Terorisme, Sebab-Sebab Munculnya

بِسْمِ اللَّهِ

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kepada kita nikmat berupa Iman dan Islam, yang dengannya kita bisa selamat di dunia dan di akhirat. Pembaca yang budiman, akhir-akhir ini, kita melihat banyaknya tindakan-tindakan yang mencoreng nama Islam, yakni terkait dengan permasalahan bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad. Perlu kita ketahui, bahwa Islam adalah agama yang mulia, yang tidak mungkin meletakkan syari’at yang merendahkan dan mendzhalimi manusia. Jihad adalah salah satu puncak dan bangunan agama, tujuannya mulia, yakni untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, dikarenakan kedangkalan ilmu dan ketergesa-gesaan, sebagian orang melakukan tindakan “pengecut” mengatas-namakan jihad.

Lebih tepat kita namakan terorisme, karena apa yang mereka perbuat, tidaklah membuat manusia meghargai dan mencintai Islam, sebagaimana jihad yang dilakukan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dulu. Tapi sebaliknya, apa yang mereka lakukan justru membuat banyak kalangan takut, membenci dan lari dari Islam karena menganggap Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan/kekejian.

Tentu, perbuatan terorisme tersebut ada sebabnya, yang secara global akan kita sampaikan pada edisi kali ini.

Pembaca yang budiman, sebab-sebab munculnya tindakan terorisme antara lain adalah,

1. Jauh dari tuntunan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala

Menjauh dan berpaling dari syari’at Islam adalah sebab kebinasaan dan kesengsaraan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ, وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 123-124)

Maka meninggalkan tuntunan dan aturan agama dan tidak menerapkannya dalam kehidupan adalah sebab kesengsaraan dan kesesatan, di mana terorisme terhitung bagian dari kesengsaraan yang menimpa manusia.

Dan fenomena terjauh dari tuntunan syari’at ini nampak dalam beberapa perkara, diantaranya;

  1. Banyaknya bid’ah (pemahaman baru dalam agama) dan keyakinan yang rusak sehingga melahirkan perpecahan, pertikaian, dan kelompok sempalan,
  2. Berpaling dari jalan salafush shalih (pemahaman shahabat), bahkan mengingkari dan menentangnya,
  3. Tersebarnya kemungkaran, kekejian dan maksiat serta munculnya berbagai kerusakan, bahkan kadang dalam bentuk produk yang bersegel resmi dan mendapat perlindungan,
  4. Terpaut kepada semboyan-semboyan dan dasar-dasar pemikiran rusak yang kebanyakan diekspor dari luar kaum muslimin.

Perkara-perkara di atas dan yang semisalnya semua tergolong keberpalingan dan penjauhan diri dari agama. Jika hal itu tetap berlangsung dan tidak diadakan perubahan terhadapnya maka pasti akan menjadi jalan utama pintu terorisme.

2. Sikap Ekstrim

Sikap ekstrim adalah sesuatu yang tercela dalam agama. Dan sikap ekstrim ini adalah sumber kerusakan dan penyimpangan.

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, “Tidaklah Allah memerintahkan dengan suatu perintah kecuali syaithan punya dua sasaran aksi perusakan, apakah untuk menelantarkan dan menyia-nyiakan, atau untuk berlebihan dan ekstrim. Dan agama Allah adalah pertengahan antara yang menyepelekan dan yang ekstrim.” (Madaarijus Saalikin: 2/517)

Dan demi Allah, tidaklah kejadian aksi-aksi peledakan tersebut muncul, kecuali karena sikap ekstrim dalam menerapkan prinsip-prinsip agama, di antaranya:

  1. Ekstrim dalam pengkafiran, sehingga kadang seorang pelaku dosa besar dianggap batal keislamannya oleh orang-orang tersebut.
  2. Ekstrim dalam hal amar ma’ruf nahi munkar sehingga banyak menjatuhkan pelakunya ke dalam jurang kesesatan dan menimbulkan berbagai problem terhadap umat.
  3. Ekstrim dalam penegakkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mereka mengobarkan jihad bukan pada tempatnya yang sama sekali tidak dituntunkan dalam syari’at.

Dan tidak jarang terdengar dari sebagian orang, kelompok dan jama’ah ekstrim kalimat-kalimat berbahaya, hanya karena satu kesalahan yang mengandung banyak kemungkinan terdengar kalimat “Dia adalah nashrani bersalib”, atau karena alasan yang sangat lemah bagaikan sarang laba-laba terdengar kalimat “Pemerintah kafir beserta antek-anteknya membiarkan Amerika dan sekutunya menduduki tanah suci”, atau karena tidak sepaham dan berbeda pendapat terdengar ucapan sadis terhadap ‘ulama “Ulama penguasa, penjilat, budak, dan takut kehilangan dunia”, “Ulama Qaa’iduun (tidak berangkat jihad saat jihad di tegakkan)”.

