Hukum-Hukum yang Berkaitan dengan Musibah

Ditulis oleh Al-Ustadz Fahmi Abu Bakar Jawwas -Hafidzhohullohu Ta’ala- tholib Markiz Darul Hadits Syihr Hadramaut Yaman

بسم الله الرحمن الرحيم

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُه ونَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيهِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيّاً مُرشِداً .

وَصَلَّى الله عَلَى محمَّد وَعَلَى اله وَأَصحَابِه وَسَلِّم تَسلِيمًا كَثِيرًا.

أَمَّا بَعدُ:

Judul ini dibawakan karena memang perkara ini tidak mau tidak, pasti akan menimpa anak keturunan Adam, siapapun dia di manapun dia dan itu telah menjadi sunnatullah. Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Bahkan semakin besar tingkat keshalehan seseorang, maka semakin besar pula tingkat ujian tersebut. Kadang kita mendengar orang tua kita, adik atau kakak kita dan juga saudara(i) kita mendapatkan musibah. Walaupun kita merasakan sedih atas apa yang mereka rasakan tetapi dikarenakan mendadaknya musibah, kita kadang kurang siap untuk menghibur mereka.

Di bawah ini terdapat ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar-atsar mengenai musibah dan juga hal-hal yang berkaitan dengan kesabaran yang dengan itu mudah-mudahan dapat menghibur rasa duka di hati. Saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat untuk penulisnya dan juga pembacanya. Semoga Allah Ta’ala menerima amalan-amalan kita. Sesungguhnya Dialah penolong kita atas itu dan Maha Mampu dalam mewujudkannya. Aamiin…

 الم, أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ, وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: ”Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sungguh Allah mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS.Al-Ankabut: 1-3)

Dan Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kalian dikembalikan.” (QS.Al-Anbiyaa’:35)

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata: “Dan perkataan-Nya (نَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً) Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Maksudnya adalah kami akan menguji kalian dengan musibah dan terkadang dengan kenikmatan dan terkadang dengan lainnya,lalu kami akan melihat siapakah yang bersyukur dan siapakah yang tidak bersyukur. Siapakah yang bersabar, dan siapakah yang putus asa.

Seperti yang dikatakan ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbaas Radhiyallahu Anhuma: ”Perkataan ‘kami menguji kalian’, beliau berkata: ”Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan dengan kesengsaraan dan kelapangan (hidup), dengan kesehatan dan penyakit, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan sesuatu yang halal dan yang haram, dengan keta’atan dan kemaksiatan, dan dengan hawa nafsu dan kesesatan.”[1]

Ujian atau cobaan di dalam arti bahasa berasal dari perkataan mereka: “Allah menguji seorang hamba dengan suatu ujian, jika dia diuji di dalam kesabarannya dan kesyukurannya.” [2]

Musibah adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia. Berkata Al-Imam Al-Qurthubi: “Musibah adalah segala apa yang mengganggu seorang mukmin dan yang menimpanya.” [3]

Wahb bin Munabbih Rahimahullah berkata: ”Tidak ada sesuatupun kecuali ia mulai dari yang kecil kemudian membesar kecuali musibah maka sesungguhnya ia mulai dari yang besar kemudian mengecil.”[4]

Dari Anas bin Malik Radhiallohu Anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang dinamakan sabar itu adalah ketika (bersabar) pada pukulan (benturan) pertama.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: ”Kalaulah bukan karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mengobati hamba-hamba-Nya dengan pengobatan yang berupa cobaan dan ujian, maka sungguh mereka akan melampaui batas, menyimpang dan akan angkuh, dan jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala menginginkan kebaikan kepada hamba-Nya, maka Dia akan memberikan obat yang berupa ujian dan cobaan, sebatas kadar keadaannya. Dia mengobatinya dari penyakit yang membinasakan, sampai jika Dia telah membersihkannya, memurnikannya dan menyaringnya, maka Dia akan menjadikannya di tempat derajat yang paling mulia didunia ini, dan itu adalah ‘Ubudiyyah kepada-Nya, dan ganjaran yang paling tinggi di akhirat nanti dan itu adalah melihat-Nya dan dekat dengan-Nya.” [5]

Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya manusia ketika menghadapi musibah itu ada beberapa derajat;

1.       Orang yang bersyukur

2.       Orang yang ridha

3.       Orang yang sabar

4.       Orang yang tidak sabar

Adapun orang yang tidak sabar maka dia telah melakukan pebuatan yang diharamkan oleh Allah, dan murka atas suatu ketetapan Rabb semesta alam ini, yang kekuasaan langit dan bumi berada di tangan-Nya, dan kepunyaan-Nya lah kerajaan itu, dan Dia mengerjakan apa-apa yang Dia kehendaki.

Dan adapun orang yang bersabar maka dia telah menunaikan kewajibannya, dan orang yang bersabar adalah orang yang menahan musibah, maksudnya dia melihat musibah itu dalam keadaan pahit, berat, sulit, dan benci jika menimpanya tetapi dia menahannya dan bersabar, dan dia menahan dirinya dari sesuatu yang diharamkan dan ini adalah suatu kewajiban.

