Yaa Allah Selamatkanlah Bangsaku

Hanya dengan mengharap keridhaanMu yaa Allah, kami menulis risalah singkat ini semoga menjadi timbangan kebaikan bagi penulis kelak di hari ditimbangnya amal.

Para pembaca yang mulia, sudah bukan perkara aib lagi yang sering kita dengar dengan telinga kita, berupa hujatan, cacian, makian, bahkan laknat dan sumpah serapah yang diarahkan penguasa negeri ini. Alasannya bermacam-macam, ada yang menyatakan penguasa kurang cepat dalam menangani semua masalah-masalah negara, lambat dan lembek, ada yang menyatakan kemiskinan dan penderitaan rakyat semakin bertambah sedangkan pejabat dan penguasa semakin bertambah pula harta dan bendanya, ada juga yang mengatakan; “Maka hal ini tidak boleh dibiarkan, kita harus berusaha untuk mengadakan perubahan kalau kita hanya pasrah dan patuh serta taat kepada penguasa dzalim ini maka penderitaan dan kesengsaraan tidak akan pernah berujung.” Dan agar lebih bisa menguatkan pernyataannya maka disertakan dalil dari Al-Qur’an agar perbuatan mereka itu nampak lebih ilmiah, dimana Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Kendati ayat ini sudah sangat jelas dan tidak perlu penafsiran lagi, ternyata ada mayoritas orang yang menamakan dirinya sebagai harakah Islam (pergerakan Islam) tetap menggunakan rasio (akal) untuk mencari jawabannya. Sampai-sampai mereka berkata: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah pemerintah mereka.”

Laa haula walaa quwwata illa billah! Seakan-akan mereka menutup mata terhadap siroh Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ayat ini dengan rinci. Mereka mengabaikan bahwa sesungguhnya mereka tidak akan jaya hingga menjadikan agama ini sebagai hakim bagi diri mereka sendiri. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar radhiallohu ‘anhu, dimana Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (riba), memegang ekor sapi (sibuk dengan ternak-ternak) dan kalian meninggalkan jihad fii sabilillah, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan dan tidak akan terlepas darimu hingga kamu kembali kepada ajaran agama kalian.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, lihat Ash-Shahihah no. 11). Itulah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya…

Saudara-saudaraku yang budiman, berhati-hatilah, jangan sampai menolak kebenaran karena mengkambinghitamkan realita yang ada, atau menolaknya karena terpedaya oleh pengalaman atau hanya karena memuaskan kepicikan akal. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan bahwa tiada yang dapat berkuasa, memerintah, menciptakan keamanan dan meraih kemenangan kecuali dengan bantuan umat? Umat yang manakah itu? Umat itu adalah ahli ibadah, dan memiliki tauhid yang murni. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)

Dalam ayat yang lainnya Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,” (QS. An-Nisa’: 105)

Para pembaca yang mulia, agar risalah ini tidak dianggap hanya keluar dari pendapat penulis, maka kita akan nukilkan hadits Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu tentang kisah kedzaliman di masa pemerintahan Hajaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Berikut haditsnya:

Dari zubairi bin ‘Adi ia berkata: “Kami mendatangi Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu dan mengadukan penderitaan yang kami alami dari kekejaman Hajaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Kemudian Anas menjawab: “Bersabarlah kamu semua, sesungguhnya akan datang suatu masa dimana penderitaan lebih berat sehingga kalian bertemu Tuhanmu (meninggal dunia). Saya mendengar dari Nabi kalian sholallohu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits  yang mulia ini dijelaskan oleh para ‘ulama, bahwa Zubair bin ‘Adi datang kepada Anas bin Malik. Beliau mengeluhkan tentang penderitaan yang dialaminya karena kekejaman penguasa Hajaj bin Yusuf, salah seorang penguasa bani Umayyah yang terkenal sebagai penguasa yang dzalim, penumpah darah, diktator, bengis dan kejam. Dialah Hajjaj bin Yusuf yang mengepung kota Mekkah untuk membunuh ‘Abdullah bin Zubair dan melempar Ka’bah dengan tombak hingga merusakkan sebagiannya. Dia juga menganiaya manusia. Oleh karena itu manusia datang kepada Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu untuk melaporkan hal tersebut kepada Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu, sisa shahabat Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam yang masih hidup pada masa itu. Maka kata Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu, “Bersabarlah…”. Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu memerintahkan kepada mereka untuk bersabar dalam menghadapi kekejaman pemimpin mereka itu karena pemimpin yang dzalim yang mengusai manusia itu disebabkan oleh kedzaliman manusia itu sendiri. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129)

