baik dan memahami agamanya dengan benar, tidak akan ragu bahwa aksi-aksi terorisme dan yang semisalnya adalah perbuatan kedzaliman dan melampaui batas. Berkata Masruq bin Al-Ajda’ Al-Wadi’i rahimahullah, “Saya tidak pernah mendzalimi seorang muslim pun dan tidak pula kafir mu’ahad.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitab Ath-Thabaqat 6/83)

7. MENGHAMBAT JALAN TERSEBARNYA AGAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Betapa banyak kegiatan-kegiatan dakwah Islam yang terhenti karena tindakan terorisme yang nampak belakangan ini. Penyebaran Islam, ajakan masuk Islam, berusaha mendidik kaum muslimin, pengadaan studi ilmiah islamiah, penyebaran buku-buku Islam, bantuan dan santunan untuk kaum muslimin, pembangunan masjid dan sekolah-sekolah islami, dan aktifitas dakwah lainnya, terhambat karena adanya perbuatan tersebut.

Maka bagi mereka yang menghambat jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, sungguh akan merugi di kemudian hari, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اشْتَرَوْا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَن سَبِيلِهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS. At-Taubah: 9)

8. MEMBUAT TAKUT KAUM MUSLIMIN

Aksi-aksi terorisme telah meruntuhkan suatu dasar pokok dalam agama kita, yaitu penegakkan keamanan yang merupakan ciri syari’at Islam. Namun para teroris yang menganggap dirinya berada di atas tuntunan Islam, tidak pernah sadar betapa banyak musibah dan malapetaka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan mereka. Dan mereka sama sekali tidak ingin mengerti betapa kaum muslimin dihinakan diberbagai negara, baik oleh pemerintahnya ataupun sesama rakyat. Betapa banyak pemerintah di negara-negara muslim ditekan oleh musuh-musuh Islam dengan alasan adanya kelompok teroris di negara mereka. Dan betapa banyak kaum muslimin disiksa dan dipenjara, dst, karena ulah mereka.

9. BERKUASANYA ORANG-ORANG KAFIR TERHADAP KAUM MUSLIMIN

Harus diketahui bahwa apa yang menimpa kaum muslimin pada hari-hari ini dengan berkuasanya para musuh Islam terhadap mereka di sejumlah negeri kaum muslimin adalah tidak lepas dari pengaruh negatif perbuatan terorisme yang sedang melanda manusia yang sama sekali tidak memperhitungkan aturan-aturan syari’at, menjaga keimanan dan perjanjian, dst.

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, “Wahai sekalian kaum muhajirin, ada lima perkara yang kalian akan diuji dengannya… (beliau sebut di antaranya) …dan tidaklah mereka membatalkan janji Allah dan janji RasulNya kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa atas kaum muslimin, kemudian mengambil bagian apa yang ada di tangan mereka. Dan kapan para penguasa tidak berhukum dengan kitab Allah, dan mereka memilih selain apa yang diturunkan oleh Allah kecuali Allah akan menjadikan kehancuran mereka di antara mereka sendiri.” (HR. Ibnu Majah no. 4019)

Hadits ini menunjukkan bahwa membatalkan perjanjian adalah sebab berkuasanya musuh terhadap kaum muslimin. Jika membatalkan sehari saja sedemikian rupa akibatnya, maka tentunya sikap aksi terorisme dengan bobot pelanggaran yang lebih besar dari membatalkan janji, tentu kan lebih berbahaya dan lebih menyebabkan orang-orang kafir berkuasa terhadap kaum muslimin.

10. PEMBUNUHAN TERHADAP JIWA YANG TIDAK BERSALAH

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Dan jiwa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, (kafir) dzimmi, mu’ahad, dan musta’man.”

