Dosa-Dosa yang Disepelekan (Bagian II)

Pada edisi pekan lalu, kami bawakan beberapa dosa yang dianggap biasa yang terkait dengan amalan pribadi manusia. Untuk menyambung pembahasan, kami akan bawakan beberapa hal terkait dengan kesalahan dalam muamalah (hubungan antar manusia), di mana sebenarnya ini adalah perbuatan dosa, namun dianggap remeh oleh banyak pihak. Kita memohon petunjuk dan penjagaan kepada Allah Ta’ala dari perbuatan hina ini, yang diantaranya adalah;

1.  GHIBAH (MENGGUNJING)

Dalam banyak pertemuan, sering kali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing (membicarakan orang lain). Padahal Allah Ta’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah Ta’ala menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam menerangkan makna ghibah (menggunjing) dengan sabdanya, “Tahukah kalian apakah itu ghibah?” Mereka menjawab: “Allah dan RasulNya yang mengetahui.” Beliau bersabda: “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.”, ditanyakan: “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku?” Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya.” (HR. Muslim 4/2001)

Jika ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seseorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan), baik terkait permasalahan jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Di antara bentuk ghibah adalah dengan membeberkan ‘aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang digunjingkan dengan maksud mengolok-olok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah. Padahal dalam pandangan Allah Ta’ala, hal itu adalah sesuatu yang keji dan kotor. Ini dijelaskan dalam sabda Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Riba ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri) dan yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah Ash-Shahihah: 1871)

Wajib bagi orang yang hadir dalam suatu pertemuan yang sedang menggunjingkan orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaiman dalam sabdanya, “Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak api neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad: 6/450, Shahihul jami’: 6238)

2. NAMIMAH (MENGADU DOMBA)

Namimah adalah mengadukan (mempertentangkan) ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan, memutus ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia.

Allah Ta’ala mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya,

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَّهِينٍ هَمَّازٍ مَّشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menebar fitnah.” (QS. Al-Qalam: 10-11)

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiallohu ‘anhu disebutkan, “Tidak akan masuk surge bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukahari, lihat Fathul Bari: 10/472)

Dalam An-Nihayah karya Ibnu Katsir 4/11 disebutkan, “Al Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengatahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.”

Ibnu Abbas radhiallohu ‘anhu meriwayatkan, “Suatu hari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah kebun di antara kebun-kebun Madinah, tiba-tiba beliau mendengar dua orang yang disiksa dalam kuburnya, lalu Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keduanya disiksa, padahal bukan karena masalah yang besar dalam anggapan keduanya, (dan dalam riwayat lain disebutkan: padahal sesungguhnya ia adalah persoalan yang besar).’ Kemudian Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seseorang di antaranya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya; dan seorang lagi (disiksa karena) suka mengadu domba’.” (HR. Bukhari, Fathul Bari: 1/317)

Di antara bentuk namimah yang paling buruk adalah hasutan yang dilakukan terhadap seorang laki-laki tentang istrinya atau sebaliknya, dengan maksud untuk merusak hubungan suami istri tersebut. Demikian juga adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dengan maksud untuk memfitnah dan merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini hukumnya haram.

3. MELONGOK (MENGINTIP) RUMAH TANPA IZIN

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27)

Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam menegaskan, alasan diharuskannya meminta izin adalah karena dikhawatirkan orang yang masuk akan melihat aurat tuan rumah. Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (ketika masuk rumah orang lain) adalah untuk (menjaga) penglihatan.” (HR. Bukhari, Fathul Bari: 11/24)

Pada saat ini, dengan berdesakannya bangunan dan saling berdempetnya gedung-gedung serta saling berhadap-hadapannya antara pintu dengan pintu dan jendela dengan jendela, menjadikan kemungkinan saling mengetahui isi rumah tetangga kian besar. Ironisnya, banyak yang tak mau menundukkan pandangannya, malah yang terjadi dengan sengaja, mereka yang tinggal di gedung yang lebih tinggi, dengan leluasa memandangi lewat jendela mereka ke rumah-rumah tetangganya yang lebih rendah (mengintip). Ini adalah salah satu pengkhianatan dan pemerkosaan terhadap hak-hak tetangga, sekaligus sarana menuju yang diharamkan, karena perbuatan tersebut banyak kemudian menjadi bencana dan fitnah.