Jika kamu melihat pemimpin yang berbuat dzalim kepada manusia baik pada harta maupun badan mereka atau menghalangi mereka dari berdakwah menuju Allah dan sebagainya, maka renungkanlah keadaan manusia itu sendiri. Mereka sendirilah yang telah tersesat sehingga Allah menguasakan kepada mereka seorang penguasa yang dzalim.

Dijelaskan bahwa sebagian khalifah Bani Umayyah yaitu Abdul Malik bin Marwan, dia mengumpulkan orang-orang besar dan dia berkata kepada mereka; “Wahai manusia, apakah kalian ingin kami berlaku seperti Abu Bakar dan Umar?” Mereka menjawab: “Benar, kami ingin seperti itu.” Maka khalifah berkata: “Jadilah kalian seperti orang-orang yang dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, agar kami bisa berlaku kepada kalian seperti Abu Bakar dan Umar.”

Yakni manusia biasanya mengikuti agama pemimpin mereka. Jika pemimpin berbuat dzalim kepada manusia, maka biasanya disebabkan karena amal perbuatan manusia atau rakyat itu sendiri.

Seorang khawarij datang kepada Ali bin Abi Thalib radhiallohu ‘anhu seraya berkata: “Mengapa banyak orang yang menentangmu, sementara mereka tidak menentang Abu Bakar dan Umar?” Maka Ali radhiallohu ‘anhu menjawab: “Karena rakyat yang dipimpin Abu Bakar dan Umar adalah saya dan orang-orang seperti saya. Sedangkan, rakyat yang saya pimpin adalah kamu dan orang-orang seperti kamu.” (Khawarij/pemberontak)

Ini artinya, jika manusia berbuat dzalim maka mereka akan dipimpin oleh orang-orang yang dzalim pula. Maka dari itu Anas bin Malik radhiallohu ‘anhu berkata “Bersabarlah…” itulah yang harus dilakukan. Manusia harus bersabar dan setiap bencana pasti ada jalan keluarnya. Jangan mengira bahwa segala sesuatu itu datang dengan mudah. Keburukan mungkin datang secara mendadak dan pergi dengan cepat. Akan tetapi, hal semacam itu tidak banyak membawa kebaikan wahai para pembaca yang mulia.

Marilah kita renungkan, bagaimana keadaan umat Indonesia ini. Lihatlah agama mereka, lihatlah aqidah mereka, lihatlah ibadah mereka, lihatlah manhaj mereka, niscaya akan kita dapatkan betapa lemah akidah mereka, betapa lemah ibadah mereka, dan betapa lemah agama mereka.

Bukankah kita masih menjumpai kesyirikan yang merajalela di bumi pertiwi ini? Kebid’ahan berkembang pesat, kemaksiatan dan pelanggaran syari’at kita jumpai di mana-mana, bukankah mereka juga harus diperbaiki? Bukankah mereka juga harus direformasi? Atau hanya penguasa saja yang harus direformasi? Maka jawabannya kita serahkan kepada diri kita sendiri. Selama masih tersisa di dalam hati hamba itu sifat fithrahnya yang masih suci, tentu akan ketemu jawabannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Adib hafidzhohullohu Ta’ala

Maraji’: Syarah Riyadhush Shalihin

Sumber: Buletin Istiqomah edisi 67 diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta.

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s