Syair Aqidah Muslim

إن كان تابعُ أحمدٍ متوهّبا ، فأنا المقِرُّ بأنني وهَّابي

أنفي الشريك عن الإلهفليسَ لي ، ربٌّ سوى المتفردِ و الوهاب

لا قبة تــُرجى و لا وثنٌ و لا ،قبرٌ له سببٌ من الأسباب

كلا و لا حجر و لا شجر و لا ، عين  و لا نــُــصُـبٌ من الأنصاب

أيضا و لستُ مُعلقا لتميمة ، أو حلقة أو وَدعة أو ناب

لِرجاء نفع أو لدفع بليّةٍ ، الله ينفعني و يدفع ما بي

و الابتداع و كل أمر مُحدثٍ ، في الدين ينكره أولوا الألباب

أرجو بأني لا أقاربُه و لا ، أرضاه دينا و هو غير صواب

وأعود من جهمية عنها عتتْ ، بخلاف كل مؤَوِّل مُرتاب

و الاستواء فإن حسبي قدوة ، فيها مَقال السادة الأنجاب

الشافعي و مالك و أبي حنيـ ، ـفـَة  و ابن حنبل التقي الأواب

و بعصرنا من جاء معتقدا به ، صاحوا عليه مُجَسّم وهّابي

جاء الحديث بغربة الإسلام فـَـلـْ ، ـيـَـبْكِ المحب لِغربة الأحباب

فالله يحمينا و يحفظ ديننا ، مِن شـَرّ كل مُعاندٍ سَبَّاب

و يُؤَيِّد الدين الحنيف بعصبة ، مُتمسكين بسنة و كتاب

لا يأخذون برأيهم و قياسهم ، و لهم إلى الوحْيَين خير مآب

قد أخبر المختار عنهم أنهم ، غـُرباءُ بين الأهل و الأصحاب

سلكوا طريق السالكين إلى الهُدى ، و مشوا على مِنهاجهم بصواب

من أجل ذا أهلُ الغــُـلـُوِّ تـنافروا ، عنهم فقلنا ليس ذا بعُجاب

Jika pengikut Ahmad (Nabi Muhammad) adalah Wahhabi[1],

Maka ku akui bahwa diriku Wahhabi.

Kutiadakan sekutu bagi Tuhan, maka tak ada Tuhan bagiku

Selain Yang Maha Esa dan Maha Pemberi.

Tak ada kubah yang bisa diharap, tidak pula berhala,

Dan kuburan tidaklah sebab di antara penyebab.

Tidak! Sama sekali tidak. Tidak pula batu, pohon,

Mata air[2] atau patung-patung.

Juga, aku tidak mengalungkan jimat,

Atau temali, rumah kerang atau taring,

Untuk mengharap manfaat, atau menolak bala

Allah yang memberiku manfaat dan menolak bahaya dariku.

Adapun bid’ah dan segala perkara yang diada-adakan

Dalam agama, maka orang-orang berakal mengingkarinya.

Aku berharap, semoga diriku tak akan mendekatinya

Tidak pula rela secara agama, ia tidaklah benar.

Dan aku berlindung dari Jahmiyyah[3]

Aku mencela perselisihan setiap ahli takwil dan peragu-ragu,

Serta yang mengingkari istiwa’[4]

Tentangnya, cukuplah bagiku teladan dari ucapan para pemimpin yang mulia;

Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Ibnu Hanbal; Orang-orang yang bertakwa dan ahli bertaubat.

Dan pada zaman kita ini, ada orang yang mempercayai,

Seraya berteriak atasnya[5]; Mujassim[6] Wahhabi[7]

Telah ada hadits tentang keterasingan Islam,

Maka hendaknya para pecinta menangis,

Karena terasing dari orang-orang yang dicintainya.

Allah yang melindungi kita, yang menjaga agama kita,

Dari kejahatan setiap pembangkang dan pencela

Dia menguatkan agamaNya yang lurus,

Dengan sekelompok orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah dan kitabNya.

Mereka tidak mengambil hukum lewat pendapat dan qiyas,

Sedang kepada para ahli wahyu, mereka sebaik-baik orang yang kembali.

Sang nabi terpilih telah mengabarkan tentang mereka,

Bahwa mereka adalah orang-orang asing di tengah keluarga dan kawan pergaulannya.

Mereka menapaki jalan orang-orang yang menuju petunjuk,

Dan berjalan di atas mereka dengan benar.

Karena itu, orang-orang yang suka berlebihan,

Berlari dan menjauh dari mereka.

Tapi kita berkata, tidak aneh…

Telah lari pula orang-orang yang diseru oleh sebaik-baik manusia,

Bahkan menjulukinya sebagai tukang (ahli) sihir lagi pendusta.

Padahal mereka mengetahui,

Betapa beliau seorang yang teguh memegang amanah dan janji,

Mulia dan jujur menepati.