Dan disebabkan oleh bahayanya akibat tindakan ini, sehingga syariat Islam membolehkan mencongkel mata orang yang suka melongok dan melihat isi rumah orang lain. Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melongok rumah suatu kaum dengan tanpa izin mereka, maka halal bagi mereka mencongkel mata orang tersebut.” (HR. Muslim: 3/699)

Dalam riwayat lain dikatakan, “… kemudian mereka mencongkel matanya, maka tidak ada diyat (ganti rugi) untuknya juga tidak ada qishash baginya.” (HR. Ahmad 2/385, Shahihul Jami’: 6022)

4. BERBISIK EMPAT MATA DAN MEMBIARKAN KAWAN KETIGA

Dalam sebuah majelis dan pergaulan, sikap dan tindakan ini sungguh amat tidak terpuji, bahkan sikap dan tindakan seperti ini sebenarnya merupakan langkah syaithan untuk memecah belah umat Islam dan menebarkan kecemburuan, kecurigaan dan kebencian di antara mereka. Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam menerangkan hukum dan akibat perbuatan ini dalam sabdanya, “Jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa seorang yang lain, sehingga kalian membaur dalam pergaulan dengan manusia, sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih.” (HR. Bukhari, lihat Fathul Bari: 11/83)

Termasuk di dalamnya berbisik dengan tiga orang dan meninggalkan orang keempat dan demikian seterusnya. Demikian pula, jika kedua orang tersebut berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang ketiga.

Tidak diragukan lagi, berbisik hanya berdua dengan tidak menghiraukan orang ketiga adalah salah satu bentuk penghinaan kepadanya. Atau memberikan asumsi bahwa keduanya menginginkan suatu kejahatan terhadap dirinya. Atau mungkin menimbulkan asumsi-asumsi lain yang tidak menguntungkan bagi kehidupan pergaulan mereka di kemudian hari.

5. DUDUK BERSAMA ORANG-ORANG MUNAFIK ATAU FASIK UNTUK BERAMAH TAMAH

Banyak orang lemah iman bergaul dengan sebagian orang fasik dan ahli maksiat, bahkan mungkin bergaul pula dengan sebagian orang yang menghina syariat Islam, melecehkan Islam dan para penganutnya.

Tidak diragukan lagi, perbuatan semacam itu adalah haram dan membuat cacat akiadah. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS. Al-An’am: 68)

Dalam kehidupan sehari-hari, yang sering kita dapati adalah pergaulan antara seorang muslim dengan pemabuk, pezina, penjudi, atau orang-orang yang dikenal meremehkan agamanya, dengan niatan hanya sekedar ngobrol, nongkrong tanpa niatan menasehati. Jika hal itu senantiasa dilestarikan, dikhawatirkan dia akan terpengaruh dengan kawan jeleknya itu. Atau minimalnya merasa bahwa kesalahan yang dilakukan kawan-kawannya itu sebagai perbuatan “biasa dan sah-sah saja”. Maka dari itu, untuk meminimalkan pengaruh buruk dari kawan jelek seperti ini, seharusnya kita memilih lingkungan yang baik dan Islami, guna menyelamatkan agama kita.

Pembaca yang budiman, oleh sebab itu jika keadaan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di muka, betapapun hubungan kekerabatan, keramahan dan manisnya mulut mereka, kecuali bagi orang yang ingin berdakwah kepada mereka, kita dilarang duduk bersama mereka, maka hal itu diperbolehkan. Adapun bila hanya dengan diam, atau malah rela dengan keadaan mereka maka hukumnya haram. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِن تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

“Jika sekiranya kamu ridha kepada mereka maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 96)

Oleh: Tim Buletin Istiqomah, Rujukan: Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa, Karya Muhammad Shalih Al-Munajjid

Sumber: Buletin Istiqomah edisi 62 diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta

One thought on “Dosa-Dosa yang Disepelekan (Bagian II)

  1. Ping-balik: untukmu…wahai saudaraku seiman!! | catatannya maya

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s