Mendulang Faidah Dari Kitab Al Ibanah (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، كالمبتدعة والمشركين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، إله الأولين والآخرين، وقيوم السماوات والأرضين. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، وخيرته من خلقه أجمعين. اللهم صل على محمد وعلى آل محمد وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وسلم تسليما كثيرا.

:أما بعد

BAB:

PENDAPAT SEKELOMPOK ULAMA DALAM MENGHADAPI FITNAH LEBIH BANYAK BENARNYA DARI PADA PENDAPAT SEORANG ALIM

Ketika badai fitnah datang, maka akan banyaklah berita-berita dusta berdatangan, kesaksian-kesaksian palsu dipasarkan, turut campurnya orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dalam meredam fitnah, masuknya orang-orang yang hanya memperkeruh suasana tanpa mengadakan perbaikan, mempertajam fitnah tanpa mampu menghentikannya dan mempersulit keadaan tanpa berupaya menyelesaikannya.

Maka jika Allah merahmati hambaNya, Dia akan mengembalikan urusan mereka kepada orang-orang yang berakal, berilmu dan amanah diantara hamba-hambaNya. Allah Ta’ala berfirman:

وأمرهم شورى بينهم

Artinya: “Dan urusan mereka diselesaikan dengan jalan musyawarah diantara sesame mereka.” (QS. Asy Syura: 38)

Allah juga berfirman:

وشاورهم فى الأمر

Artinya: “Dan ajaklah mereka untuk bermusyawarah.” (QS. Ali Imran: 109)

Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan 4/227: dari Ibn Ghonam Al Asy’ary bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakr dan ‘Umar:

لَوْ اجْتَمَعْتُمَا فِي مَشُورَةٍ مَا خَالَفْتُكُمَا

“Kalau kalian berdua bersatu dalam musyawarah maka aku tidak akan menyelisihi kalian berdua.”

(Hadits diatas dihasankan oleh Ahmad Syakir. Dan berkata Al Haitsamy dalam Al Majma’ 9/53: “Para perawi hadits ini semuanya tsiqoh kecuali Ibnu Ghonam dia tidak mendengar dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.”)

Para ulama berbeda pendapat tentang Abdurrahman bin Ghanam ini apakah dia mendengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ataukah tidak. Sebagian ulama menetapkan bahwa dia mendengar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagian ulama lainnya menafikan. Namun orang yang menetapkan lebih didahulukan ilmunya. Dan juga di dalam sanad hadits ini ada Syahr bin Hausyab yang memiliki kelemahan, akan tetapi hadits ini memiliki banyak penguat.

Dan dari ‘Abidah As Salmany berkata:

اجتمع رأيي ورأي عمر في أمهات الأولاد أن لا يبعن قال ثم رأيت بعد أن يبعن قال عبيدة فقلت له فرأيك ورأي عمر في الجماعة أحب إلي من رأيك وحدك في الفرقة – أو قال في الفتنة – قال فضحك علي

“Saya mendengar Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: Aku dan ‘Umar sependapat bahwa Ummul Walad itu tidak boleh dijual, tapi kemudian setelah itu aku berpendapat bahwa Ummul Walad itu boleh dijual. ‘Abidah berkata: Aku berkata kepada Ali: pendapatmu dan pendapat umar ketika kalian sepakat dan bersatu lebih aku sukai dari pada pendapatmu yang sendirian ini dalam perpecahan atau fitnah. Mendengar ini maka tertawalah Ali radhiallahu ‘anhu.”

(Atsar diatas diriwayatkan oleh Abdurazaq dalam Al Mushonnaf: 7/291-292 no: 13224 dan ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh Al Baihaqy dalam As Sunan: 10/348. Dan berkata Al Hafidzh Ibnu Hajar dalam At Talkhish 6/3294: “Dan sanad ini termasuk sanad yang paling shahih.”)

Berkata Asy Syatiby dalam Al Muwafaqaat 5/140:

أن ما كان معدودًا في الأقوال غلطًا وزللًا قليل جدًّا في الشريعة، وغالب الأمر أن أصحابها منفردون بها، قلما يساعدهم عليها مجتهد آخر، فإذا انفرد صاحب قول عن عامة الأمة، فليكن اعتقادك أن الحق –في المسألة– مع السواد الأعظم من المجتهدين، لا من المقلدين.

