Khutbah Jum’at Syaikh Abdullah bin Mar’i bin Buraik Al-‘Adeni Hafidzahullah tentang Mesir, Tunisia, dan Negara Islam Lainnya

ان الحمد لله نحمده تعالى و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيآت أعمالنا من يهدي الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له

أشهد ألا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله صلى الله عليه وسلم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران :١٠٢)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء :١)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (#) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب 70-71)

أما بعد , عباد الله

ان أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Sesungguhnya Allah telah memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya dengan nikmat yang sangat banyak, yang kalian tidak bisa menghitungnya lagi, menentukan jumlahnya, dan Dialah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berfirman,

(وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (النحل :١٨

Artinya : ”Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nahl: 18)

Dan Dia Ta’ala jugalah yang mengkhususkan hambanya dengan macam-macam kenikmatan kepada mereka yang Dia telah beri kenikmatan dengan kenikmatan yang khusus, karena agung perkaranya, dan tinggi kehormatan dan kedudukannya, dan besarnya kebutuhan mereka kepada kenikmatan itu, dan dari kenikmatan itu wahai para hamba-hamba Allah adalah nikmatnya keamanan. Sesungguhnya nikmatnya keamanan adalah salah satu nikmat yang paling besar yang telah Allah berikan kepada hambanya. Untuk itu, Allah Subhaanahu Wa Ta’ala telah memberikan hukuman kepada suatu kaum dengan hilangnya suatu keamanan darinya dikarenakan kekufurannya dan kemaksiatannya. Dan sebagian dari mereka menguasai sebagian yang lainnya. Dan orang-orang yang dzolim sebagian mereka menolong sebagian yang lainnya sebatas kekufurannya dan kemaksiatannya.

Wahai para hamba Allah.

Sesungguhnya Allah telah memberikan kenikmatan ini kepada orang-orang kafir, apa lagi kepada orang-orang yang beriman. Maka Allah telah memberikan kenikmatan kepada penduduk mekkah dan Quraisy dengan apa- apa yang mereka lakukan dari perintah Allah yang dengan sebab itu keamanan Haramnya dan Baitullaah Al-Haraam. Sesungguhnya Allah mengharamkannya dikarenakan kehormatannya dan Allah menurunkan kepadanya suatu keamanan dengan doa yang dipanjatkan Ibrahim Alaihi As-Salaam

(وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا (ال عوران:٩٧

Artinya: ”Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia.” (QS. Ali-‘Imron:97)

Dan telah shahih dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dari hadits Salamah bin ‘Ubaidillah Al-Anshari Radiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ”Barang siapa yang mendapati dirinya di waktu pagi hari dalam keadaan aman,sehat di badannya dan di sisinya ada makanan untuk sehari, maka dia seperti orang yang mempunyai dunia beserta isinya.” Dan diriwayatkan juga dari hadits Abu Darda’ dan Ibnu Umar Radiallahu ‘anhum semakna dengannya dan dihasankan Syaikh Albani Rahimahullah di dalam Ash-Shahihah

Dan juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kenikmatan terhadap yang dia kehendaki dengan kenikmatan ini . Dan jika kenikmatan ini sudah dicabut maka akan menjadi kemurkaan yang sangat yang tiada tandingannya kepada makhluk. Pertumpahkan darah, dilanggarnya kehormatan demikian juga dirampasnya harta benda dan terjadi penganiayaan dan kebinasaan, apa-apa yang dengannya Allah Maha Mengetahui akan hal itu. Untuk itu wahai para hamba-hamba Allah. Penjagaan terhadap itu adalah termasuk dari kewajiban yang paling besar di dalam agama ini, dan mencegah dari apa-apa yang mengantarkannya kepada hilangnya kenikmatan ini, ini diibaratkan salah satu asas dan ketetapan agama ini. Maka untuk itu wahai para hamba-hamba Allah, telah shahih hadits-hadits yang banyak dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, untuk menjauhi fitnah dan memperingatkan dari apa-apa yang mengantarkan kepadanya,dan berniat menutup seluruh sebab yang mengantarkan kesana, dan termasuk dari itu adalah memberontak kepada penguasa yang Muslim, maka sesungguhnya itu walaupun telah tampak pada dirinya sesuatu kebinasaan atau sesuatu perbuatan dzolim dan maksiat, dan kedzoliman tidak diobati dengan kedzoliman yang lebih besar dari itu. Dan kebinasaan tidak diobati dengan kebinasaan yang lebih binasa dari itu. Dan kejelekan tidak diobati dengan kejelekan yang lebih banyak dari itu atau lebih binasa dari pada itu.

