Hadits Niat

عن أمـيـر المؤمنـين أبي حـفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عـليه وسلم يـقـول : إنـما الأعـمـال بالنيات وإنـمـا لكـل امـرئ ما نـوى . فمن كـانت هجرته إلى الله ورسولـه فهجرتـه إلى الله ورسـوله ومن كانت هجرته لـدنيا يصـيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه. (رواه إمام المحد ثين أبـو عـبـد الله محمد بن إسماعـيل بن ابراهـيـم بن  المغـيره بن بـرد زبه البخاري الجعـفي، وابـو الحسـيـن مسلم بن الحجاج  بن مـسلم القـشـيري الـنيسـابـوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفه)

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiallohu ‘anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan rasulNya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan RasulNya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Bukhari, Jami’ush Shahih, no. 45,163; Muslim, Jami’ush Shahih, no. 1907)

Semuanya melalui jalur sahabat nabi yang sama yakni ‘Umar bin Al-Khattab radhiallohu ‘anhu. Beliau menggunakan kata sami’tu (aku mendengar) yang menunjukkan bahwa beliau mendengar hadits ini secara langsung dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara.

A. Penjelasan makna kata per kata hadits

Pertama:

عن أمـيـر المؤمنـين أبي حـفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال

“Dari Amirul Mu’minin Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiallohu ‘anhu, dia berkata:”

Amirul Mu’minin artinya pemimpin orang-orang beriman, yakni orang yang mengurus berbagai urusan (al-umur) kaum beriman yang berada dalam jangkauan wilayah kekuasaannya. ‘Umar bin Al-Khattab radhiallohu ‘anhu adalah orang pertama yang dipanggil dengan sebutan gelar ini. Orang pertama yang memanggilnya dengan sebutan ini adalah Abdullah bin Jahsy, dan menurut riwayat lainnya adalah Amr bin Al-‘Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Sejak itu panggilan Amirul Mu’minin menjadi panggilan baku bagi khalifah (pemimpin) selanjutnya.

Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab adalah (sebagaimana keterangan Imam As-Suyuthi dalam Tarikhul Khulafa’), beliau adalah ‘Umar bin Al-Khattab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ai. Dialah Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Al-Qursyi Al-‘Adawi Al-Faruq.

Beliau ‘Umar bin Al-Khattab masuk Islam tahun ke-6 masa kenabian. Saat usianya 27 tahun sebagaimana kata Imam Adz-Dzhahabi. Imam An-Nawawi mengatakan ‘Umar bin Al-Khattab dilahirkan 13 tahun setelah peristiwa gajah (tahun gajah). Dia berasal dari suku Quraisy yang paling mulia. Beliau termasuk generasi awal masuk Islam setelah 40 laki-laki dan 11 wanita. Ada juga yang mengatakan setelah 39 laki-laki dan 23 wanita, dan ada juga yang mengatakan setelah 45 laki-laki dan 11 wanita. Setelah keislaman ‘Umar radhiallohu ‘anhu, kaum muslimin di Mekkah senantiasa berjaya dan mereka berbahagia dengan keislamannya.

Dia adalah salah seorang sahabat nabi yang paling utama, salah seorang yang dikabarkan dijamin masuk surga, dan salah seorang khalifatur rasyidin. Beliau meriwayatkan hadist dari nabi sebanyak 539 buah. (Imam As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 89)

Kedua:

سمعت رسول الله صلى الله عـليه وسلم يـقـول

“Aku mendengar Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda”

Ucapan ‘Umar radhiallohu ‘anhu, sami’tu (aku mendengar) menunjukkan bahwa hadits ini didengarnya secara langsung dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara orang lain. Hal ini ditegaskan oleh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, “Ucapan ‘Aku Mendengar’ merupakan dalil bahwa ‘Umar radhiallohu ‘anhu mengambil hadits ini dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan tanpa perantara. Mengagumkannya adalah bahwa hadits sepenting ini tidak ada sahabat yang meriwayatkannya dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam kecuali ‘Umar radhiallohu ‘anhu. Tetapi hadits ini memiliki syawahid (banyak saksi/penguat) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syarh Arba’in Nawawiyah Hal. 3)

