Dosa Dosa yang Disepelekan (Bagian I)

Pada masa ini, sering kita dengar para penyanyi, pengamen, penyair, dst, mengucapkan kata-kata dalam bait syair mereka, seperti: “Ku bersumpah atas nama cinta.”, atau “Ku kan berikan seluruh hidupku untukmu.”, atau “Aku mencintaimu lebih dari apapun.”, “Hidup dan matiku hanya untukmu wahai pujaanku.” dst. Maka sebagai umat Islam hendaknya kita tidak terkecoh dengan ungkapan-ungkapan seperti ini.

Alhamdulillah, agama kita adalah agama yang sempurna, sehingga hal-hal yang kita anggap sepele, ternyata ada aturannya dalam agama kita. Pada edisi kali ini, kami bawakan beberapa hal yang dilarang oleh syari’at Islam, tapi banyak kaum muslimin yang menerjangnya karena mereka anggap sebagai hal yang wajar dan biasa. Hal itu antara lain:

A. Bersumpah dengan nama selain Allah Ta’ala, Mencela Waktu, dan “Andaikata…”

Allah Ta’ala bersumpah dengan nama apa saja yang Ia kehendaki dari segenap makhlukNya. Sedangkan makhluk, maka mereka tidak diperbolehkan bersumpah dengan nama selain Allah Ta’ala. Namun bila kita saksikan kenyataan sehari-hari, betapa banyak orang yang bersumpah dengan nama selain Allah Ta’ala.

Sumpah adalah salah satu bentuk pengagungan. Oleh karena itu, sumpah tidak layak diberikan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Dalam sebuah hadits yang marfu’ dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma diriwayatkan, “Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam menjumpai Umar bin Khaththab yang sedang menaiki hewan tunggangannya, seraya dia bersumpah dengan nama ayahnya. Maka Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam menegur, “Ketahuilah sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama ayah- ayah kalian. Karenanya barangsiapa yang mau bersumpah, hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah atau lebih baik diam.” (HR. Bukhari no. 5643 dan Muslim no. 3104)

Dan dalam hadits Ibnu Umar radhiallohu ‘ahnuma yang lain, Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من حلف بغير ﷲ فقد كفر أو أشرك

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Abu daud no. 2829)

Yang dimaksud kata-kata “kafir atau syirik” di sini adalah syirik ashghar (kecil).

Adapun arti syirik kecil di sini adalah semua amalan yang biasa mengantarkan kepada syirik akbar (besar). Orang yang bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, walaupun dia tidak berniat mengagungkan selain Allah Ta’ala tersebut, akan tetapi sumpahnya ini dapat mengantarkan dia untuk mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan pengagungan yang berlebihan. Dan jika dia sampai kelewatan, maka dia telah terjatuh ke dalam syirik akbar. Dalam hadits lain Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa bersumpah demi amanat maka tidak termasuk golonganku.” (HR. Abu Dawud no. 3253)

Karena itu tidak boleh sumpah demi Ka’bah, demi amanat, demi kemuliaan, dan demi pertolongan, demi cinta, demi langit dan bumi, dst. Juga tidak boleh bersumpah dengan berkah atau hidup seseorang. Tidak pula dengan kemuliaan Nabi, para wali, nenek moyang, atau anak tertua. Semua hal tersebut adalah haram.

Barangsiapa terjerumus melakukan sumpah tersebut maka kaffaratnya (tebusannya) adalah membaca: Laa Ilaaha Illallah. Sebagaimana tersebut dalam hadits shahih, “Barangsiapa bersumpah, kemudian dalam sumpahnya ia berkata: Demi Latta dan ‘Uzza, maka hendaknya ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.” (HR. Bukhari, Fathul Baari: 11/546)

Pembaca yang budiman, perlu kita ketahui bahwa termasuk pula dalam bab ini adalah beberapa lafadz syirik dan lafadz yang diharamkan yang biasa diucapkan oleh sebagian kaum muslimin. Di antaranya adalah ucapan: “Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu”, atau ungkapan “saya bertawakkal kepada Allah dan kepadamu.” Atau “ini adalah dari Allah dan darimu; tak ada yang lain bagiku selain Allah dan kamu” atau ucapan “kalau bukan karena Allah dan fulan pasti akan celaka saya.” Dan lain sebagainya. Yang benar hendaknya diucapkan dengan (ditambahi) kata “kemudian”. Misalnya: “Saya berhasil karena Allah kemudian karena kamu.” Dan dalam lafadz-lafadz lain yang dibolehkan.