Dan banyak lagi fenomena ekstrim yang amatlah panjang untuk diuraikan di sini.

3. Jauh dari ‘Ulama

Sesungguhnya para ulama mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di tengah umat dan telah dipuji dan dijelaskan keutamaan mereka dalam berbagai nash ayat maupun hadits. Karena itu kita diperintahkan untuk merujuk kepada mereka dalam segala urusan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Pada perkara yang penting dan menyangkut kemaslahatan umat, kita wajib untuk menyerahkan urusannya kepada para ‘ulama, sebagaimana perintahNya,

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. An-Nisa’: 83)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Berkah itu besama orang-orang tua (ulama) kalian.” (HR. Al-Hakim 1/62)

Dan fitnah akan bermunculan apabila para ulama sudah tidak lagi dijadikan sebagai rujukan, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, (di mana) akan dibenarkan padanya orang-orang yang berdusta dan dianggap dusta orang-orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap berkhianat, dan akan berbicara Ar-Ruwaibidhah itu?” Ditanyakan: “Siapakah Ar-Ruwaibidhah itu?” Beliau berkata: “Orang dungu yang berbicara tentang perkara umum.” (HR. Ahmad 2/291)

Dan dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari para hamba, akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan) para ulama sampai bila tidak tersisa lagi seorang ‘alim maka manusiapun mengambil para pemimpin yang bodoh maka mereka pun ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu, maka sesatlah mereka lagi menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100)

Dan perlu kami ingatkan di sini, bahwa yang dimaksud dengan ulana adalah sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Mereka adalah para ahli fiqih Islam dan ucapan-ucapan mereka adalah fatwa yang berputar di tengah manusia, yang mempunyai kekhususan dalam mengambil pendalilan hukum dan sangat menjaga (berhati-hati) dalam menetapkan kaidah-kaidah halal dan haram.” (I’lamamul Muwaqqi’iin 1/18)

Berkata Ath-Thabary, “Mereka adalah tiang agama dalam fiqih, ilmu, perkara-perkara agama dan dunia.” (Jamii’ul Bayaan 3/327)

Berkata Adz-Dzahaby, “Ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, akan tetapi ia adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati. Syaratnya adalah ittibaa’ (mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan lari dari hawa nafsu dan perbuatan bid’ah.” (Siyar A’laamun Nubalaa’ 13/323)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan di antara sifat mereka, “Orang yang mempunyai lisan kejujuran yang merata, dimana ia disanjung, dan dipuji oleh kebanyakan umat. Mereka itulah para imam petunjuk dan lentera penerang.” (Majmu’ Fataawaa 11/43)

Ingatlah… orang-orang yang hanya punya keahlian menggetarkan mimbar-mimbar ceramah belum tentu ulama. Demikian juga orang-orang yang baru menulis satu atau dua buku, punya keahlian membicarakan masalah-masalah kekinian, lantang menentang dan menampilkan sikap, punya kelompok, partai, golongan dan seterusnya belum tentu ulama. Maka jangan salah menilai seperti keadaan banyak manusia pada zaman ini.

Juga perlu kami ingatkan bahwa banyak hal yang menyebabkan jauhnya umat dari para ulama. Di antaranya adalah jauhnya kebanyakan umat dari ilmu syar’i dan mereka lebih sibuk dengan urusan dunia atau berkiblat kepada selain kiblat kaum muslimin. Juga banyak di antara mereka yang bersandar pada kemampuannya sendiri hingga memahami agama hanya dengan jalur membaca sendiri (otodidak) tanpa mempedulikan penting dan perlunya memahami ilmu itu dari ulama para pewaris nabi. Sebab yang paling banyak menjerumuskan umat kita kepada penyimpangan dan keberpalingan dari para ulama adalah adanya para penyeru kepada kesesatan yang berusaha menampilkan diri sebagai tokoh umat dan menjauhkan para pemuda dari ulamanya.

4. Mengikuti ideologi menyimpang

Suatu hal yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya adalah bahwa seluruh kelakuan, gerak dan perbuatannya diatur oleh pemikiran dan keyakinannya, sehingga manusia itu pasti tergiring oleh pemikirannya, baik atau rusak pemikiran tersebut.

Karena itu, salah satu sebab penting timbulnya terorisme adalah kerusakan dan kesesatan pemikiran serta samarnya kebenaran dari kebathilan terhadap para pelaku terorisme tersebut.