“Adapun pendapat jumhur ulama yang salah atau menyimpang dari Asy Syari’ah itu sangat sedikit sekali. Justru kebanyakannya hal itu terdapat pada pendapat pribadi dan jarang ada mujtahid lain yang mendukungnyanya. Maka jika kamu menjumpai seseorang berbeda pendapat dengan mayoritas ulama lainnya maka hendaklah kamu bangun keyakinanmu dalam masalah itu bersama As Sawadul A’dzhom/mayoritas ulama’ mujtahidin dan janganlah bersama mereka para muqollidin.”

Dan jika terjadi fitnah maka hendaklah seseorang itu mengambil pendapat yang keluar dari hasil musyawarah dan mengesampingkan selainnya. Dan lihatlah bukti nyata ketika terjadi fitnah Abul Hasan Al Ma’riby, orang-orang yang berakal dari kalangan ahlus sunnah di Yaman mengambil pendapat Masyaikh Sunnah dan mengesampingkan pendapat Abul Hasan. Kemudian seiring waktu berlalu maka nampaklah penyimpangan-penyimpangan Abul Hasan dan menyesal lah para penuntut ilmu yang mereka begitu tergesa-gesa mengambil pendapat Abul Hasan, sehingga diantara mereka ada yang taroju’ kembali kepada Al Haq dan mengambil pendapat Masyaikh Sunnah, diantara mereka juga ada yang tengah menempuh jalan untuk kembali kepada Al Haq dan sisanya masih tetap bergabung dengan kelompok-kelompok sesat lainnya.

Maka semestinya diketahui bahwa ketika fitnah melanda, hendaknya seseorang itu berhati-hati dan hendaknya senantiasa untuk terus mencari kebenaran dan jangan tergesa-gesa dalam mengambil suatu pendapat. Jika Al Haq telah tampak maka tidak boleh baginya untuk fanatik kepada salah seorang diantara masyaikh yang bertikai, karena kalau seandainya fanatik itu merupakan suatu kemestian dalam keadaan seperti ini maka sungguh berfanatik kepada sekelompok ulama lebih utama dari pada fanatik kepada seorang ulama saja.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata sebagai mana dalam Majmu’ Fatawa 22/252:

وَمَنْ تَعَصَّبْ لِوَاحِدٍ بِعَيْنِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ دُونَ الْبَاقِينَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ مَنْ تَعَصَّبْ لِوَاحِدٍ بِعَيْنِهِ مِنْ الصَّحَابَةِ دُونَ الْبَاقِينَ. كَالرَّافِضِيِّ الَّذِي يَتَعَصَّبُ لِعَلِيٍّ دُونَ الْخُلَفَاءِ الثَّلَاثَةِ وَجُمْهُورِ الصَّحَابَةِ.

“Barang siapa yang fanatik kepada seorang diantara ulama maka kedudukannya sama dengan seseorang yang fanatik terhadap seorang shahabat tanpa yang lainnya. Seperti kelompok rofidhoh yang fanatik kepada Ali bin Abi Thalib dan mengesampingkan para Khalifah dan jumhur shahabat  yang lainnya.”

Bahkan Ibnu ‘Abdil Barr meriwayatkan dalam kitabnya Al Jami’ no 855: dengan sanad yang hasan, bahwa Mathor Al warroq berkata:

مثل الذي يروي عن عالم واحد مثل الذي له امرأة واحدة إذا حاضت بقي

“Permisalan seorang yang mengambil ilmu hanya dari seorang ulama adalah seperti seorang yang hanya memiliki seorang istri, jika istrinya sedang haid maka suami tersebut istirahat.”

Selesai diterjemahkan dari kitab Al Ibanah Karya Asy Syaikh Al Hammam Abi Nashr Muhammad bin ‘Abdillah Al Imam halaman: 83-85.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسن إلى يوم الدين

Usai diterjemahkan pada: 6 Sabtu 16 Robi’ul Awwal 1432 bertepatan dengan 19 February 2011. Daarul Hadits Vyosh

Ditulis oleh Ustadz Alimuddin As-Stabaty

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s