Kesalahan Dalam Shalat

بِسْمِ اللَّهِ

Pembaca yang budiman, setelah dalam 2 edisi sebelumnya, kami bahas dosa-dosa yang diremehkan terkait dengan masalah pribadi (bag. I); dan muamalah antar manusia (bag. II), maka dalam edisi kali ini, kami angkat beberapa kesalahan dalam shalat yang sering dilakukan manusia. Hal ini penting, karena jika seorang muslim yang melakukan shalat senantiasa melakukan kesalahan-kesalahan ini, dikhawatirkan tidak diterima shalatnya, atau minimalnya shalatnya sah, tapi ia berdosa karena melakukan kesalahan itu. Di antara kesalahan dalam shalat tersebut adalah:

A. Tidak Thuma’ninah Dalam Shalat

Di antara kejahatan pencurian terbesar adalah pencurian dalam shalat. Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya.” Para shahabat bertanya: “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Kemudian Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Imam Ahmad, 5/310)

Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan. Para Ulama memberi batasan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih. (Lihat Fiqhus Sunnah, karya Sayyid Sabiq: 1/124)

Meninggalkan thuma’ninah, berarti tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika ruku’ dan sujud, tidak tegak ketika bangkit dari ruku’ serta ketika duduk antara dua sujud, semuanya merupakan kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin. Bahkan hampir bisa dikatakan, tak ada satu masjid pun kecuali di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak thuma’ninah dalam shalatnya.

Thuma’ninah adalah rukun shalat, jadi shalat tanpa melakukan thuma’ninah maka shalat menjadi tidak sah. Ini sungguh persoalan yang sangat serius. Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud.” (HR. Abu Dawud: 1/533)

Tak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran di dalam shalat. Pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya. Abu Abdillah Al-Asy’ari berkata: “(Suatu ketika) Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam shalat bersama shahabatnya kemudian beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ dan sujud dengan cara mematuk (shalatnya cepat sekali –red), maka Rasulullloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersbda: “Apakah kalian menyaksikan orang ini? Barang siapa meninggal dalam keadaan seperti ini (shalatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya.” (HR. Ibnu Khuzaimah: 1/332)

Sujud dengan cara mematuk maksudnya; sujud dengan cara tidak menempelkan hidung dengan lantai. Dengan kata lain, sujud itu tidak sempurna. Sujud yang sempurna adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwasanya ia mendengar Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang hamba sujud maka ia sujud dengan tujuh anggota badannya, wajah, dua telapak tangan, dua lutut dan dua telapak kakinya.” (HR. Jama’ah, kecuali Bukhari, lihat Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq: 1/124)

Zaid bin Wahb berkata, “Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, ia lalu berkata: “Kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini) niscaya engkau mati di luar fitrah (Islam) yang sesuai dengan fitrah diciptakannya Muhammad.”

Orang yang tidak thuma’ninah dalam shalat, sedang ia mengetahui hukumnya, maka wajib baginya mengulangi shalatnya seketika, dan bertaubat atas shalat-shalat yang dia lakukan tanpa thuma’ninah pada masa-masa lalu. Ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan hadits, “Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya engkau belum shalat.”

B. Banyak Melakukan Gerakan Sia-Sia Dalam Shalat

Sebagian umat Islam hampir tak terelakkan dari kesalahan ini, yakni melakukan gerakan yang tak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak mematuhi perintah Allah dalam firmanNya,

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Pelakunya juga tak memahami firman Allah,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَالَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minuun: 1-2)

Suatu saat Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang hukum meratakan tanah ketika sujud. Beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan engkau mengusap sedang engkau dalam keadaan shalat, jika (terpaksa) harus melakukannya maka (cukup) sekali meratakan kerikil.” (HR. Abu Dawud 1/581; dalam Shahihul Jami’ hadits no: 7452)

Para ulama menyebutkan, banyaknya gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apalagi jika yang dilakukan itu tidak ada gunanya dalam shalat. Berdiri di hadapan Allah Ta’ala sambil melihat jam tangan, membetulkan pakaian, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar pandangan ke kiri, kanan, atau ke atas langit, menggigit/melihat kuku tangan. Seperti ia tidak takut kalau-kalau Allah Ta’ala mencabut penglihatannya, atau syaithan melalaikannya dari ibadah shalat.