Ketiga:

إنـما الأعـمـال بالنيات

“Sesungguhnya amal itu hanyalah beserta niat”

Kata innama adalah –sebagaimana kata para ulama muhaqqiq (peneliti)- Lil-Hashr للحصر yakni sebagai pembatas. Sehingga bermakna ‘Sesungguhnya hanyalah’. Sebagai itsbat (penetapan) hukum dari hal yang disebutkan setelahnya.

Dengan kata lain tidak ada amal kecuali dengan niat. Jika dikatakan: Zaidun Qaaimun (Zaid sedang berdiri). Maka ini tidak ada pembatasan, bisa saja Zaid berdiri sambil makan, bersandar, atau aktifitas lainnya. Tetapi jika dikatakan Innama Zaidun Qaaimun (Sesungguhnya Zaid hanyalah sedang berdiri), maka ini sudah ada pembatasan, tidak yang lainnya.

Al-A’mal adalah jamak (plural) dari ‘amal (perbuatan), sebagai kelanjutan dan ikrar dari niat. Al-A’mal mencakup berbagai bentuk perbuatan, baik secara hati, lisan, dan jawarih (anggota badan). Amal hati adalah seperti tawakkal kepada Allah, kembali, bersandar, berharap dan takut kepadaNya. Amal lisan seperti berbicara dan makan. Amal jawarih seperti perbuatan tangan, kaki, indra dan yang semisalnya.

Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id mengatakan, “Yang dimaksud Al-A’mal adalah amal-amal syar’i. Artinya amal perbuatan tersebut tidaklah cukup dengan tanpa niat, seperti wudhu, mandi junub, tayammum, demikian juga shalat, zakat, puasa, haji, I’tikaf, dan semua ibadah. Sedangkan menhilangkan najis tidaklah membutuhkan niat, karena itu merupakan pembahasan at-tarku (meninggalkan perbuatan), dan meninggalkan perbuatan tidaklah membutuhkan niat. Segolongan manusia berpendapat sahnya wudhu dan mandi junub walau tanpa niat.”

An-Niyyat (dengan huruf Ya’ ditasydidkan) adalah jamak dari niyyah yang bermakna ‘azmul qalbi (tekad di hati). Dia juga bermakna Al-Qashdu (maksud). Secara syariat menurut Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin niat bermakna,

العزم على فعل العبادة تقربا إلى الله تعالى، ومحلها القلب، فهي عمل قلبي ولاتعلق للجوارح بها

“Tekad (keinginan kuat) untuk melaksanakan ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala letaknya di hati, dan dia termasuk amal hati yang tidak tergantung dengan perbuatan anggota badan.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah hal. 4-5)

Maka, amal perbuatan dikatakan SAH sebagai perbuatan, jika dibarengi niat untuk melaksanakannya. Tanpa niat, itu dinamakan ketidaksengajaan, rekayasa atau sandiwara. Walau secara lahiriyah juga nampak adanya perbuatan tersebut.

Tidak dinamakan shalat orang yang melakukannya tanpa niat, walau lahiriyahnya menampakkan dia sedang shalat. Tidak dinakaman masuk Islam bagi orang kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadat, jika melaksanakannya tanpa niat untuk itu, melainkan sekedar tuntunan seknario di film.

Keempat:

وإنـمـا لكـل امـرئ ما نـوى

“Dan setiap manusia mendapatkan apa-apa yang sesuai yang diniatkan.”

Maksudnya, hasil akhir yang didapatkan seseorang dari perbuatannya tergantung dari niat apa di balik perbuatannya itu, dia tidak akan mendapatkan selain yang diniatkannya.

Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr hafidzhohullah mengatakan, “Barangsiapa yang datang ke masjid untuk shalat, atau untuk menghadiri shalat berjama’ah, atau mencari pahala dengan berdzikir dan membaca Al-Qur’an, maka dengan ini dia akan mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya. Ada pun yang masuk ke masjid untuk melakukan amal yang tidak ada kaitan dengan perkara agama dan ketaatan, maka dia mendapatkan sesuai yang diinginkannya itu, dan tidak mendapatkan pahala.” (Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, Syarh Sunan Abi Daud, no. 066)

Kelima:

فمن كـانت هجرته إلى الله ورسولـه فهجرتـه إلى الله ورسـوله

“Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hujrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya.”

Kalimat ‘faman’ (maka barangsiapa), secara  khusus yang dimaksud dalam hadits ini adalah seorang laki-laki yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah bukan karena mencari keutamaan hijrah, tetapi karena mengincar seorang wanita yang ingin dinikahinya. Berkata Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id, “Mereka meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang berhijrah dari Mekkah menuju Madinah, dengan hijrahnya itu dia tidak menghendaki keutamaan hijrah. Dia hanya menghendaki agar dapat menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais.” (Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id, Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)

Sehingga di dalam sejarah, laki-laki tersebut dikenal dengan sebutan Muhajir Ummu Qais.

Walaupun sababul wurud hadist ini karena laki-laki tersebut, namun nilai dan hukum yang terkandung di dalamnya juga berlaku  bagi manusia lain secara umum. Hal ini sesuai kaidah: Al-‘Ibrah bi ‘umum al-lafdzi laa bi khushush as-sabab (pelajaran bukanlah diambil dari sebabnya yang spesifik/khusus, tetapi dari makna lafadznya secara umum).

Kalimat ‘Kanat hijratuhu’ (yang hijrahnya), yakni hijrah dari Mekkah ke Madinah setelah tiga belas tahun da’wah di Mekkah mengalami penindasan. Dahulu Madinah dinamakan Yatsrib, dan hijrah tersebut adalah yang kedua, setelah hijrah pertama ke Habasyah (Etiopia). Peristiwa ini menjadi titik tolak awal penanggalan tahun Hijriyyah. Perintah hijrah ini langsung datangnya dari Allah Ta’ala, bahkan orang yang tidak mau ikut hijrah padahal mereka sanggup, oleh Allah Ta’ala menyebutnya sebagai orang yang menganiaya diri sendiri.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 97)

Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekkah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam sedangkan mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badr, akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu. Imam Ad-Dhahak mengatakan mereka adalah orang-orang munafik yang memang berselisih dengan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, justru mereka ikut bersama kaum musyrikin ketika perang Badr. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul ‘Azhim, 2/389)

Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam pun mencela mereka, dari Samurah bin Jundub radhiallohu ‘anhu, bahwa Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berkumpul dan tinggal bersama orang musyrik maka dia adalah semisal dengannya.” (HR. Abu daud No. 2787)

Hijrah secara bahasa artinya At-Tarku (meninggalkan). Secara syariat, hijrah adalah Al-Intiqal min baladil Kufri ilaa baladil Islam, wa min dar asy-syirki ilaa dar at-tauhid, wa min dar al-khauf ilaa dar al-amn (pindah dari negeri kufur menuju negeri Islam, dan dari negeri syirik menuju negeri tauhid, dan dari negeri yang tidak aman menuju negeri yang aman).

Para ulama berbeda pendapat, apakah hijrah itu wajib atau sunnah? Namun pendapat yang lebih kuat adalah hijrah dari sebuah tempat di mana seorang muslim yang tidak dapat menjalankan agamanya secara sempurna adalah wajib. Hal ini sesuai kaidah:

ما لا يتتم الواجب إلا به فهو واجب

“Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.”