Adapun orang yang ridha, maka dia adalah orang yang tidak memperhatikan musibah ini, dan dia melihat bahwasanya musibah datangnya dari Allah lalu dia ridha dengan keridhaan yang sempurna, dan dia tidak bersedih di hatinya atau menyesal atasnya, karena itu dia ridha dengan keridhaan yang sempurna, dan keadaannya lebih tinggi derajatnya dari pada orang yang bersabar dan untuk ini,ridha itu adalah sunnah dan bukanlah sesuatu yang wajib.” [6]

Dan orang yang bersyukur, dia adalah orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Tetapi bagaimanakah dia bersyukur kepada Allah atas musibah ini dan ia adalah musibah?

Jawabannya dari dua sisi;

Pertama, agar dia melihat kepada seseorang yang terkena musibah dengan sesuatu yang lebih besar, maka dia bersyukur kepada Allah bahwasanya dia tidak terkena musibah yang sepertinya, dan untuk itu telah datang suatu hadits: ”Janganlah kalian melihat seseorang yang di atas kalian (dalam permasalahan dunia –pent) dan lihatlah kepada seseorang yang di bawah kalian (dalam permasalan dunia –pent) maka sesungguhnya itu lebih pantas, dan agar kalian tidak menghina nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian.” [7]

Kedua, agar dia mengetahui bahwasanya dengan musibah ini akan membuat dosa-dosanya terhapuskan dan diangkat derajatnya. Jika dia bersabar, maka apa-apa yang ada di akhirat itu lebih baik dari pada apa-apa yang ada di dunia ini, maka dia bersyukur kepada Allah. Dan juga sesungguhnya manusia yang paling besar cobaannya adalah para Nabi Shalawatu Rabbi Wassalaamuhu ‘Alaihim, kemudian orang-orang yang shaleh kemudian yang semisalnya [8], maka agar dia berharap agar dengan musibah itu dia termasuk dari orang-orang yang shaleh,maka dia bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. [9]

Pentingnya Istirja’ ketika Musibah

Istirja’ adalah ucapan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ, الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ, أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Shahabiyah Ummu Salamah menyebutkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا؛ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah lalu ia mengatakan apa yang diperintahkan Allah (yaitu): ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, wahai Allah, berilah aku pahala pada (musibah) yang menimpaku dan berilah ganti bagiku yang lebih baik darinya’; kecuali Allah memberikan kepadanya yang lebih baik darinya.” (HR. Muslim no. 918)

Ummu Salamah berkata: Tatkala Abu Salamah meninggal, aku mengucapkan istirja’ dan mengatakan: “Ya Allah, berilah saya pahala pada musibah yang menimpa saya dan berilah ganti bagi saya yang lebih baik darinya.”

Kemudian aku berpikir kiranya siapa orang yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah? Maka tatkala telah selesai masa ‘iddah-ku, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (datang) meminta izin untuk masuk (rumahku) di mana waktu itu aku sedang menyamak kulit, lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melamarku.

Tatkala Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah selesai dari pembicaraannya, aku berkata: “Wahai Rasulullah, sebenarnya saya mau dilamar tapi saya seorang wanita yang sangat pencemburu. Saya khawatir, anda akan melihat dari saya sesuatu yang nantinya Allah akan mengazab saya karenanya. Saya juga orang yang sudah berumur dan banyak anak.”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda: “Adapun apa yang engkau sebutkan tentang sifat cemburu, niscaya Allah akan menghilangkannya. Dan apa yang engkau sebutkan tentang umur maka aku juga sama (sudah berumur). Dan yang engkau sebutkan tentang banyaknya anak, maka anakmu adalah tanggunganku.”

Aku berkata: “Aku menyerahkan diriku kepada Rasulullah.” Lalu beliau menikahiku.

Ummu Salamah berkata setelah itu: “Allah telah menggantikan untukku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR. Ahmad)

BEBERAPA HAL TENTANG KESABARAN YANG ADA DI DALAM AL-QUR’AN, SUNNAH DAN ATSAR-ATSAR.

1. Pujian terhadap orang yang melakukannya

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar didalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

2. Menerima perintah Allah dan mendapatkan kebersamaan-Nya yang kebersamaan-Nya itu mengandung pertolongan-Nya

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

3.Kabar gembira untuk orang-orang yang bersabar

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ, الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ, أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ Mereka Itulah orang-orang yang mendapat pujian dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

4. Pahala orang yang bersabar tidak terhitung

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Rabb kalian’. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberikan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

5. Orang yang besabar adalah orang yang sangat beruntung

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Artinya: “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 35)

6. Orang yang bersabar itu adalah orang yang beriman

Seperti yang telah dilakukan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab An-Najdi dalam pemberian salah satu bab di dalam Kitab Tauhid “Bersabar atas takdir yang diberikan Allah kepadanya itu adalah termasuk beriman kepada Allah”.