C. Mendahului Imam Secara Sengaja Dalam Shalat

Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya, Allah Ta’ala berfirman,

وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا

“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’: 11)

Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pelan-pelan adalah dari Allah, dan tergesa-gesa adalah dari syaithan.” (HR. Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra: 10/104)

Dalam shalat jama’ah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam ruku’ dan sujud takbir perpindahan bahkan hingga mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga terjadi pada dirinya sendiri.

Perbuatan yang barang kali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat Islam itu, oleh Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam diperingatkan dan diancam secara keras dalam sabdanya, “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai.” (HR. Muslim: 1/320-321)

Jika saja orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, apalagi dengan shalat itu sendiri. Tetapi terkadang orang memahami larangan mendahului imam itu dengan harus terlambat dari gerakan imam. Hendaknya dipahami, para fuqaha (ahlul fiqih) telah menyebutkan kaidah yang baik dalam masalah ini, yaitu hendaknya makmum segera bergerak ketika imam telah selesai mengucapkan takbir. Ketika imam selesai melafadzkan huruf (ra’) dari kalimat “Allahu Akbar”, saat itulah makmum harus segera mengikuti gerak imam, tidak mendahului dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Jika demikian maka batasan itu menjadi jelas.

Dahulu para shahabat Nabi radhiallohu ‘anhum sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam. Salah seorang sahabat bernama Al-Barra’ Bin Azib radhiallohu ‘anhu berkata, “Sungguh mereka (para shahabat) shalat di belakang Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam. Maka, jika beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, saya tak melihat seorangpun yang membungkukkan punggungnya sehingga Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam meletakkan keningnya di atas bumi, lalu orang yang ada di belakangnya bersimpuh sujud (bersamanya).” (HR. Muslim, no: 474)

Ketika Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam mulai udzur, dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat di belakangnya, “Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah gemuk (lanjut usia), maka janganlah kalian mendahuluiku dalam ruku’ dan sujud…” (HR. Baihaqi 2/93)

Dalam shalatnya, seorang Imam hendaknya melakukan sunnahnya takbir. Yakni sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallohu ‘anhu, “Bila Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’ kemudian takbir ketika turun (hendak sujud) kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahhud pertama).”

Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam sebagaimana disebutkan di muka maka jama’ah shalat tersebut menjadi sempurna.

D. Shalat dengan sarung, gamis, dan celana musbil (melebihi mata kaki)

Banyak hadits yang menyebutkan larangan berbuat isbal di antaranya, Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menerima shalat seseorang lelaki yang memakai kain sarung dengan cara musbil.” (HR. Abu Dawud1/172 no. 638). Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Allah tidak (akan) melihat shalat seseorang yang mengeluarkan sarungnya sampai ke bawah (musbil) dengan perasaan sombong.” (Shahih Ibnu Khuzaimah 1/382).

E. Shalat di atas pemakaman atau menghadapnya

Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena sesungguhnya aku telah melarang kalian melakukan hal itu.” (HR. Muslim: 532). Untuk pembahasan shalat di atas pemakaman, insyaAllah akan ada edisi khusus yang mengupas larangan shalat di kuburan.

F. Shalat tidak menghadap ke arah sutrah (pembatas)

Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam melarang perbuatan tersebut seraya bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian shalat menghadap sutrah, setan tidak dapat memutus shalatnya.” (Shahih Al-Jami’: 650). Inilah contoh perbuatan beliau. Apabila Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam shalat di tempat terbuka yang tidak ada apapun yang menutupinya, maka beliau menancapkan tombak di depannya, lalu shalat menghadap tombak tersebut, sedang para shahabat bermakmum di belakangnya. Beliau tidak membiarkan ada sesuatu yang lewat di antara dirinya dan sutrah tersebut. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu Ta’ala A’lam

Oleh: Tim Redaksi Buletin Istiqomah dari Kitab Al Qoulul Mubin Fii Akhthoil Musollin karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, Shifat Shalat Nabi karya Syaikh Al-Albani)

Sumber: Buletin Istiqomah edisi 63 diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s