Maka telah shahih hadits dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,bahwasanya beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan. Dan telah datang juga di Bab ini hadits-hadits yang sangat banyak, bahwasanya akan datang setelahku pemimpin yang mereka mengetahui darinya dan mereka mengingkarinya ,maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan dengan hadits-hadits ini: ”Bahwasanya suatu kaum akan memimpin manusia dan dari amalannya itu perkara-perkara yang patut diingkari,” dan di hadits lain beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ”Kalian akan mendapati setelahku suatu monopoli[1] dan perkara-perkara yang kalian mengingkarinya, maka mereka berkata: Wahai Rasulullah apakah yang kami lakukan, beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: ‘dengarlah kalian dan taatlah.”

Dan demikian pula di hadits lain, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah memperingatkan dari mengikuti mereka orang-orang yang merubah dan mengganti pergantian dan perubahan, dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam telah menjelaskan bahwasanya yang mengingkarinya maka dia telah selamat dan bahwasanya yang meridhoi dan mengikutinya maka dia akan mendapat adzab di dunia dan di akhirat, dan disini kita mengetahui bahwasanya wajib bagi bagi kaum muslimin jika mereka melihat kejelekan dan kebinasaan yang kadang akan menjadi sebab terkena kejelekan dan kebinasaan yang lebih besar dari itu,maka janganlah kalian mengobati kejelekan dengan kejelekan yang lebih besar dan kebinasaan yang lebih besar dari itu, telah shahih Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam perintahnya untuk taat kepada pemimpin muslim selama amalan itu dalam ketaatan kepada Allah dan agar tidak memberontak kepadanya dan bermaksiat kepadanya, walaupun telah tampak baginya apa-apa yang tampak (dari maksiat dll -pent). Selama dia itu seorang muslim, maka sesungguhnya tidak boleh baginya untuk memberontak, dan mereka telah berkata: ”Wahai Rasulullah tidakkah kita memeranginya,” beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: ”Tidak,selama mereka menegakan shalat.” [2] Dan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berkata dihadits lain: ”Kecuali jika kalian melihat perbuatan kekufuran yang tampak yang kalian bisa jadikan itu alasan disisi Allah,”

Dan dengan ini diketahui bahwasanya tidak boleh memberontak kepada pemimpin muslim walaupun mereka melakukan kedzaliman, kesalahan, kemungkaran atau kejelekan, karena itu akan membawanya kepada kejelekan yang lebih besar dari itu. Dan itu dari perkara yang tidak ada mashlahat untuk manusia tidak ada mashlahat di dalam agamanya dan dunianya. Dan meskipun para ulama telah menerangkan bahwasanya itu walaupun terdapat di dalamnya perbuatan kekufuran yang tampak dan terdapat bukti di dalamnya jika seandainya pemberontakan itu menyebabkan kepada mafsadat yang lebih besar dari maslahat yang dialaminya maka sesungguhnya itu tidak boleh.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullah dibukunya ‘Ilaam Al-Muwaqqi’in: ”Dan telah tetap di dalam syari’at ini sesungguhnya tidak boleh merubah kemungkaran dengan apa-apa yang membawa kepada kemungkaran yang lebih besar darinya.”

Dan berkata Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di dalam bantahannya kepada rafidhah di dalam kitabnya di Minhaj As-Sunnah An-Nabawiyyah: ”Dan tidaklah suatu kelompok yang memberontak kepada pemimpin kecuali di dalam pemberontakannya dari kejelekan yang mereka dapatkan dan kepada masyarakatnya itu lebih besar dari kejelekan yang mereka ada di dalamnya.”