Menjalankan agama adalah kewajiban, tetapi kewajiban tidak bisa sempurna dalam menjalankannya kecuali dengan hijrah dari daerah kufur tersebut, maka hijrah adalah wajib.

Hijrah ada dua model;

  1. Hijrah makani (pindah wilayah) yaitu dari negeri kafir ke negeri tauhid. Bisa juga pindah dari daerah buruk, daerah maksiat dan kejahatan, yang tidak kondusif baik agama maupun akhlak, menuju daerah yang shalih dan aman buat agama.
  2. Hijrah ma’nawi (pindah secara nilai) yaitu berubahnya seseorang yang tadinya kafir menjadi muslim, ahli maksiat menjadi ahli taat, jahil (bodoh) menjadi ‘alim (berilmu) dan lain sebagainya.

Keenam:

إلى الله ورسولـه فهجرتـه إلى الله ورسـوله

“Kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan rasulNya.”

Makna ‘kepada Allah’  adalah orang yang hijrahnya karena Allah Ta’ala, untuk mencari balasan kebaikan dariNya, untuk mendapatkan ridhaNya, dan untuk membela syariatNya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan RasulNya.” (QS. Al-Ahzab: 29)

Imam Asy-Syaukani mengatakan: “Yaitu (menginginkan) surga dan kenikmatannya.” (Imam Asy-Syaukani, Fathul Qadir, 6/37)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: “Yaitu menginginkan wajahNya dan menolong agamaNya. Ini adalah keinginan yang baik.” (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)

Makna ‘dan RasulNya’ adalah orang yang berhijrah untuk memperoleh keberuntungan bersahabat dengan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, menjalankan sunnahnya, membelanya, dan mengajak manusia kepadanya, serta menyebarkan agamanya.

Makna ‘ Maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya’ yaitu dia akan mendapatkan apa yang diniatkan itu, yakni pahala dari Allah Ta’ala, ridhaNya, kemenangan dunia dan akhirat, sebagaimana yang dia niatkan sebelumnya.

Berkata Syaikh ismail bin Muhammad Al-Anshari rahimahullah, “Kepada Allah dan RasulNya: Yaitu menjadikan maksud hijrahnya adalah demi ketaatan kepada Allah dan RasulNya sholallohu ‘alaihi wa sallam. ‘Maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya: yaitu (mendapat) balasan dan pahala.” (At-Tuhfah Ar-Rabbaniyah Hal. 2)

Ketujuh:

ومن كانت هجرته لـدنيا يصـيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu.”

Makna ‘dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya’ yakni menginginkan kenikmatan kehidupan dunia seperti kekayaan, pangkat, perniagaan, jabatan, perhiasan, dan godaan dunia lainnya.

Secara bahasa dunia diambil dari kata danaa yang artinya dekat (Al-Qarbu). Ini sekaligus menunjukkan singkatnya kehidupan dunia. Dinamakan Ad-Dun-ya karena lebih dahulu dibanding akhirat, atau sangat dekat dengan zawal (tergelincirnya waktu). Kehidupan ini adalah di atas bumi yang di dalamnya terdapat udara dan angin dan apa pun yang ada sebelum datangnya kiamat.

Makna ‘atau wanita’ yakni Ummu Qais. ‘yang ingin dinikahinya’ yakni dikawininya dan dijadikan isteri. Dan pengkhususan wanita di sini, padahal wanita adalah bagian dari kenikmatan dunia juga, merupakan kesitmewaan sekaligus ‘daya goda’-nya yang seringkali lebih kuat terhadap laki-laki dibanding godaan lainnya.

Makna ‘maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu’ yakni dia akan mendapatkan dunia yang diinginkannya itu, tetapi dia tidak mendapatkan Allah dan RasulNya, tidak pula pahala dan tidak pula surga nanti di akherat.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

“Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145)

Sumber: Buletin Istiqomah edisi 64, diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s