Semoga keberkahan atasnya selama angin masih berhembus,

Juga atas segala keluarga dan semua sahabatnya.

Karya: Syaikh Mulaa ‘Imraan

[1] Musuh-musuh tauhid memberi gelar Wahhabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah) nisbat kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Al-Masyarif At-Tamimi Al-Hanbali An-Najdi rahimahullah (mujaddid Islam terbesar abad ke 12 Hijriyah). Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada Muhammad. Betapa pun begitu, ternyata Allah menghendaki nama Wahhabi sebagai nisbat kepada AlWahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Asma’ul Husna.

[2] Mata air tempat yang dimaksudkan untuk mencari berkah atau mendapat kesembuhan. Hal yang merupakan perbuatan syirik, karena berdo’a dan memohon sesuatu kepada selain Allah.

[3] Jahmiyyah adalah kelompok sesat yang mengingkari bahwa Allah berada di langit, dan berpendapat bahwa Allah itu di mana-mana, di setiap tempat. Berkata Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Lum’atil I’tiqod: Jahmiyyah, disandarkan kepada Al-Jahm bin Shafwan yang dibunuh oleh Saalim atau Salim bin Ahwaz pada tahun 121 H.  Madzab/metode mereka dalam permasalahan sifat Allah adalah menghilangkan dan meniadakannya. Dalam masalah takdir mereka berpendapat dengan pendapat Jabbariyyah (makhluk tidak memiliki kehendak dan pilihan dalam beramal, seperti kapas yang diterpa angin). Sedangkan dalam masalah keimanan mereka berpendapat dengan Murji’ah yaitu iman hanyalah sebatas pengakuan (ikrar) dalam hati, amalan dan perkataan tidak termasuk dalam kerangka iman. Pelaku dosa besar menurut mereka adalah seorang mukmin yang sempurna imannya. Dengan demikian mereka adalah Mu’aththilah (pengingkar sifat-sifat dan nama Allah), Jabriyyah, Murji’ah. Sekte ini terbagi menjadi sekian kelompok.

[4] Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan istiwa’ di dalam Al-Qur’an di tujuh tempat:

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A’raf: 54)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Yunus: 3)

اللَّـهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Ar-Ra’d: 2)

الرَّحْمَـٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-Furqon: 59)

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. As-Sajdah: 4)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al-Hadiid: 4)

Istiwa’ dalam bahasa Arab yaitu “Tinggi, di Atas”. Hanya saja ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala  di atas ‘Arsy-Nya tidak sama dengan makhlukNya; Tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraannya. Ahlus Sunnah wal  Jama’ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘ArsyNya sesuai dengan kemuliaanNya. Dan kita tidak mempermasalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa’nya Allah di atas ‘ArsyNya. Karena kita meyakini bahwa Dzat Allah tidak sama dengan makhlukNya, maka kita tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Apalagi tidak ada satu sumberpun dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya.

Seperti kisah masyhur yang terjadi pada Imam Malik Rahimahullah sebagaimana dinukil oleh imam ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf Wa Ashhabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majelisnya, kemudian orang tersebut bertanya: “Ar-Rahman ‘alal ‘Arsy istawa’, bagaimana istiwa’-Nya?”. Beliau Rahimahullah tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau Rahimahullah pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata: “Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa’ sudah diketahui; beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid’ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.” Maka orang itu pun diperintahkan untuk diusir dari majelisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45)

Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa’nya Allah di atas ‘ArsyNya, dan ‘ArsyNya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan; mengimani, membenarkan Allah Azza wa Jalla dalam berita-berita yang telah disampaikanNya dan mengucapkan sesuai dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ucapkan tentang istiwa’Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dzhahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyahnya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)

Untuk artikel tentang Istiwa’ silakan lihat artikel saya yang terdahulu: https://rizkytulus.wordpress.com/2010/10/24/allah-maha-tinggi-di-atas-%e2%80%98arsy/

[5] Yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

[6] Mujassim adalah orang yang memvisualisasikan sifat-sifat Allah

[7] Bagaimana mungkin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah seorang Wahhabi ??? Sedangkan beliau hidup jauh ratusan tahun (wafat tahun 241 H) sebelum lahirnya Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (lahir tahun 1115 H, wafat tahun 1206 H)

Referensi:

Al-Qur’anul Karim

Ahlusunnah Mengimani bahwa Allah Ta’ala Di Atas Arsy-Nya, Ustadz Muhammad bin ‘Umar As-Sewwed

Biografi Ahlul Hadits, http://ahlulhadist.wordpress.com

Manhaj Al-Firqotun Najiyah Wa Ath-Thoifah Al-Mansuroh, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah

Biografi Syaikh Muhammad At Tamimi, http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=57

Syarh Lum’atil I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s