Sekilas Tentang Syukur

Dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiallohu ‘anhu, berkata Rasululloh Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Allah Subhanahu Wata’ala tidak memberikan suatu kenikmatan kepada seorang hamba, maka dia memuji Allah atas kenikmatan yang diberikan kepadanya kecuali pujian itu lebih afdhal daripada kenikmatan itu.” (Dihasankan Syaikh Albani di Ash-Shohih Al-Jami’ no.  5562)

Berkata Abdur Ro’uuf Al-Manawi Rahimahullah, sebagian dari mereka telah mengambil perkataan itu bahwasanya pujian itu lebih afdhal daripada kenikmatan dan telah menyalahkan sebagian yang lainnya dan dari mereka adalah Ibnu ‘Uyainah Rahimahullah dengan berdalih bahwasanya perbuatan hamba itu tidak lebih diutamakan daripada perbuatan Rabb, dan dijawab bahwasanya yang dimaksud dengan kenikmatan disini adalah kenikmatan duniawiyah, seperti ‘afiyah dan rizqi, dan pujian itu termasuk kenikmatan diiniyah/keagamaan, dan kedua-duanya itu adalah nikmat dari Allah kepada hambaNya, dengan petunjukNya untuk mensyukuri nikmatNya dengan pujian atas kenikmatan itu. Itu adalah lebih afdhal daripada nikmat duniawiyah yang diberikan kepada hambanya maka sesungguhnya ini jika tidak disertai dengan kenikmatan itu sebuah rasa syukur maka ini adalah bencana. (Faidhul Qadir Syarh Jami’ish Shagir no. 7841 jilid 5/428)

untuk itu berkata Mahmud Al-Warraq di dalam Sya’ir:

إِذَا كَانَ شُكْرِي نِعْمَةَ اللهِ نِعْمَةً … عَلَيَّ لَهُ فِي مِثْلِهَا يَجِبُ الشُّكْرُ

وَكَيْفَ وُقُوعُ الشُّكْرِ إِلَّا بِفَضْلِهِ … وَإِنْ طَالَتِ الْأَيَّامُ وَاتَّصَلَ الْعُمُرُ

Jika seandainya bentuk rasa syukurku atas nikmat yang Allah berikan itu sebuah kenikmatan

Kepadaku, maka baginya di dalam permisalannya wajib atasnya syukur

Dan bagaimanakah akan terwujudkan bentuk syukur kecuali dengan karuniaNya

Walaupun akan panjangnya hari dan bersambungnya umur. (Syu’abul Iman jilid 6/238)

Syaik Utsaimin Rahimahullah berkata (dibelakang Sya’ir ini): “Maka sesungguhnya kenikmatan itu membutuhkan kepada perbuatan syukur. Kemudian jika kamu telah mensyukurinya, maka itu adalah suatu kenikmatan yang lainnya yang membutuhkan perbuatan syukur yang kedua. Maka jika kamu telah mensyukurinya di yang kedua, maka itu adalah suatu kenikmatan yang membutuhkan perbuatan syukur yang ketiga. Dan demikianlah selamanya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

(وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ الله لا تُحْصُوهَا) [سورة إبراهيم: 34 ، وسورة النحل : 18]

Yang artinya : “Jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menghitung jumlahnya.” (QS.An-Nahl :18 dan QS.Ibrahim : 34)(Al-Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid jilid 2/18)

Berkata Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata Nabiyullah Daud ‘Alaihis Salam: “Wahai Rabbku, kalau seandainya setiap rambutku ini mempunyai dua lidah dan bertasbih kepadaMu sepanjang malam, siang dan masa, maka tidaklah memenuhi hak satu kenikmatan.” (‘Iddatu Ash-Shabirin Libnil Qayyim hal 206, Asy-Syukur Libnu Abi Dunya hal 25, Asy-Syu’ab Lilbaihaqi dishahihkan Syaikh Salim I’ed Al-Hilali wafaqahullah)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Dan syukurnya seorang hamba itu berputar di tiga pilar, dan tidaklah seorang hamba itu bersyukur kecuali dengan berkumpulnya tiga pilar ini;

  1. Pengakuan atas nikmat Allah Subhanahu Wata’ala yang diberikan kepadanya,
  2. Mengulang-ulang pujian kepadaNya dengan nikmat Allah yang diberikan kepadanya,
  3. Menjadikan nikmat Allah itu sebagai penolongnya untuk melaksanakan perbuatan yang diridhaiNya (‘Iddatu Ash-Shabirin hal 250 Dar Ibnul Jauzi)

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata : “Dan Allah telah mengisyaratkan dengan arti yang seperti ini dengan firmannya (Qs.Al-‘An’am :53) maka Allah mengabarkan bahwasanya Dia lebih mengetahui dengan orang yang mengetahui kadar kenikmatan ini dan bersyukur atas pemberian nikmat itu. Maka sesungguhnya asal syukur itu adalah mengakui dengan kenikmatan si pemberi nikmat dengan keadaan yang patuh kepadaNya menghinakan diri dan juga mencintai. Maka barang siapa yang tidak mengetahui kenikmatan bahkan dia bodoh dengan kenikmatan itu maka dia belum bersyukur atas pemberian nikmat itu. Dan barangsiapa yang mengetahuinya dan tidak mengetahui yang memberikan kenikmatan dengan apa yang telah diberikannya, maka dia juga belum mensyukurinya. Dan barang siapa yang mengetahui kenikmatan itu dan juga yang memberikan kenikmatan itu tetapi dia mengingkarinya seperti pengingkaran seorang yang mengingkari atas pemberian kenikmatan itu terhadapnya maka dia telah mengingkari kenikmatan itu. Dan barang siapa yang mengetahui kenikmatan dan juga yang memberikan kenikmatan tersebut dan mengakui kenikmatan itu dan tidak mengingkarinya tetapi dia tidak patuh kepadaNya, mencintaNya dan ridho denganNya maka dia belum mensyukurinya juga. Dan barang siapa yang mengetahui kenikmatan itu dan mengetahui yang memberikan kenikmatan dengannya dan mengakui dengannya dan patuh kepada yang memberikan kenikmatan dengan kenikmatan yang diberikannya dan mencintaiNya dan ridho denganNya dan menggunakannya untuk perbuatan yang dicintainya dan dita’atinya maka ini adalah orang yang bersyukur bagi atas kenikmatan itu. (Thoriiqul Hijrotain jilid 1/168)

Ditulis oleh Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s