Kemudian (Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah) Rahimahullah berkata: ”Dari apa-apa yang telah terjadi di dalam sejarah Islam dari fitnah dan cobaan di dalam bab ini, maka beliau memberikan isyarat kepada fitnah yang terjadi di zaman Yazid bin Mua’wiyah di ‘Aam harrah( tahun kesedihan –pent) dan apa yang terjadi di dalam fitnah Ibnul ‘Asy’ats dan Ibnul Muhallib maka sesungguhnya kalian mengetahuinya wahai hamba-hamba Allah, barangkali dari kalian membaca apa yang telah di tulis di dalam sejarah,dari apa yang dilakukan Yazid bin Mu’awiyyah dari perkara-perkara kejelekan dan kebinasaan, sampai beberapa manusia memaksa untuk mempersiapkan pemberontakan kepadanya di Madinah, dan bangkitlah para shahabat pilihan Radhiallahu ‘Anhum, para Tabi’in Rahimahullah yang mengikuti mereka dengan kebaikan di dalam pengingkaran kemungkaran itu dan sesungguhnya tidak obati suatu kejelekan dengan kejelekan yang lebih besar dari itu. Maka telah benar khabar di Shahih Al-Bukhari, bahwasanya Abdullaah Ibnu Umar Radhiallahu Anhuma mempersiapkan dirinya dan pergi untuk menasehati mereka yang ingin memberontak kepada Yazid bin Mua’wiyyah dan itu adalah perbuatan yang tidak ditetapkan oleh Syari’at beliau Radhiallahu Anhuma menyebutkan hadits-hadits yang banyak yang mana telah shahih dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam perintahnya untuk taat kepada pemimpin selama dia adalah seorang muslim dan sesungguhnya orang yang melepaskan ketaatan kemudian dia mati maka itu adalah seperti mati jahiliyyah, seperti yang telah shahih dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau Radhiallahu Anhuma mengumpulkan anak-anaknya dan keluarganya seluruhnya dan berkata: ”Tidak ada seorangpun dari kalian yang melepaskan ketaatan, maka sesungguhnya aku menegakkan ketaatan seperti yang Allah perintahkan kepadaku dan seperti yang diperintahkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kepadaku atau seperti yang dikatakan Radhiallahu Anhu.

Maka di dalam pemberontakan kelompok itu kelompok yang memberontak kepada Yazid bin Mu’awiyyah mendapatkan kejelekan yang sangat besar, berkata Ibnu Katsir Rahimahullah: ”Maka terjadi di tahun itu yaitu tahun kesedihan pembunuhan yang sangat besar, terbunuh seratus dua puluh ribu orang, dan terjadi di dalamnya perampasan harta pelanggaran harga diri sampai dikatakan bahwasanya telah hamil ditahun itu lebih dari seribu wanita hamil dengan kehamilan yang tidak boleh terjadi seperti itu, dan seluruhnya itu wahai hamba-hamba Allah dikarenakan hilangnya keamaanan, orang-orang dzalim memberikan kekuasaan sebagian mereka kepada sebagian lainnya, dan juga disitu masuknya sebagian orang-orang pilihan dan orang baik, maka sesungguhnya fitnah jika terjadi seluruhnya dan sisi keburukannya akan menimpa orang yang baik seperti yang didapatkan orang yang jahat dan demikianlah pula Ibnul ‘Asy’ats sesungguhnya dia adalah lelaki yang rakus akan politik yang menghasilkan beberapa kejahatan di dalam negeri itu, maka dia menghasilkan kejahatan dari apa-apa yang terjadi di zaman itu, di zaman Hajjaaj bin Yusuf Ast-Tsaqafi dan Abdul Malik juga dari keluarga Bani Umayyah maka terprovokasilah siapa yang terprovokasi, maka memberontaklah bersamanya sebagian orang yang tertipu dengan syubhat itu. Dan tidak berhenti pada tempat-tempat yang telah dibatasi oleh Allah Azza Wa Jalla di dalam apa-apa yang telah dikeluarkan Atsar dan dari hadits-hadits yang shahih. Dan dari apa-apa yang telah shahih kabarnya dari orang-orang yang shaleh dari ulama ummat ini yang telah terdahulu. Maka ketika itu penyembelihan yang sangat banyak, telah terbunuh banyak dari orang-orang yang shaleh apalagi selain mereka, sampai larilah orang-orang yang telah lari kebeberapa orang-orang kuffar dari Turki dan lainnya yang kemarin mereka menjadi musuh dan pada hari itu menjadi teman yang bisa dijadikan perlindungan dinegara-negara mereka, kemudian mereka diserahkan kembali oleh raja Turki yang kafir kepada bani Umayyah, terbunuhlah siapa saja dari mereka yang terbunuh, dan mengalirlah darah dari mereka siapa saja yang mengalir darahnya menyelisihi apa yang terjadi di masyarakat mereka, dari perampasan harta, dilanggarnya kehormatan dan tertumpahnya darah dan lain-lain.