Allah Azza Wa Jalla berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghaabun: 11)

Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qaasim Rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah barang siapa yang terkena musibah lalu dia mengetahui bahwasanya itu adalah takdir Allah kemudian dia bersabar dan mengharapkan balasannya dan dia berserah diri karena ketetapan Allah, maka Allah akan memberikan petunjuk kepada hatinya dan menggantinya dari apa-apa yang telah hilang dari perkara dunianya dengan petunjuk didalam hatinya dan keyakinan yang jujur, dan kadang kala diganti apa-apa yang telah diambil darinya atau dengan yang lebih baik darinya.” [10]

‘Alqamah Rahimahullah berkata didalam ayat ini: “Dia adalah seseorang yang terkena musibah lalu dia mengetahui bahwasanya itu dari Allah kemudian dia ridha dan berserah diri.” [11]

7. Kesabaran dan keyakinan adalah pondasi dari tawakkal dan dengan keduanya pula didapatkan kepemimpinan didalam agama ini

Seperti yang dikatakan Syaikh Al-Islam Rahimahullah [12], dan seperti yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Artinya: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullahu Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: ”Sungguh menakjubkan perkara orang-orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya baginya adalah baik, dan itu tidaklah di dapatkan kecuali hanya pada orang mukmin, jika dia mendapatkan sesuatu yang menyenangkannya maka dia bersyukur dan itu adalah baik baginya, dan jika dia mendapatkan kesulitan maka dia bersabar dan itu adalah baik baginya.” [13]

Dari Abi Hurairah Radhiallohu Anhu berkata, Rasulullahu Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:  ”Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan kepadanya maka Allah akan memberikan musibah kepadanya.” [14]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Jika Allah menginginkan hambanya suatu kebaikan, maka Allah akan mendahulukan baginya hukuman di dunia, dan jika Allah menginginkan hambanya suatu keburukan, maka Allah akan menahan (hukuman) dosa-dosanya di dunia sampai disempurnakan dengannya pada hari kiamat.” [15]

Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Senantiasa bala` (cobaan) menimpa seorang mukmin dan mukminah pada tubuhnya, harta dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” [16]

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata: Aku memasuki tempat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dan beliau sedang demam, lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas di tanganku di atas selimut. Lalu aku berkata, ”Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimu.” Beliau berkata: “Begitulah, kami (para nabi), cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab: “Para nabi.” Aku bertanya, ”Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun, Dan apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan.” [17]

Dari Abi Sa’id Al-Khudri dan Abi Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 “Tidaklah seorang mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya.” [18]

Dari Ma’qil bin Yasaar Radhiyallahu Anhu,Rasulullahu Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Iman yang paling utama adalah kesabaran dan kemurahan hati (toleransi).” [19]

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata: “Kami mendapatkan sebaik-baiknya kehidupan kami adalah dengan kesabaran.” [20]

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullahu berkata: “Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah, betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya . Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.” [21]

Dan Beliau Rahimahullahu juga berkata: “Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.” [22]

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullahu berkata kepada sebagian temannya: “Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran; kamu tidak menceritakan sakit yang kamu derita, dan tidak pula menceritakan musibah yang tengah menimpamu serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.” [23]

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: Dikatakan kepada Imam Syafi’i Rahimahullah,wahai Aba Abdillaah manakah yang lebih utama bagi seseorang? Apakah dia dikokohkan (kemudian dia bersyukur kepada Allah) atau dia diuji (dengan kesulitan)? Maka berkatalah Imam Syafi’i Rahimahullah: “Seseorang tidak akan dikokohkan kecuali setelah dia diuji, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah menguji Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad (Shalawaatullaah Wasalaamuhu ‘Alaihim) ketika mereka bersabar atas ujian maka Allah kokohkan mereka.” [24]

Fudhail bin ‘iyadh Rahimahullah berkata: “Tidak akan sampai kepada hakikatnya iman seorang hamba sampai dia menghitung cobaan itu menjadi suatu kenikmatan dan kemewahan hidup itu menjadi cobaan dan sampai dia tidak menyukai seseorang memujinya dikarenakan perbuatan ibadahnya kepada Allah.” [25]

DAN DI BAWAH INI BEBERAPA KISAH YANG BISA KITA AMBIL PELAJARAN DARI ULAMA SALAF KITA DALAM MENGHADAPI MUSIBAH INI.

Abdul ‘Aziz bin Abi Rawwad Rahimahullah: Aku melihat di tangan Muhammad bin Waasi’ Rahimahullah ada luka yang bernanah, sepertinya dia melihat apa yang membuat aku jijik darinya, lalu beliau Rahimahullah berkata: “Apakah kamu mengetahui kenikmatan, apa yang diberikan Allah kepadaku dari nanah ini?”

Maka aku terdiam,lalu beliau Rahimahullah berkata: “Karena Allah tidak menjadikannya di kedua buah bola mataku, dan tidak juga diujung lidahku.” (Abdul ‘Aziiz berkata), “Maka luka nanah itu telah menghinakanku.”  [26]

Diriwayatkan dari Ibni Abi Haatim dengan isnadnya di dalam Kitab Tafsirnya, dari Khalid bin Yaziid dari ‘iyaadh bin ‘Uqbah bahwasanya telah wafat anaknya yang bernama Yahya, maka ketika dia turun di liang kuburnya seseorang berkata kepadanya, Wallahi. Kalau dia hidup sungguh dia akan menjadi panglima tentara, maka bersabarlah, ikhlaskanlah dia dan harapkanlah balasan dari musibah ini. Lalu berkatalah ayahnya, “Apa yang mencegahku untuk bersabar dan mengikhlaskannya dan mengharapkan balasan dari musibah ini? Dahulu dia telah menjadi perhiasan kehidupan dunia, dan sekarang dia menjadi amalan shaleh.” Maka ini adalah laki-laki yang bersabar yang ridha dan ikhlash. Alangkah bagusnya pemahamannya, dan baiknya ta’ziyahnya (menghibur) untuk dirinya sendiri, dan percayanya atas apa yang telah Allah berikan kepadanya yang berupa ganjaran bagi orang-orang yang bersabar.[27]