Demikian pula dengan setiap kalimat yang mengandung pencelaan terhadap waktu, seperti: “Ini zaman edan”, atau “ini saat yang penuh kesialan”, atau juga “zaman yang memperdaya”, dan seterusnya adalah dilarang. Sebab pencelaan kepada masa (waktu) akan kembali kepada Allah Ta’ala, karena Dialah yang menciptakan masa tersebut.

Termasuk dalam bab ini pula adalah menamakan seseorang dengan nama-nama yang dihambakan kepada selain Allah seperti Abdul Masih, Abdun Nabi, Abdur Rasul, Abdul Husain, dan sebagainya.

Perlu kita ketahui juga, bahwa di antara istilah dan semboyan modern yang bertentangan dengan tauhid adalah, “Islam sosialis, demokrasi Islam, kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan, agama untuk Allah dan tanah air untuk semua, atas nama nasionalisme, atau nama revolusi.” Dan lain sebagainya.

Termasuk hal yang diharamkan adalah memberikan gelar raja diraja, hakim para hakim atau gelar sejenisnya kepada seseorang dengan bentuk pengagungan yang berlebihan. Memanggil dengan nama sayyid (tuan) atau yang semakna kepada munafik atau kafir, dengan bahasa arab atau bahasa lainnya.

Termasuk di dalam kategori ini adalah menggunakan kata “andaikata” yang menunjukkan penyesalan dan kebencian terhadap takdir, sehingga membuka pintu bagi syaitan. Misalnya mengucapkan, “Andaikata dulu aku berbuat begini, pasti tidak seperti ini jadinya.” Termasuk juga yang dilarang adalah ucapan “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” (Untuk pembahasan yang lebih luas, lihat Mu’jamul Manahi Al Lafdziyyah, Syaikh Bakr Abu Zaid)

B. Mendengarkan Dan Menikmati Musik

Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu bersumpah dengan nama Allah Ta’ala bahwa yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Adalah nyanyian (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 6/333)

Abu Malik Al-Asy’ari rodhiallohu ‘anhu meriwayatkan, bersabda Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Kelak aka nada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari, Fathul Bari: 10/51)

Dan dalam hadits Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu, Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak akan terjadi pada umat ini (tiga hal): (mereka) ditenggelamkan (ke dalam bumi), dihujani batu, dan diubah bentuk mereka, yaitu jika mereka minum khamr, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (membunyikan) alat musik.” (HR. Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Malahi dan At-Tirmidzi no: 2212)

Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam melarang gendang, lalu menyatakan, seruling adalah suara orang bodoh dan tukang maksiat. Para ulama terdahulu seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berdasarkan hadits-hadits shahih yang melarang alat-alat musik secara mutlak telah menetapkan haramnya alat-alat musik seperti kecapi, seruling, rebab, simbab, dan yang lainnya.

Maka, tidak diragukan lagi, alat-alat musik modern yang kita kenal saat ini masuk dalam kategori alat-alat musik yang dilarang oleh Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, seperti piano, biola, harpa, gitar, dan sebagainya. Bahkan alat modern tersebut lebih cepat mempengaruhi mabuknya jiwa dari pada alat-alat musik zaman dulu yang telah diharamkan dalam beberapa hadits.

Menurut penuturan para ulama, di antaranya Ibnu Qayyim, keterlenaan dan mabuknya jiwa akibat pengaruh nyanyian lebih besar bahayanya dari pada akibat minum arak. Kemudian tak diragukan lagi, pelanggarannya akan lebih keras dan dosanya akan lebih besar jika alat-alat musik tersebut diiringi dengan nyanyian, baik oleh biduan atau biduan wanita. Lalu bahayanya akan lebih bertumpuk jika untaian kata-kata syairnya berkisah tentang cinta, asmara, kecantikan wanita atau kegagahan pria.

Karena itu tidak mengherankan jika para ulama menyebutkan, nyanyian adalah sarana yang menghantarkan pada perbuatan zina, menumbuhkan perasaan munafik di dalam hati. Dan secara umum, nyanyian dan musik adalah tema besar zaman ini yang melahirkan banyak fitnah.

Bahkan yang lebih menherankan, saat ini kita kenal ada istilah “dakwah lewat musik”, atau “nada dan dakwah”. Subhanallah… (Maha Suci Allah), bukankah ibadah yang diiringi musik itu menyerupai peribadahan orang-orang nashrani? Ini merupakan pencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan yang nyata! Karena tidaklah mungkin Allah Ta’ala memerintahkan untuk berdakwah dengan dicampuri sesuatu yang batil dan jelek.