Demikian itu wahai hamba-hamba Allah berlalunya sejarah dan waktu pada manusia dan manusia tidak melihat di dalam pemberontakannya terhadap pemimpin, melepaskan ketaatan, membuat fitnah, menimbulkan kerusuhan, demontrasi dan membuat kekacauan di masyarkat yang menghasilkan kejelekan yang akan datang dengan cepat dan kejelekan yang tertunda. Maka sesungguhnya itu wahai hamba-hamba Allah termasuk sesuatu yang tidak bermanfaat bagi Islam dan Muslimin dan dengannya juga tidak ada pertolongan kepada agamanya dan juga dunianya, bahkan seperti yang dikatakan Syaikh Al-Islam Rahimahullah: ”Tidaklah seseorang yang memberontak kepada pemimpin kecuali di dalam perkara itu tidak mendapati kebaikan di dalam agamanya dan juga dunianya. Dan tidak ada agama yang mereka tegakkan dan tidak pula dunia yang mereka sisakan, dan tidak ada agama yang mereka tegakkan dan tidak pula dunia yang mereka sisakan. Jika seandainya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memperingatkan dari pemberontakan kepada pemimpin dengan apa-apa yang terjadi di dalamnya dari penyelisihan terhadap Syar’iyyah, dari kekurangan agamanya, dan dari kemungkaran yang terjadi darinya, seperti yang disabdakan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: maka sesungguhnya kalian mengetahui dan mengingkarinya dan bersamaan dengan itu pula tidak diperbolehkan memberontak kepada mereka, dikarenakan dari apa-apa yang akan dia dapatkan dari kejelekan dan kebinasaan yang lebih besar darinya, yang menimpa kepada manusia bersamaan dengan kemungkaran itu, maka sesungguhnya itu adalah fitnah yang khusus, dan adapun jika diangkat pedang dan tertumpahnya darah, maka sesungguhnya itu adalah fitnah yang umum, telah datang beberapa orang kepada Imam Ahmad Rahimahullah dizaman Ma’mun dan dari apa-apa yang terjadi dari fitnah yang besar bagi para ulama, dan orang-orang yang mulia ketika waktu itu cobaan Al-Qur’an (yaitu Al-Qur’an sebagai makhluk-pent). Maka terbunuhlah siapa saja yang terbunuh dari ulama, dihukumlah siapa saja yang dihukum, dan dipenjaralah siapa saja yang dipenjara dan dari mereka Imam Ahmad Rahimahullah. Maka datang kepada beliau Rahimahullah suatu kelompok menginginkan pemberontakan kepada pemimpin, maka mereka berkata apakah kamu tidak mengetahui apa terjadi kepada kita dari kejelekan dan fitnah, maka beliau Rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya ini adalah fitnah yang khusus, tetapi jika pedang sudah diangkat dan terjadi pertumpahan darah maka sesungguhnya itu adalah fitnah yang umum.” Maka beliau Rahimahullah semoga Allah memberikan rahmat-Nya yang luas kepadanya, memperingatkan mereka dari pembunuhan dan dari apa-apa yang akan terjadi dari kejelekan dan kebinasaan.