Ibnu Hibban Rahimahullah berkata: “Di dalam biografinya Abi Qilaabah Abdullaah bin Zaid Al-Jarmii Rahimahullah [28] dari bukunya (Ats-Tsiqaat)”

Telah bercerita kepadaku tentang kisah wafatnya, Muhammad bin Al-Mundzir bin Sa’iid, telah bercerita kekada kami Ya’quub bin Ishaq bin Jarh, telah bercerita kepadaku Al-Fadhl bin ‘isa dari Baqiyyah bin Al-Waliid, telah bercerita kepada kami Al-‘Auzaa’i dari Abdillaah bin Muhammad berkata: Aku pergi ke pantai ke tempat penambatan hewan, dan waktu itu tempat penambatan hewan kita adalah kandang ternak negeri Mesir, maka ketika sampainya aku dipantai, tiba-tiba aku berada di saluran air yang luas berpasir dan berkerikil, dan di sana ada sebuah tenda yang di dalamnya ada seorang laki-laki yang telah hilang kedua tangan dan kakinya dan telah berat pendengaran dan pandangannya, dan dia tidak mempunyai anggota tubuh yang bermanfaat kecuali lisannya dan dia berkata: ”Yaa Allah tunjukilah aku, agar aku terus memujimu dengan pujian yang dengannya aku bisa membalas syukur nikmat-Mu yang telah Kamu berikan kepadaku dan telah Kamu berikan keutamaan yang sempurna kepadaku atas kebanyakan makhluk yang telah Kamu ciptakan.”

Berkata Al-Auzaa’i, berkata Abdullaah, aku berkata, “Demi Allah sungguh aku akan mendatangi laki-laki ini, dan sungguh akan aku tanya kepadanya, kenapa dia berbicara seperti itu?! Pemahamankah? Atau keilmuankah ?! Atau ilham yang telah diberikan kepadanya?!” Maka aku mendatangi laki-laki ini, dan aku memberikan salam kepadanya kemudian aku berkata kepadanya: ”Aku mendengar kamu berdoa ‘Yaa Allah tunjukilah aku, agar aku terus memujimu dengan pujian yang dengannya aku bisa membalas syukur nikmat-Mu yang telah Kamu berikan kepadaku dan telah Kamu berikan keutamaan yang sempurna kepadaku atas kebanyakan makhluk yang telah Kamu ciptakan.’ Maka kenikmatan apa yang kamu dapatkan dari kenikmatan yang Allah berikan kepadamu sehingga kamu memberikan pujian kepada-Nya? Dan keutamaan apa yang telah Allah berikan kepadamu sehingga kamu bersyukur atasnya?”

“Demi Allah jika seandainya Allah mengirimkan api dari langit kemudian membakarku, dan Dia memerintahkan gunung-gunung kemudian menghancurkanku, dan Dia memerintahkan laut-laut menenggelamkanku, dan Dia memerintahkan bumi kemudian menelanku, tidaklah bertambah sesuatu apapun perasaanku untuk Rabbku kecuali bersyukur dari apa-apa yang telah Dia berikan kenikmatannya kepadaku dari lisanku ini, tetapi wahai Abdallah karena kamu telah datang kepadaku, aku mempunyai kebutuhan yang mana kamu telah melihat keadaanku, aku bukanlah orang yang mampu memberikan manfaat dan juga mencegah bahaya untuk diriku, sebelum ini anakku telah bersamaku, yang telah memperhatikanku ketika waktu shalatku. Dialah yang memberikan air wudhu kepadaku, dan jika aku lapar dialah yang menyuapiku, dan jika aku haus, dialah yang memberikan minuman kepadaku, dan aku telah kehilangannya selama tiga hari, maka tolonglah carikan kabarnya untukku Rahimakallah.”

Dan aku berkata: ”Demi Allah, tidaklah seseorang yang menolong kebutuhan manusia itu lebih besar pahalanya disisi Allah daripada seseorang yang menolong kebutuhan orang yang sepertimu.” Kemudian aku keluar mencari kabar anak muda yang diceritakan tadi, dan ketika aku belum jauh perjalananku, sampai aku diantara dua bukit pasir,ketika itu aku menemukan seorang pemuda yang telah diterkam binatang buas, dan telah dimakan dagingnya, dan aku berkata: ”Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un.” Dan aku berkata: ”Bagaimana perasaanku ketika mendatangi orang ini? Dan ketika aku berjalan menuju ketempatnya,” Tiba-tiba terdetiklah di hatiku,tentang kisah Nabi Ayyuub Alaihi Salam, dan ketika aku mendatanginya, aku memberikan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku, dan beliau berkata: ”Bukankah engkau shahabatku?”

Aku berkata: ”Benar.”

Beliau berkata: ”Apakah yang telah kau kerjakan dengan kebutuhanku?”

Aku berkata: ”Kamu yang lebih mulia di sisi Allah atau Nabi Ayyuub Alaihi Salam?”

Beliau berkata:  ”Tentu Nabi Ayyuub Alaihi Salam.”

Aku berkata:  ”Apakah kamu mengetahui apa yang Rabbnya lakukan kepadanya? Bukankah Allah telah mengujinya dengan hartanya, keluarganya dan anaknya?”

