Muhaasabatun Nafs

Dari Abi Hurairah Radiyallah ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Seseorang dari kalian melihat kotoran di mata saudaranya dan melupakan batang pohonan yang membentang di matanya.” (dishahihkan Syaikh Albani Rahimahullah di Shahih Al-Jaami’ no 8013)

Berkata Abdur Ro’uf Al-Manawi: “Sepertinya manusia, karena kekurangannya dan kecintaannya kepada dirinya. Mencermati pandangan dalam kesalahan saudaranya dan dia mendapatkannya walaupun tersembunyi. Maka dia buta dengan kesalahanya sendiri, yang tampak dan tidak tersembunyi dengannya. Ini dimisalkan bagi siapa saja yang melihat kesalahan yang kecil dari manusia kemudian dia menghina mereka dengannya. Dan didalamnya terdapat kesalahan, apa-apa yang disandarkannya kepadanya seperti penyandaran batang kepada kotoran mata dan ini adalah dari seburuk-buruknya keburukan. Dan seburuk-buruknya kesalahan yang ditampakan. Maka semoga Allah memberikan rahmatnya bagi orang yang menjaga hatinya, perkataannya, dan tetap mengurusi perkaranya, dan menjaga kehormatan saudaranya, dan berpaling dari apa-apa yang tidak penting baginya. Maka barang siapa yang menjaga wasiat ini, maka akan senantiasa keselamatan bersamanya dan sedikitlah penyesalannya. Maka menyerahkan permasalahan kepada yang lebih pengalaman darinya itu lebih selamat, dan Allah lah yang lebih A’laa dan juga A’lam, dan pujian Allah kepada orang yang mengatakan:

Aku melihat seluruh manusia, melihat kesalahan selainnya

Dan dia buta dari kesalahan yang dia berada di dalamnya

Maka tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak melihat kesalahan dirinya

Dan dia melihat kesalahan yang berada di saudaranya

(Faidh Al- Qodiir Syarh Al- Jami’i Ash-Shagir no 9992 jilid 6/456)

Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi Rahimahullah berkata: “Dan barang siapa yang tidak mampu berjalan di atas jalan yang lurus, maka bersungguh-sungguhlah dia untuk mendekatkan dirinya kepada jalan yang lurus. Maka sesungguhnya keselamatan itu dengan amalan yang shaleh.”

Dan tidaklah tercipta amalan-amalan shaleh kecuali dari akhlak-akhlak yang baik. Maka bagi setiap hamba agar dia mencari sifat-sifat yang baik dan akhlak-akhlak yang baik itu. Agar dia menyibukan dirinya dengan satu pengobatan setelah pengobatan yang satunya. Dan agar bersabar dengan mempunyai tekad terhadap kepedihan yang dirasakan dari perkara ini. Maka sesungguhnya perkara tersebut akan terasa nikmat seperti nikmatnya penyapihan untuk bayi setelah bencinya dia dengan penyapihan itu. Jikalau dikembalikan ke payudara sungguh dia akan membencinya. Dan barang siapa yang mengetahui pendeknya umur jika dibandingkan dengan lamanya kehidupan di akhirat, dia akan memikul kesukaran dengan bepergian berhari-hari untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi. Maka ketika pagi hari suatu kaum memuji orang yang mulia serta dermawan.

Dan ketahuilah: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla jika menginginkan kebaikan kepada hambanya, maka Allah akan menampakan kepadanya aibnya sendiri. Maka barang siapa yang mempunyai penglihatan yang tajam, maka tidak akan tersembunyi aibnya sendiri. Dan jika dia mengetahui aib-aib itu sendiri, dia berusaha dengan kuat untuk mengobatinya. Tetapi kebanyakan manusia bodoh akan aibnya mereka sendiri. Salah seorang dari kalian melihat kotoran di mata saudaranya dan tidak melihat batang pohon yang membentang di matanya[1].

Maka barang siapa yang ingin mencari kesalahan dirinya maka baginya melakukan empat cara:

1. Cara yang pertama agar dia duduk belajar bersama Syaikh yang dia tajam penglihatannya terhadap penyakit-penyakit hati. Dia mengetahui aib-aib dirinya dan cara mengobatinya. Dan ini sangatlah jarang adanya di zaman ini. Maka barangsiapa yang duduk dengannya, maka dia telah duduk bersama dokter yang pandai. Dan janganlah dia berpisah dengannya.

2. Cara yang kedua agar dia mencari teman yang jujur yang cermat yang memegang agamanya dengan kuat, dan menjadikannya sebagai teman dekatnya agar memperingatkannya atas perbuatan yang dibenci dari akhlak-akhlaknya dan amalannya.

Dan Amirul Mu’minin ‘Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anhu berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang memberikan petunjuk kepada kami atas aib-aib kami.”

Dan Salman Radiyallahu ‘anhu telah bertanya kepada ‘Umar Radiyallahu ‘anhu ketika telah tiba dan tampak aibnya, maka dia berkata: “Aku mendengar bahwasanya engkau telah mengumpulkan dua lauk pauk di atas meja makan, dan sesungguhnya kamu mempunyai 2 pakaian. Pakaian untuk malam hari dan pakaian untuk siang hari. Maka dia berkata: ‘Apakah ada hartamu selain ini?’ beliau berkata, ‘Tidak.’ Beliau berkata: ‘Adapun ini telah mencukupiku keduanya.’

Dan ‘Umar Radiyallahu ‘anhu bertanya kepada Hudzaifah Radiyallahu ‘anhu: “Apakah di diriku ada sifat-sifat kemunafikan?” Dan ini dikarenakan setiap siapa saja yang tinggi derajatnya pada hakikatnya maka akan tambahlah perhatiannya untuk dirinya. Hanya saja di zaman sekarang ini sangatlah langka mendapatkan teman yang dengan sifat seperti ini. Karena sesungguhnya sangatlah sedikit di dalam persahabatan yang meninggalkan mencari muka. Maka dia mengabarkan dengan aib atau meninggalkan hasad. Maka janganlah dia menambahkannya di atas ukuran yang wajib. Dan sungguh para salaf mencintai seseorang yang mengingatkan mereka terhadap aib-aib mereka. Dan kita di zaman sekarang keumumannya, orang yang paling kita benci adalah orang yang memberitahukan kepada kita aib-aib kita. Dan ini adalah tanda dari lemahnya iman. Maka sesungguhnya akhlak yang buruk adalah seperti kalajengking, kalau seandainya ada seseorang yang memeringatkan kita bahwasanya di bawah pakaian salah seorang dari kita ada kalajengking kita akan memberikan kalung penganugerahan baginya, dan kita akan menyibukan diri kita untuk membunuhnya. Dan akhlak yang hina lebih besar bahayanya dari pada kalajengking walaupun dalam keadaan yang tidak tersembunyi.

3. Agar dia mendapatkan faedah tentang pengetahuan dirinya dari lisan musuh-musuhnya. Maka sesungguhnya pandangan kemurkaan atau permusuhan itu menampakan suatu cela. Dan manusia mengambil suatu manfaat dari musuhnya yang bertikai mengingatkan akan aibnya. Lebih banyak dari mengambil manfaatnya dari teman yang mencari muka yang menyembunyikan aibnya.

4. Agar dia berteman dengan manusia maka setiap sesuatu yang dia lihat ada cela diantara mereka maka jauhilah mereka. (Muktashor Minhajil Qasidin jilid 3/14)

 

[1] Dishahihkan oleh Syaikh Albani Rahimahullah di Shahih Al-Jaami’ no 8013.

 

Ditulis oleh Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s