Wahai hamba-hamba Allah maka ambilah pelajaran dari ayat-ayat Allah yang ada di alam ini kalau kita tidak bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dan dalil-dalil Syari’at yang bijaksana ini, maka hendaklah kita mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang ada di alam ini dari apa-apa yang kita bisa ambil pelajaran dan nasehat di dalamnya, bagi orang-orang yang berakal dan adil. Kita meminta kepada Allah agar mengilhami kita dengan petunjuk-Nya dan agar Allah memperbaiki keadaan kita dan keadaan kaum muslimin Wal Hamdulillaahi Rabbal ‘Aalamiin.

الحمد لله رب العالمين وأشهد ألا اله الا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمد عبده ورسوله صلي

الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم.أما بعد

(Khutbah kedua-pent)

Wahai hamba-hamba Allah, telah disebutkan Al-Imam Al-Bukhari [3] di dalam shahihnya sebuah bab. Bab fitnah-fitnah yang bergejolak seperti gelombang ombak laut. Kemudian beliau Rahimahullah menyebutkan dari Sufyan ibnu Uyainah dari Ibni Khalaf bin Hausyaf. Adapun seseorang menyukai untuk memberikan misal di dalam fitnah atau jika terkena fitnah dengan abyaat Imrubnul Qois, dan abyat itu masih senantiasa diulang-ulang oleh para ulama yang berakal yang bijaksana dengan apa-apa yang telah Allah berikan kepada mereka dari ilmu Syar’I dan apa-apa yang ada pada mereka dari pengalaman, pengetahuan hakikatnya suatu permasalahan dan fitnah. Maka sesungguhnya fitnah tidak ada orang yang mengetahuinya kecuali ulama. Maka jika telah hilang seluruh manusia mengetahuinya, tetapi kapan?

Setelah hilangnya dan perginya, maka menyesalah orang-orang yang menyesal ketika tidak bermanfaat suatu penyesalan.

Abyat itu adalah perkataan Imrubnul Qois

الحرب أول ما تكون فتية

يسعى لزينتها كل جهولِ

حتى اذا اشتعلت و شب ضرامها

ولت عجوزا غير ذات حليلِ

peperangan itu awal mula keadaannya adalah seperti pemudi

setiap orang yang tidak mengetahuinya berusaha untuk menghiasinya

sampai jika peperangan itu telah menyala dan berkobar nyala apinya

berpaling keadaannya seperti wanita yang sudah tua, tidak ada orang yang ingin menjadi suami baginya

Inilah keadaan fitnah, pertama kali dia datang, dia datang seperti wanita muda yang kecil yang cantik, maka berusahalah seluruh manusia untuk menjadi suami baginya dan menjadi orang yang dekat darinya, sampai jika berkobar api peperangan dan terjadilah apa yang terjadi dari fitnahnya, berpalinglah wanita ini yang diawal perkaranya menjadi wanita muda yang memberikan fitnah kepada manusia menjadi wanita yang tua yang tidak mempunyai suami, tidak ada orang yang menginginkannya,sampai dikatakan di akhir abyat.

شمطاء ينكر لونها وتغيرت

مكروهة للشم و التقبيل

wanita yang beruban rambut kepalanya diingkari warnanya dan dia berubah

menjadi dibenci untuk dihirup baunya dan dicium

Inilah keadaan suatu fitnah jika dia datang dan jika dia berlalu

Wahai hamba-hamba Allah, kita harus memperingatkan dari fitnah yang tampak dan yang tersembunyi, dan bagi diri kita harus tidak mengikuti setiap orang yang berteriak dan tidak boleh bagi orang Islam disetir oleh tangan-tangan yang tersembunyi dari tangan-tangan orang-orang kafir dan munafiq. Maka mereka (kaum kuffar-pent) mengarahkan mereka (kaum muslimin-pent)kekanan dan kekiri yang akan menjadikan kejelekan di dalam agama mereka dan juga kejelekan di dalam dunia mereka.