Dan tentunya sangat banyak dalil yang menjelaskan tentang bahayanya menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Maidah: 32)

Dan sengaja membunuh jiwa seseorang yang dilarang untuk dibunuh tentu dosanya lebih besar, sebagimana firmanNya,

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. An-Nisaa’: 93)

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan larangan membunuh jiwa yang dilarang dengan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu,”Sungguh sirnanya dunia lebih ringan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada (jiwa) seorang muslim.” (HR. At-Tirmidzi no. 1399)

Dan pembunuhan terhadap jiwa yang tidak bersalah ini semakin besar dosanya, ditinjau dari sisi lain, di mana para pelakunya telah melakukan pembunuhan kepada orang yang sama sekali tidak mempunyai andil dalam peperangan. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan,

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Dan juga pembunuhan terhadap perempuan dan anak-anak adalah dilarang. Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma menerangkan, “Seorang wanita ditemukan terbunuh pada sebagian peperangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (kemudian) menetapkan larangan membunuh wanita dan anak kecil.” (HR. Bukhari no. 3014, Muslim no. 1744)

11. MENYAKITI KAUM MUSLIMIN YANG TIDAK BERDOSA

Tidaklah terhingga berbagai kepedihan dan duka yang menimpa kaum muslimin akibat perbuatan terorisme yang dilakukan oleh segelinir pihak ini (khususnya di negeri-negeri yang kaum muslimin menjadi minoritas). Sekali mereka meledakkan bom atau membuat teror, beberapa tentara/aparat negara yang dia jadikan “target sasaran” terluka atau bahkan tewas. Akan tetapi dalam waktu yang singkat, serangan balasan dilakukan oleh tentara itu. Akibatnya bisa diduga, ratusan bahkan ribuan kaum muslimin terluka atau bahkan tewas karena serangan balasan yang lebih besar itu, sedangkan “teroris-teroris” itu melarikan diri/bersembunyi. Lalu apakah ini dinamakan tindakan yang rasional? Mereka tidak menambah kemuliaan kaum muslimin, tetapi justru menjerumuskan kaum muslimin dalam kesengsaraan. Ini adalah bentuk “menyakiti” kaum muslimin dengan tidak langsung. Cukuplah bagi pembuat kerusakan tersebut ancaman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Dan dari hadits Mu’adz bin Anas radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mempersempit rumah orang, atau memutus jalan, atau mengganggu seorang mukmin, maka tidak ada jihad baginya.” (HR. Ahmad 3/440)

12. MENJADIKAN ORANG-ORANG YANG KOMITMEN TERHADAP AGAMANYA SEBAGAI BAHAN CERCAAN DAN CELAAN

Karena perbuatan sebagian orang, akhirnya sejumlah tuntunan syari’at Islam atas diri dan keluarganya juga dihinakan banyak pihak. Orang yang berjenggot, laki-laki yang memakai celana di atas mata kaki, wanita yang berjilbab dengan jilbab yang syar’i, berpakaian islami, dst, dicap sebagai “teroris” atau orang “ekstrim”. Padahal mau tidak mau, kita harus menyadari bahwa ungkapan-ungkapan demikian itu adalah diusung oleh musuh-musuh Islam guna menjatuhkan kewibawaan Islam dan kaum muslimin. Kita sendiri bisa melihat, tidak semua orang yang berjenggot, berjilbab syar’i, dst, adalah satu pemikiran dengan teroris ini. Bahkan jika mereka melihat keadaan teroris-teroris itu, terkadang syari’at Islam mereka anggap remeh. Misalnya, ketika mereka butuh untuk melakukan “penyamaran” supaya lolos dari kejaran polisi, syari’at berpakaian mereka abaikan. Mereka berpakaian layaknya preman, jenggot dicukur, memakai pakaian ketat, dst, yang sejatinya ini merupakan pelanggaran syari’at. Jadi singkatnya kita katakan, “Mereka berteriak-teriak supaya syari’at Islam ditegakkan, tetapi mereka melanggar syari’at Islam itu sendiri, disesuaikan dengan kebutuhan mereka.”

Maka dari mana cita-cita mereka itu akan tercapai? Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam orang-orang yang mengundang fitnah bagi kaum muslimin apapun bentuknya,

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj: 10)

Wallahu a’lam bish-shawab

Oleh: Tim Buletin Istiqomah, Maraji: Kitab “Meraih Kemuliaan Melalui Jihad, Bukan Kenistaan” karya Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Sumber: Buletin istiqomah edisi 71 diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta

2 thoughts on “Dampak Negatif Terorisme

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s