Beliau berkata: ”Benar.”

Aku berkata: ”Bagaimanakah Rabbnya mendapati dirinya?”

Beliau berkata:  ”Beliau bersabar,bersyukur dan memuji Allah.”

Aku berkata: ”Maka Allah belum ridha dengan itu darinya, sampai kerabatnya dan orang-orang yang mencintainya meninggalkannya?”

Beliau berkata: ”Benar.”

Aku berkata: ”Bagaimanakah Rabbnya mendapati dirinya?”

Beliau berkata: ”Beliau bersabar,bersyukur dan memuji Allah.”

Aku berkata: ”Maka Allah belum ridha dengan itu darinya, sampai Allah menjadikan ia sebuah tontonan bagi orang yang berjalan, apakah kamu mengetahui itu?”

Beliau berkata: ”Iya.”

Aku berkata: ”Bagaimanakah Rabbnya mendapati dirinya?”

Beliau berkata: ”Beliau bersabar, bersyukur dan memuji Allah.”

Ringkaskanlah ceritamu Rahimakallah

Aku berkata kepadanya: ”Sesungguhnya seorang pemuda yang kamu telah mengutusku untuk mencarinya, aku menemukannya di antara dua bukit pasir, dan ia telah diterkam binatang buas dan telah dimakan dagingnya, semoga Allah mengagungkan pahalamu, dan agar kamu diberikan kesabaran.”

Dan berkatalah orang diuji ini, ”Alhamdulillaah yang tidak menciptakan keturunanku dari makhluk ciptaan yang melakukan maksiat kepada-Nya sehingga Dia mengadzabnya dengan api neraka.” Kemudian beliau bekata, ”Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.” Dan beliau menarik nafas dengan tarikan yang panjang dan bersedu sedan, kemudian wafatlah beliau, dan aku berkata: ”Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun, sungguh telah besar musibahku, seorang laki-laki seperti ini jika aku tinggalkan maka akan dimakan binatang buas, dan jika aku duduk saja aku tidak mampu berbuat manfaat dan juga bahaya.”

Kemudian aku bentangkan kain diatasnya dengan pakaian sejenis jubah yang biasa dia pakai, kemudian aku duduk di sisi kepalanya dan menangis,dan ketika aku duduk, tiba-tiba masuklah 4 orang laki-laki dengan tanpa izin, dan mereka berkata: ”wahai Abdallah bagaimanakah keadaanmu? Dan apa kisahmu?”

Kemudian aku menceritakan kepada mereka kisahku dan kisahnya, kemudian mereka berkata kepadaku, ”Bukakanlah kain wajahnya untuk kami, barangkali kami mengetahuinya.” Maka ketika dibuka kain itu dari wajahnya. Maka kaum itu bersungkur kepadanya mencium kedua matanya dan yang lainnya mencium tangannya,dan mereka berkata: ”Demi ayahku, telah lama mata yang tercegah dari sesuatu yang diharamkan Allah, dan demi ayahku, tubuh yang telah lama, selalu bersujud dan manusia dalam keadaan tidur.”

Maka aku berkata: ”Siapakah orang ini yarhamukallah?” Maka mereka menjawab: ”Ini adalah Abu Qilaabah Al-Jarmi shahabatnya Ibnu Abbas Radhiallohu Anhuma, dan beliau adalah orang yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya Shalallahu Alaihi Wasallam.”

Lalu kami mandikan dan kami pakaikan kafan kepadanya dengan pakaian yang ada pada kami, dan kami menshalatinya dan menguburnya, dan pergilah orang-orang itu dan akupun pergi ketempat penambatan hewanku, maka ketika masuk gelapnya malam, dan aku menaruh kepalaku dan aku melihat seperti seseorang yang mimpi dari tidurnya, beliau berada di kebun dari kebun surga dan memakai dua pakaian dari pakaian Ahli surga dan dia membaca wahyu,

سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

Artinya: ”(Sambil mengucapkan) keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka Alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS.Ar-Ra’ad: 24)

Maka aku berkata: ”Bukankah kamu shahabatku?”

Beliau menjawab: ”Benar.”

Aku berkata: ”Bagaimana kamu mendapatkan ini?”

Beliau menjawab: ”Sesungguhnya Allah mempunyai derajat-derajat yang tidak bisa di dapatinya kecuali dengan kesabaran ketika terkena musibah, dan syukur ketika ada kelapangan,dengan perasaan takut kepada Allah dalam keadaan yang tersembunyi dan terbuka.” [29]

Abul Farj Ibnul Jauzii Rahimahullah berkata: Obat ketika menghadapi musibah itu ada tujuh,

  1. Agar dia mengetahui bahwasanya dunia itu adalah tempatnya cobaan dan kesusahan,yang tidak diharapkan peristirahatan darinya
  2. Agar dia mengetahui bahwasanya musibah itu adalah suatu ketetapan
  3. Agar dia membandingkan jika seandainya terkena musibah yang lebih besar dari musibah itu
  4. Agar dia melihat keadaan orang-orang yang terkena musibah sama sepertinya ini, maka sesungguhnya mengikuti itu adalah ketenangan yang besar
  5. Agar dia melihat keadaan orang-orang yang lebih besar terkena musibah, maka itu akan memudahkannya
  6. Mengharapkan gantinya, seandainya orang yang telah lalu itu bisa baginya untuk diganti, seperti anak dan istri
  7. Mengharapkan pahala dengan kesabaran didalam keutamaannya, dan ganjaran orang-orang yang bersabar dan kegembiraannya didalam bersabar, maka sesungguhnya naik ketingkat keridhaan itu adalah maksud dan tujuan.