Beberapa kaum telah tertipu dengan apa yang terjadi di Tunisia hari-hari yang baru saja lewat, maka mereka mengira bahwasanya itu adalah kebaikan untuk rakyatnya, maka ummat membantah para pemimpinnya dan para hakimnya di bumi bagian timur dan barat, apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya rakyat Tunisia di tahun tujuh puluhan, merekalah yang memberontak kepada negara kerajaan dengan cara kerusuhan yang seperti ini, dengan cara demontrasi seperti ini, maka terjadilah revolusi secara umum, sampai seseorang dari mereka yang memimpin dan menghina agama Allah, dan mencela Syari’at Allah maka dia berbuka puasa terang-terangan dan selain itu dari perkara-perkara yang memusuhi agama Allah, dan mereka itulah orang-orang yang menggerakkan sampai hilangnya negeri kerajaan, maka terjadilah apa yang terjadi kemudian terjadi pergolakan roti[4] seperti yang mereka katakan, dan terjadilah setelahnya apa yang terjadi, dan apa yang kalian kira akan datang setelah kejelekan kecuali akan datang sesuatu yang lebih jelek darinya.

Sungguh telah benar apa yang dikatakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam: ”Tidak akan datang suatu zaman kecuali zaman yang setelahnya itu lebih jelek darinya.” Dan sungguh benar apa yang dikatakan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: ”Tidak ada seorangpun yang memberontak kepada pemimpin kecuali dia akan mendapatkan kejelekan lebih besar dari pada kejelekan yang dia rasakan di dalamnya.” Dan demikianlah di dalam selang waktu itu dan dekat waktunya dari itu telah memberontak rakyat Mesir, dan kelompok yang banyak di Mesir kepada kerajaan, dan dahulu negeri itu yang sekarang itu mengguncang dan berdemontrasi terhadap kerajaannya, ketika itu merekalah yang menggerakan untuk negeri itu dan memberontak pada raja dan pemimpin, dan dahulu di zaman itu keadaan mereka lebih baik dari pada keadaan hari ini, maka mereka yang sekarang mengguncang dan berdemontrasi kepada pemerintah, merekalah orang-orang yang mengerakan kepadanya kemarin, maka mereka mengangkat masalah dan memberontak kepada pemerintahan itu, dan mereka sekarang juga mengguncangnya dan berdemontrasi mereka membuat kekacauan dan kamu tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah ini ???

Dan inilah keadaan orang-orang bodoh, orang rendahan, orang-orang yang mengikuti setiap teriakkan, sesungguhnya fitnah itu membuat seseorang itu menjadi buta dan tuli, membutakan mata dan mentulikan telinga, dan dengan itu hati tidak bisa memahami. Maka tidak boleh bagi manusia untuk mengikuti setiap teriakan sampai bergejolak dan bermain fitnah dengannya. Lebih khusus lagi bahwasanya dibelakang peristiwa ini ada tangan-tangan yang tersembunyi, dari tangan-tangan orang-orang kafir dan munafiq. Maka akan terjadi kejelekan kepada masyarakat dengan apa-apa yang tidak ada kebaikan di dalamnya. Tidak ada kebaikan dunia dan tidak pula di dalam agama. Dan demikianlah apa yang telah terjadi dari pengguncangan dan pemberontakan di Sudan. Maka terjadilah pergerakan-pergerakan dan terjadilah apa yang terjadi kemudian mereka memberontak kepada keputusan ini. Dan lihatlah apa yang terjadi di Sudan dari fitnah ini yang sangat besar dan peperangan di selatan dan musuh-musuh menguasai ahlul Islam. Jika mereka berpecah belah dan bercerai-berai dan terjadilah apa yang terjadi yang membuat kelemahan mereka (Ahlul Islam –pent) dan penguasaan sebagian mereka terhadap sebagian yang lainnya. Maka ambilah pelajaran wahai hamba-hamba Allah dengan apa yang telah terjadi di Iraq dan dengan apa yang telah terjadi di Shaumali dan apa yang telah terjadi di negara-negara lain dengan apa yang ada di dalamnya dari ayat-ayat yang ada di alam ini dari pelajaran yang tampak bagi orang yang adil. Bahwasanya baginya agar tidak mengikuti setiap orang yang berteriak. Iya jika di sana ada kejelekan atau disana ada kebinasaan maka haruslah diobati dengan cara yang syar’I dan cara yang benar yang menunjukan fitrah yang benar yang mana akal sehat tidak mengingkarinya.