Kerusakan ideologi ini muncul karena beberapa faktor pokok, yaitu:

  1. Adanya kerancuan dalam manhajut talaqqi (metode mengambil ilmu). Di mana orang-orang yang menyimpang dalam ideologinya tersebut mengambilnya dari orang-orang yang menganut pemikiran rusak atau keyakinan sesat, bukan dari ‘alim ‘ulama yang dikenal dengan keluasan ilmunya, keteguhan manhaj dan sebagai penasehat umat. Merekapun kemudian melampai batas dengan ideologinya dan larut dalam hawa nafsunya. Maka wajar kalau mereka terjerumus dalam berbagai penyimpangan dan kesesatan serta berucap atas nama Allah tanpa ilmu. Dan hasilnya, mereka akan sesat dan menyesatkan.
  2. Mengambil nash secara konstektual tanpa fiqih yang mendalam, tidak menggunakan kaidah-kaidah pemetikan / penyimpulan hukum dari sebuah dalil dan tidak memperhitungkan pemahaman ulama dalam masalah tersebut serta tidak pernah menoleh kepada alasan-alasan manusia yang kadang jatuh dalam sebuah kesalahan karena suatu udzur syar’i.
  3. Perang pemikiran dan tipu daya iblis yang menjangkit di tengah umat melalui jalur para da’i penyeru kepada kesesatan yang menganut berbagai bentuk penyimpangan yang bisa mendorong manusia untuk melakukan aksi peledakan, perusakan, dst.
  4. Mengikuti hawa nafsu. Yaitu kadang seseorang mengetahui yang benar, namun hawa nafsu lebih mendominasi pada dirinya, sehingga ia lupa pada kebenaran tersebut atau sengaja melupakannya. Dan akhirnya ia mencari-cari alasan yang dianggap dapat membenarkan perbuatan jahatnya.

5. Tersebarnya buku-buku yang memuat ideologi terorisme.

Harus kita ketahui bahwa pemahaman keliru yang terdapat dalam sebuah buku kadang bersumber dari kesalahan pribadi sang penulis tanpa maksud kelek dari penulis itu. Namun, kebenaranlah yang harus diucapkan, kebathilan harus ditolak, siapapun pembawanya, setelah nampak dari nash-nash syari’at akan kebathilan dan kesalahannya.

Di sini, sedikit kami sampaikan beberapa tokoh yang bukunya menjadi rujukan para teroris. Perlu dipahami, bahwa hal ini kami sampaikan bukan karena kebencian, tetapi sebagai bentuk nasehat agar kita dapat menjauhi pemikiran-pemikiran “teroris” yang memang melekat dengan pemilik buku-buku ini. Pengarang buku yang kami maksud antara lain Sayyid Quthb, Abul A’la Al-Maududi, Hasan Al-Banna, Sa’id Hawwa, At-Tilmisany, Hasan At-Turaby, Ahmad Muhammad Rasyid, Muhammad Quthb, Abu Muhammad Al-Maqdisy, Salman Al-‘Audah, Safar Hawaly, ‘Aidh Al-Qorny, Nashir Al-‘Umar, dan beberapa buku yang tersebar di Indonesia yang memang lekat dengan pemahaman khawarij semisal buku karangan Imam Samudra, dst.

6. Tersebarnya paham Khawarij

Banyak hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahayanya pemahaman ini, di antaranya adalah hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, di mana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada akhir zaman nanti akan muncul kaum berusia muda (khudatsaaul asnan), berpikiran pendek (sufahaul ahlam), mereka bertuturkata dengan sebaik-baik ucapan kebaikan. Mereka membaca Al-Qur’an tetapi bacaan mereka itu tidak melebihi (melampaui) kerongkongan mereka (artinya bacaan Al-Qur’an mereka hanya bagus di lisan, tetapi tidak sampai merasuk ke hati mereka), mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Maka di mana pun kamu menjumpainya, maka perangilah mereka, sebab (dalam) memerangi mereka terdapat pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari no. 6930, Muslim no. 2462), dan masih banyak hadits-hadits lainnya yang tidak mungkin kami sebut semua dalam edisi kali ini.

Untuk memperjelas, kami sampaikan cirri-ciri pokok paham khawarij, di antaranya:

  1. Pembangkangan dan pemberontakan terhadap penguasa muslim yang sah, dan tidak ta’at kepada penguasa walaupun dalam hal yang baik (ma’ruf),
  2. Mengkafirkan pelaku dosa besar,
  3. Memanas-manasi hati masyarakat untuk benci kepada penguasa dengan menyebutkan kejelakan mereka dan mencercanya,
  4. Mengkafirkan secara mutlak orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala,
  5. Mengkafirkan pemerintah dengan alasan menelantarkan jihad,
  6. (Membolehkan) peledakan dan pengeboman,
  7. Membolehkan membunuh aparat pemerintah. Wallahu a’lam.

Oleh: Tim Redaksi Buletin Istiqomah, Rujukan: Kitab “Meraih Kemuliaan dengan Jihad, Bukan Kenistaan” karya Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.

Sumber: Buletin Istiqomah edisi  70 diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s