Dan bisa ditambahkan dengan obat yang ketujuh ini beberapa perkara,

  1. Agar seorang hamba mengetahui bagaimanapun ketetapan itu terjadi maka itu adalah baik baginya
  2. Agar dia mengetahui bahwasanya cobaan yang besar itu adalah kekhususan untuk orang-orang pilihan
  3. Agar dia mengetahui bahwasanya dia adalah seorang hamba/sesuatu yang dimiliki,dan orang yang dimiliki itu tidak mempunyai sesuatu apapun didalam dirinya
  4. Sesungguhnya kejadian ini terjadi atas keridhaan Al-Malik, maka wajiblah bagi seorang hamba untuk ridha dengan apa-apa yang telah tuannya ridhai.[30]
  5. Menegur diri sendiri ketika berkeluh kesah yang dilarang
  6. Sesungguhnya musibah itu hanyalah sesaat seperti tidak pernah terjadi [31]

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Secara garis besarnya kebiasaan mereka (para salaf) mereka tidak pernah mengubah kebiasaan mereka ketika sebelum datangnya musibah, dan tidak pula mereka meninggalkan apa-apa yang biasa mereka amalkan, karena perbuatan ini seluruhnya menafikan kesabaran.” [32]

Dari Anas bin Maalik Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Tiga hal yang akan kepada mayyit, lalu yang dua akan kembali dan yang satu akan tinggal dengannya, yang kembali adalah keluarganya dan hartanya, dan yang akan tinggal adalah amalannya.” [33]

Dan Seorang hamba membutuhkan kesabaran di tiga keadaan

  1. Sebelum memulai ibadah dengan memperbaiki niat dan keikhlasan,dan mengikat kuat keinginan untuk melaksanakan perintah dengannya dan menjauhkan diri dari sebab-sebab riya dan sum’ah
  2. Bersabar ketika beramal, senantiasa bersabar ketika ada sesuatu sebab kelalaian dan melampaui batas, dan senantiasa agar menyertakan diri untuk mengingat niat dan menghadirkan hati disisi Allah Azza Wa Jalla dan dia membutuhkan kesabaran, untuk menunaikan rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, kewajiban-kewajibannya dan sunah-sunahnya
  3. Bersabar setelah selesai dari beramal, maka baginya agar hati-hati untuk tidak melakukan sesuatu yang membatalkannya Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Maka bersabar untuk menjaganya setelah selesai dari beramal itu adalah sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, ini adalah ma’na dari apa yang telah disebutkan Syaikh Al-Islam.

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: Dan segala sesuatu yang akan ditemukan seorang hamba ditempat ini (dunia)tidak akan lepas dari dua macam;

  1. Sesuai hawa nafsu dan keinginannya
  2. Tidak sesuai hawa nafsu dan keinginannya dan itu butuh kesabaran di dalam dua macam ini

Adapun macam yang sesuai dengan apa yang dia inginkan, seperti kesehatan, keselamatan, kedudukan, harta dan beberapa macam kenikmatan yang diperbolehkan dan dia lebih butuh kepada kesabaran didalamnya dari beberapa sisi;

  1. Agar dia tidak cenderung dan condong kepadanya,dan agar dia tidak tertipu dengannya,dan ini tidak membawanya kepada kesombongan,dan kesenangan yang dihina yang Allah Azza Wa Jalla tidak menyukai pelakunya
  2. Agar dia tidak bersungguh-sungguh dan keasyikan ketika mencarinya,dan janganlah berlebih-lebihan didalam menyalurkannya,maka sesungguhnya itu akan merubah kepada kebalikannya,barang siapa yang berlebih-lebihan didalam hal maksayan,minuman,dan jima’ itu akan berubah menjadi kebalikannya,dan diharamkanlah maksayan,minuman dan jima’,[34]
  3. Agar dia bersabar untuk menunaikan hak-hak Allah didalamnya dan janganlah dia mengabaikannya kemudian meniadakannya
  4. Agar dia bersabar untuk tidak menggunakannya didalam keharaman, dan janganlah dia memberikan kekuasaan kepada jiwanya dari setiap apa-apa yang dia inginkan darinya, maka sesungguhnya itu akan membawanya kepada keharaman, lalu jika dia terjaga dia akan terjatuh kedalam perbuatan yang makruh, dan tidaklah seseorang itu bersabar pada waktu kemakmuran kecuali orang-orang yang benar dan jujur

Sebagian salaf berkata: “Orang mukmin dan kafir akan bersabar atas ujian tetapi tidak ada orang yang bersabar di dalam kelapangan hidup kecuali orang-orang yang benar dan jujur.”

