Tujuh Cara Jitu Merealisasikan Taqwa

Tidak akan tercipta kemajuan untuk umat ini, kecuali apabila mereka (para pemuda) bahu-membahu dan saling tolong-menolong untuk menciptakan persatuan, kemajuan, dan kebahagiannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali-Imran: 103)

Mereka bersenjata dengan ilmu pengetahuan. Mereka melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, dan mereka berhenti dari yang dilarang Allah dan RasulNya. Kerena, kebahagiaan secara total itu berada pada ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya: “Barangsiapa menaati Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 71)

Dan kesengsaraan yang hakiki ada pada bermaksiat kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah Ta’ala,

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Artinya: “Barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Menaati Allah dan RasulNya dapat terealisasi dengan perkara-perkara berikut:

1. Mengikhlaskan agama dan amal untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya pada perkataan, aqidah, perbuatan, cinta, benci, berbuat, dan meninggalkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.” (QS. Al-An’am: 162)

2. Memperhatikan Al-Qur’anul Karim dengan membaca, menghafal, mentadabburi, menafsirkan, dan mengamalkannya karena ia adalah sebaik-baik kitab yang diturunkan kepada sebaik-baik Rasul, utusan kepada sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia dengan syariat yang paling utama, paling toleran, paling mulia, dan paling sempurna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu  jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Dan dalam hadits shahih disebutkan:

خيركم من تعلم القرآن و علمه

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)

3. Memperhatikan sunnah yang suci dan sirah (sejarah) Nabi yang harum karena pada sunnah dan sirah tersebut terdapat pelajaran dan ibrah bagi kita dan juga pada keduanya ada suri teladan yang baik bagi kita; bagi orang yang mengaharpkan Allah dan hari akhir sedang ia banyak berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Shalallohu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda,

لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به

“Seorang dari kamu tidak akan sempurna imannya hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Berkata Nawawi, “Hadits hasan shahih diriwayatkan kepada kami dalam kitab Al-Hujjah dengan isnad yang shahih.”)

4. Menjaga shalat fardhu yang lima pada waktunya (secara berjamaah bagi laki-laki) karena ia adalah tiang agama, penghubung kepada Rabb semesta alam, dan pembeda antara Islam dengan kekufuran.

5. Menjaga dan mempergunakan waktu untuk perkara yang bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’anul Karim, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, mengunjungi saudara-saudara yang dicintai karena Allah dan di jalan Allah, dan menjaga waktu dari yang mendatangkan mudharat berupa beragam permainan/ senda gurau serta bermacam-macam perkara yang melalaikan. Kemudian memperhatikan muraqabatullah (merasa selalu diawasi Allah), pantauan Allah dalam perdagangan, perindustrian, pertanian, kepegawaian dan di dalam semua bidang usaha, waktu, dan tempat karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melihatmu, mendengarmu, dan mengetahui apa yang disembunyikan hatimu, dan engkau akan ditanyai tentang waktumu, di mana kamu habiskan. Nafas itu terbatas dan dapat dihitung, maka manfaatkanlah hidupmu yang berharga dan jagalah waktumu yang berharga, jangan disia-siakan semua itu tanpa amal dan janganlah kamu abaikan umurmu pergi tanpa ada ganti karena sesungguhnya kamu akan ditanyai tentangnya dan akan dibalas terhadap apa yang kamu kerjakan pada umurmu itu.

6. Memilih sahabat yang shaleh dan teman dekat yang gemar memberikan nasehat, yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya, mengetahui yang bathil dan menjauhinya. Dan seseorang itu dapat diketahui melalui sahabat karibnya dan seseorang itu akan mengambil cara beragama sesuai dengan agama teman kesayangannya. Oleh karena itu, hendaklah memperhatikan siapa yang akan dia jadikan teman, dan engkau akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama oarang yang engkau cintai. Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia bagian dari mereka. Serang bijak telah berkata, “Beritahu saya siapa temanmu, niscaya saya akan tahu, siapa kamu sebenarnya.”

Berkata salah seorang penyair:

Pilihlah di antara para sahabatmu yang selalu menunjuki kepada kebaikan, sesungguhnya seseorang akan mencontoh teman karibnya. Bila kamu tidak mau, maka terserahlah padamu. Tapi (sekali lagi) janganlah kamu temani orang buruk (perangainya), niscaya kamu akan menjadi buruk bersamanya.