C. Laki-laki Memakai Perhiasan Emas

Dalam penutup edisi ini, kami bawakan sebuah larangan yang mungkin banyak laki-laki tidak mengetahuinya. Dari Abu Musa Al-Asy’ari rodhiallohu ‘anhu, Rasululloh ‘alaihi sholatu wa sallam bersabda, “Dihalalkan atas kaum wanita dari umatku sutera dan emas, (tetapi keduanya) diharamkan atas kaum lelaki mereka.” (HR. Imam Ahmad: 4/393)

Saat ini, di pasar atau toko-toko banyak kita jumpai barang-barang konsumsi laki-laki yang terbuat dari emas. Mungkin bagi kita yang ekonominya lemah “menengah ke bawah” hal ini jarang kita lihat, karena kadang kita tidak mampu membelinya. Tapi coba lihat kepada orang yang “punya”, terkadang ada saja kelakuan mereka dengan hal ini. Ada yang menaruh emas di jam tangannya, kaca mata, kancing baju, pena, rantai, medali, dan sebagainya dengan kadar emas yang berbeda-beda. Ada pula yang sepuhan. Ini semua dilarang berdasarkan hadits di atas.

Termasuk jenis kemungkaran dalam masalah ini adalah, hadiah yang diberikan pada sayembara- sayembara dan pertandingan-pertandingan, misalnya sepatu emas, jam tangan emas untuk pria, dan sebagainya.

Dari Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhu, bahwasanya Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam melihat cincin emas di tangan seorang laki-laki, serta merta beliau mencopot lalu membuangnya. Kemudian Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang dari kamu sengaja (pergi) ke bara api, kemudian memakainnya (mengenakannya) di tangannya!” Setelah Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam pergi, kepada laki-laki itu dikatakan: “Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah.” Lalu ia menjawab: “Demi Allah, selamanya aku tak akan mengambilnya, karena Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam telah membuangnya.” (HR. Muslim: 3/1655)

Untuk menghindari berbagai hal di atas sungguh memerlukan kekuatan hati yang tangguh. Semoga Allah Ta’ala menjadi penolong kita semua. Aamiin…

[Oleh: Tim Redaksi Buletin Istiqomah, Rujukan: Dosa-Dosa yang Dianggap biasa, karya Muhammad Shalih Al Munajjid]

Sumber: Buletin Istiqomah edisi 61 diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al-Madinah Surakarta

3 thoughts on “Dosa Dosa yang Disepelekan (Bagian I)

  1. saya mau bertanya, kan seorang laki laki tidak boleh menggunakan emas ? Lalu kalau cincin emas itu adalah cincin pernikahan ? Apakah lelaki itu harus membuangnya ? Berarti ketika pernikahan hanya perempuan saja yang boleh memakainya ?

    • Bismillaah..

      Benar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang laki-laki memakai perhiasan emas sebagaimana sabda beliau, “Dihalalkan atas kaum wanita dari umatku sutera dan emas, (tetapi keduanya) diharamkan atas kaum lelaki mereka.” (HR. Imam Ahmad: 4/393)

      Kemudian mengenai cincin pernikahan atau cincin kawin/tunangan, tidaklah dikenal dalam Islam. Karena itu adalah kebiasaan orang kuffar. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita kaum muslimin untuk meniru-niru budaya kaum kuffar sebagaimana sabda beliau, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya.” (HR. Abu Daud: 4031)

      Berikut ini adalah fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah dalam kitab Al-Ahkam Asy-Syar’iyah fii Al-Fataawa An-Nisaaiyah:

      Pertanyaan:

      Apa hukum memakai cincin pernikahan yang masing-masing calon suami isteri itu memakaikan kepada pasangannya dan tertulis pada cincin laki-laki nama perempuannya & sebaliknya pada cincin perempuan nama laki-laki itu bersama tanggal lamarannya? Apakah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah seorang sahabatnya, “Carilah (untuk mahar) meskipun hanya berupa cincin besi.” (HR. Bukhari 9/216 & Muslim 9/211-214) merupakan dalil yang memperbolehkan memakai cincin pernikahan?

      Jawaban:

      Pertama, cincin pernikahan sebagaimana ditanyakan adalah perbuatan bid’ah yang telah diikuti oleh sebagian kaum muslimin yang bodoh dan lemah dalam agamanya yang diambil dari kebiasaan kaum kuffar. Hukum cincin pernikahan adalah terlarang karena hal tersebut merupakan tasyabbuh (menyerupai) perbuatan orang kafir.

      Kedua, hadits yang disebutkan oleh penanya tersebut bukanlah dalil tentang anjuran untuk memakai cincin pernikahan tetapi itu adalah dalil tentang mahar.

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s