Adapun macam yang kedua: Yaitu ketaatan, maka seorang hamba itu butuh kepada kesabaran di dalam mengerjakannya, karena tabiatnya jiwa itu berpaling dari kebanyakan perbuatan ibadah, kecuali orang-orang yang diberikan taufiq oleh Allah, dan itu akan jelas dengan shalat, maka tabiatnya jiwa adalah bermalas-malasan di dalamnya dan mendahulukan istirahat, dan juga zakat maka tabiatnya jiwa di dalamnya adalah kikir dan pelit. Adapun berpuasa maka tabiatnya jiwa di dalamnya menginginkan tidak berpuasa dan tidak merasakan kelaparan, dan untuk ini maka bandingkanlah. Maka sesungguhnya dia butuh kepada kesabaran di seluruh perbuatannya itu. Wallahu a’lam

Dan ini termasuk dari bab perkataanya ‘Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘Anhu: “Kami diuji dengan kesulitan maka kami bersabar, dan kami diuji oleh kelapangan hidup maka kami tidak bersabar.” [35]

Dan yang terakhir,

‘Ubaid bin ‘Umair Rahimahullah berkata: Dahulu ada seorang lelaki yang mempunyai tiga shahabat karib, sebagiannya mempunyai sifat yang lebih khusus dari pada yang lainnya, lalu dia terkena musibah, dan dia menemui dari tiga shahabatnya yang paling khusus dengannya, kemudian dia berkata: “Wahai fulan aku telah terkena musibah ini dan itu, dan sesungguhnya aku sangat senang jika kamu menolongku.” Maka dia berkata: “Aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Lalu pergilah dia ke shahabat karib lainnya yang mempunyai kekhususan. Kemudian dia berkata: “Wahai fulan, aku telah terkena musibah ini dan itu, dan sesungguhnya aku sangat senang jika kamu menolongku.” Maka dia berkata: “Pergilah kamu bersamaku sehingga kamu sampai ke tempat yang kamu tuju,  jika kamu telah sampai maka aku akan kembali dan meninggalkanmu.”

Lalu dia pergi ke tempat yang paling jauh dari yang tiga shahabat ini, kemudian dia berkata: “Wahai fulan aku telah terkena musibah ini dan itu, dan sesungguhnya aku sangat senang jika kamu menolongku.” maka dia berkata: “Aku akan pergi bersamamu kemana saja kamu pergi, dan aku akan berlabuh kemana saja kamu berlabuh.” ‘Ubaid bin ‘Umair Rahimahullah berkata: “Yang pertama itu adalah hartanya, yang dia wariskan kepada keluarganya dan tidak ada sedikitpun darinya yang mengikutinya, dan yang kedua adalah keluarganya dan kerabat dekatnya, mereka pergi kekuburannya bersamanya kemudian mereka kembali lagi dan meninggalkannya, dan yang ketiga adalah amalannya, sesungguhnya dia bersamanya kemana saja dia pergi dan kemana saja dia berlabuh.” [36]

Untuk itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Maka berlomba-lombalah kalian dalam berbuat kebaikan. Di mana saja kalian berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya: ”Dan untuk yang demikian itu hendaknya berlomba-lombalah orang yang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifiin: 26)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ, لِمِثْلِ هَٰذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ

Artinya: “Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” (QS. Ash-Shaaffaat: 60-61)

Dan barang siapa yang tidak beramal maka nasabnya tidak akan membantunya.

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengikuti mereka dan berjalan diatas jalan yang mereka berjalan di atasnya Radhiyallahu ‘Anhum wa Rahimahumullaah ‘Ajma’iin. Dan memberikan kita kemudahan untuk bersabar di dalam segala macamnya. Aamiin…

Abu Bakr Fahmi Abu Bakar Jawwas

Yang mengharapkan rahmat dan ridho Rabbnya

Daarul Hadits Syiher Hadramaut Yaman Sabtu 4 Jumaadal Akhir 1432 atau bertepatan dengan Tanggal 7-5-2011

Footnote:

[1]. Tafsiir Ibnu Katsiir 3/178

[2]. Lihatlah di dalam arti bahasa untuk Al-Ibtilaa Ahmad bin Faaris Maqaayiis Al-Lughah 1/292

[3]. Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an 2/175

[4]. Hilyah Al-Auliyaa’ 4/63

[5]. Zaadul Ma’aad 4/195

[6]. Yang benar dalam permasalahan ini adalah dirinci seperti yang dilakukan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin Rahimahullah sendiri di Al-Qaul Al-Mufiid ‘Ala Kitaab At-Tauhiid bab Minal Iimaan Billaah Ash-Shabru ‘Ala Aqdaarillaah, dan juga berkata Asy-Syaikh Shaalih bin Abdil Aziiz Aalu Asy-Syaikh Hafidzahullaah: ”Derajat yang kedua adalah ridha berkata Rahimahullah (Syaikh Al-Islam- pent) bahwasanya Ridha itu dikatakan wajib dan dikatakan juga mustahab, ini adalah dua pendapatnya Ahlil Ilm, dari mereka ada yang mengatakan bahwasanya ridha itu wajib dan dari mereka ada yang mengatakan bahwasanya ridha itu mustahab, dan yang benar adalah bahwasanya ridha tidak dikatakan wajib dan tidak pula mustahab, tetapi dia mempunyai dua sisi pandangan:

  1. Ridha dengan perbuatan Allah Azza wa Jalla dan itu adalah ketentuan-Nya dan keputusan-Nya maka itu adalah wajib, karena ridha dengan sifat Allah dan apa yang diperbuatnya adalah wajib
  2. Ridha dengan apa yang telah ditakdirkan atau yang ditentukan maka ini adalah mustahab (At-Ta’liiqaan Al-Hisaan ‘Ala Kitaab Al-Furqaan) dan Syaikhunaa Abdullaah Al-Mar’ii Hafidzahullaah juga berpendapat seperti ini