Dan adapun perbuatan orang-orang yang bodoh dan pengaruh orang-orang yang bodoh dan apa yang diinginkan oleh musuh-musuh yang menghasilkan fitnah ini dan demontrasi-demontrasi, kekacauan dan kedzaliman dengan apa-apa yang kita lihat. Maka sesungguhnya itu –demi Allah- tidaklah dengannya ada kebaikan. Tidak ada kebaikan yang akan datang dengan cepat dan kebaikan yang tertunda dan tidak pula kebaikan agama dan tidak pula kebaikan dunianya. Bahkan itu menjadikan sebab untuk mendapatkan kejelekan yang akan datang dengan cepat dan kejelekan yang tertunda. Dan kerugian tehadap agama dan kerugian terhadap dunianya. Dan renungkanlah dengan rakyat yang bersiap-siap untuk memberontak kepada pemimpinnya, penguasanya, dan rajanya. Maka sesungguhnya mereka tidak akan mendapatkan perkaranya yang akan datang atau yang tertunda kedatangannya kecuali lebih jelek dari pada yang mereka rasakan sebelum itu wahai hamba-hamba Allah.

Telah datang di Nash-Nash Syar’iyyah yang sangat banyak di dalam memperingatkan dari bab ini dan fitnah di dalamnya. Sesungguhnya itu adalah sebab yang besar yang mendatangkan kejelekan kepada rakyat. Maka takutlah kalian kepada Allah, untuk berhenti di dalam batasan-batasan yang Allah berikan dan berserah diri dengan Syari’at Allah. Bukan berbasa-basi kepada pemimpin dan bukan pula “mudahanah”[5] kepada orang dekat tetapi karena permasalahan agama kepada Allah Rabbul ‘Aalamiin, Yaa Allah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimiin.

Yaa Allah perbaikilah keadaan pemimpin-pemimpin kami dan penguasa-penguasa kami dan jadikanlah pemerintahan kami kepada orang-orang yang takut kepada-Mu,bertaqwa kepada-Mu dan mengikuti keridhoan-Mu ya Rabbal ‘Aalamiin

Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa kaum muslimiin dan jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tentram dan juga negeri-negeri kaum muslimiin Wal Hamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin

 

 

[1] Maksudnya mendahulukan seseorang di dalam memberikan harta, pangkat, kepemerintahan dll dengan tidak benar seperti disebutkan Syaikh Abdullaah bin Abdirrahmaan bin Abdillaah bin Jibrin Rahimahullah di Syarh ‘Umdatul Ahkaam Syarh hadiits Ghanaa’im Ghazwati Hunain

[2] Berkata Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Rahimahullah diambil dari faedah itu bahwasanya meninggalkan menegakkan shalat itu seperti perbuatan kufur yang tampak, karena sabda beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam ‘Ubadah Radhiallahu Anhu: ”Tidak, kecuali jika kamu melihat perbuatan kekufuran yang tampak (Daliil Al-Faalihiin Lithuruq Riyaadh Ash-Shaalihiin 5/137)

[3] Shahiih Al-Bukhari Kitaab Al-Fitnah Bab Al-Fitnah Al-latii Tamuuju Kamaujil Bahr no 7095

[4] Ini adalah suatu istilah yang dipakai dikarenakan naik harga barang-barang termasuk roti

[5] Berkata Ibnu Hajar Rahimahullah: ”Al-Mudahanah itu dari kata ad-dihaan (cat-pent) yaitu yang menampakan sesuatu dan menyembunyikan bathinnya, dan ditafsirkan para Ulama Rahimahullah bahwasanya itu adalah: ”Pergaulan dengan orang fasiq dengan menampakan keridho’an dengan apa-apa yang dia kerjakan di dalamnya tanpa mengingkarinya.” (Fathul Baari 10/528)

 

Diterjemahkan oleh Ustadz Fahmi Abubakar Jawwas

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s