7. Mengamalkan syiar-syiar Islam yang lahir dan batin; perkataan, aqidah, dan perbuatan. Dan di antara yang paling utama dari hal itu adalah iman kepada ketentuan Allah yang baik dan yang buruk, beriman kepada hari berbangkit, pembalasan, pahala dan siksa, serta surga dan neraka. Dan merealisasikan kalimat “Laa Ilaaha Illallah Wa Muhammadun Rasulullah” dengan mengetahui maknanya, mengamalkan tuntunan-tuntunannya, dan melaksanakan syarat-syaratnya. Dan mendirikan shalat yang lima pada waktunya dengan berjamaah bagi laki-laki, menunaikan zakat mal kepada yang berhak, menjaga puasa Ramadhan, berhaji ke Baitul Haram, jihad memerangi orang-orang kafir dan orang-orang munafik serta keras terhadap mereka, berbakti kepada kedua orang tua, taat kepada mereka dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah, menyambung silaturrahim kepada kerabat dan berbuat baik terhadap mereka, berbuat baik kepada tetangga, tidak menyakiti mereka, mencintai orang yang taat kepada Allah, membenci orang yang durhaka kepada Allah, loyal kepada orang yang membela Allah, dan memusuhi orang yang memusuhi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Yang demikian itu adalah ikatan iman yang paling kuat, amal yang paling dicintai Allah. Juga menjauhi perkara yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya berupa makanan, minuman, pakaian, permainan yang diharamkan, tidak tasyabuh/ menyerupai; laki-laki menyerupai perempuan, perempuan menyerupai laki-laki dan tidak menyerupai orang-orang kafir dalam memberi ucapan selamat, berpakaian serta pada yang lainnya, yang menjadi kekhususan mereka.

Secara umum, berpegang teguh dengan mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan ibadah-ibadah sunnah/mustahab, meninggalkan segala yang diharamkan dan yang makruh, baik perkataan dan perbuatan, karena perkara yang halal itu jelas dan perkara yang haram itu juga kelas. Perkara yang halal adalah segala sesuatu yang dihalalkan oleh Allah dan RasulNya dan perkara yang haram adalah segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaab atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Sungguh Allah telah menghalalkan segala yang baik dan bermanfaat. Dia telah menciptakan untuk kita semua yang ada di bumi untuk kita manfaatkan dan Dia telah mengharamkan segala yang khabits (buruk), yang membahayakan tubuh kita, kesehatan, akal, dan harta kita sebagai rahmat dan kebaikan untuk kita.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)

Maka hanya milik Allah semata segala pujian, syukur, dan sanjungan seberat ‘ArsyNya, seluas keridhaanNya, sebanyak makhlukNya, dan sejumlah kata-kataNya, di awal dan di akhir, lahir dan batin, dan semoga Allah melimpahkan shalawat kepada hamba dan RasulNya, Muhammad Shalallohu ‘Alaihi Wa Sallam, keluarganya, dan semua sahabatnya.

——-

Salamku teruntuk pemuda Islam

Aku hadiahkan kepada para pemuda

Salam pemuliaan

Mereka yang merupakan tabungan berharga

Dan simpanan untuk kampung kehidupan

Bukanlah sahabat Nabi Muhammad

Melainkan para pemuda hebat

Yang memiliki pendirian kuat

Wahai para pemuda

Generasi dan benteng agama

Aku hadiahkan padamu ketulusan cinta

Dalam bait-bait syairku yang sederhana

Siapa saja yang menjadikan iman panduannya

Niscaya ia akan bahagia lagi mulia

Di dunia dan di akhirat begitu juga…

(seorang penyair)

Dari buku Jadilah Pemuda Surga judul asli Dauru Asy-Syabaabul Islaam fi Al-Hayaati karya Syaikh Abdullah bin Jarullah. Penerbit Kampung Ilmu.

One thought on “Tujuh Cara Jitu Merealisasikan Taqwa

  1. Ping-balik: Tujuh Cara Jitu Merealisasikan Taqwa « موقع الصغير

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s