[7]. HR.Muslim dari Abi Hurairah Radhiallohu Anhu no 2963

[8]. HR.Thobrani dari saudarinya Hudzaifah Radhiallohu Anhuma dan dishaihkan Syaikh Albani Rahimahullaah di Shahiih Al-Jaami’ no 994

[9]. Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ 5/395-396

[10]. Haasyiyah Kitaab At-Tauhiid bab Minal Iimaan Billaah Ash-Shabru ‘Ala Aqdaarillaah

[11]. Shahiih ssayadnya sampai ke ‘Alqamah Rahimahullah diriwayatkan oleh Thabari di dalam Tafsirnya di surat At-Taghaabun ayat: 11, dan ‘Abdurrazzaaq di dalam Tafsirnya, 2/295 dari jalan A’masy dari Abi Dhabyaan dari ‘Alqamah. Dan A’masy telah melakukan ‘An’anah tetapi ‘An’anahnya tidak membahayakan seperti yang dirojihkan Ahmad, Ya’quub Al-Fasawi, dan dari ulama abad ini Syaikh Muqbil Al-Waadi’i Rahimahumullaah Al-Jamii’

[12]. Majmu’ Al-Fataawa,28/442

[13]. HR Muslim 7500 dan Ahmad 18939

[14]. HR.Bukhari 5645 dan Ahmad 7235

[15]. HR.Tirmidzi 4/601 no 2396 dan Hakim 4/651 no 8799 dan dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Ash-Shahiihah 1220

[16]. HR.Bukhari di Adab Al-Mufrad di shahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Shahiih Adab Al-Mufrad bab Kaffaaratil Mariidh 1/196 dan dishahihkan Syaikh Muqbil Al-Waadi’i Rahimahullah di Shahiih Al-Musnad 2/385

[17]. HR.Ibnu Majah dan dishahiihkan Syaikh Albani Rahimahullah Silsilah Ash-Shahiihah no 144, dan di shahiikan Syaikh Muqbil Al-Waadi’i Rahimahullah di Tuhfah Al-Mujiib 390

[18]. HR.Bukhari 5641-5642, Muslim 6568 dan Ahmad 8027

[19]. Diriwayatkan oleh Ad-Dailami 1/1/128, dan Bukhari di Tarekh Al-Kabiir 5/25 dari ‘Ubaid bin Umair dari ayahnya Radhiallohu Anhu dihasankan Syaikh Albani Rahimahullah di Silsilah Ash-Shahiihah 3/489 no 1495

[20]. HR.Bukhari no 6469 bab Ash-Shabru ‘An Mahaarimillaah

[21]. Mawa’idz Al-Hasan Al-Bashri,158

[22]. Mawa’izd Al-Hasan Al-Bashri,62

[23]. Tafsiir Ibnu Katsiir,3/489 dan Mawa’izh Sufyan Ats-Tsauri,81

[24]. Al-Fawaa’id Libnil Qayyim,283

[25]. Siyar A’laam An-Nubalaa’,8/434

[26]. Hilyah Al-Auliyaa’,2/352

[27]. Tafsiir Ibni Abi Haatim,9/207 no 13882

[28]. Beliau adalah seoarang ahli ibadah dan ahli zuhud yang berasal dari Bashrah dan beliau meriwayatkan hadits dari Anas bin Maalik dan Maalik bin Al-Huwairits, dan diriwayatkan hadits darinya Ayyuub dan Khaalid, wafat di Syaam pada tahun 104 H pada masa kerajaan Yaziid bin Abdil Maalik. Ats-Tsiqaat Libni Hibbaan baab Al-‘Ain,5/2-3

[29]. Ats-Tsiqaat Libni Hibbaan baab Al-‘Ain,5/3-5

[30]. Tidak semua kejadian itu diridhai oleh Allah,seperti kafirnya fir’aun, Allah tidak meridhainya dan terjadi maka ini adalah Al-Qadhaa’ Al-Kaunii, adapun yang diridhai oleh Allah adalah Al-Qadha Asy-Syar’ii seperti Islamnya Umar bin khaththab Radhiyallahu Anhu, dan ridha juga atas musibah itu adalah ada perinciannya seperti yang telah lewat di footnote no [8]

[31]. Tasliyatu Ahlil Mashaa’ib,29

[32]. ’Uddatush Shaabiriin,100

[33]. HR.Bukhari 8/134,Muslim 8/211,Ahmad 3/110,Tirmidzi 2379 dan An-Nasaa’i 4/53

[34].

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Dan Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-‘Araaf: 31)

Berkata Syaikh Abdullaah Al-Mar’ii Hafidzahullaah, “Perbedaan antara Al-Israaf dan At-Tabdziir adalah jika Al-Israaf itu berlebih-lebihan yang asalnya dari sesuatu yang diperbolehkan dan At-Tabdziir itu berlebih-lebihan yang asalnya dari sesuatu yang tidak diperbolehkan.”

[35]. Tasliyatu Ahlil Mashaa’ib,faslun fil haalaatil latii yahtaaju fiihal ‘abdu ila ash-shabri 185

[36]. Hilyatul Auliyaa’, 3/269

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s