Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy

Di manakah Allah??

Pada masa ini, banyak orang yang mengaku sebagai umat Islam, mengaku cinta kepada Allah Ta’ala dan meneladani Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam, namun kenyataan menunjukkan bahwa kecintaan yang mereka bangun itu tidaklah didasari dengan ilmu dan pemahaman yang benar. Oleh sebab itu, banyak kita dapati orang yang mengaku beragama Islam, tapi tidak mengerti hal-hal dasar yang harus mereka percayai. Bahkan, mereka menjalankan agama ini seolah-olah hanya sebagai pelengkap aktivitas kehidupannya. Banyak yang tidak mau mempelajari aturan agama Islam ini walaupun sedikit. Seolah-olah, mereka memeluk agama Islam hanya karena warisan dari orang tuanya saja. Dan jika ditanya suatu hal tentang Islam mereka menjawab, “Tidak tahu, pokoknya seperti ini. Dulu nenek moyang kita juga begini.”. Padahal kalau diperhatikan, jika mereka berusaha mengejar ilmu dunia (seperti yang ada di sekolah, kampus, dst) seolah-olah itulah segalanya, sehingga melalaikan mereka dari hal-hal penting lainnya.

 

Pada edisi kali ini, kita akan mengangkat tema yang seharusnya menjadi keprihatinan kita semua. Dikarenakan sikap tidak acuh dan tidak mau tahu, sebagian kaum muslimin yang tidak tahu siapa Tuhan mereka! Ketika mereka ditanya, “Di mana Allah?”, bermacam-macam jawaban yang berbeda-beda akan keluar dari mereka. Ada yang menjawab, “Allah itu ada di hati.”, yang lain lagi menjawab, ”Allah itu menyatu dengan kita.”, dan masih banyak lagi pendapat lainnya yang tidak bisa kita terima dengan akal sehat. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

 

1. Tidak tahu di manakah Allah Ta’ala berada

 

Karena jauhnya sebagian umat Islam dari agamanya, mereka tidak tahu di mana Tuhannya berada! Padahal, berdasarkan fitrah manusia, semua orang dapat merasakan keberadaan Allah Ta’ala di atas langit, hanya sebagian orang yang melampaui batas saja menolak fitrah ini. Buktinya, jika kita memanjatkan do’a, berkeluh kesah, maka kita akan menengadahkan wajah kita ke langit. Dan di antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala di atas langit adalah kisah seorang budak wanita penggembala. Kisahnya sebagai berikut:

 

Dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulaimy –radhiallohu ‘anhu– berkata: “Dulu aku mempunyai seorang budak wanita yang menggembalakan kambing-kambingku di daerah Uhud dan Jawwaaniyyah. Suatu hari aku menengoknya, tiba-tiba ada seekor serigala membawa pergi salah satu kambingnya. Sedangkan aku adalah seorang laki-laki Bani Adam. Aku bisa marah sebagaimana orang lain pun bisa marah. Maka aku pun memukulnya sekali. Kemudian aku mendatangi Rasululloh ‘alaihi sholatu wa sallam. Maka beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam menganggap besar perbuatan yang telah kulakukan. Aku berkata: “Wahai Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam apakah aku merdekakan saja dia?” Beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bawa dia kepadaku!” Maka setelah budak wanita tersebut dibawa di hadapan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, beliau sholallohu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Di manakah Allah?”. Budak itu menjawab, “Di atas langit.” Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa aku?” Budak itupun menjawab: “Engkau adalah Utusan Allah.” Setelah mendengar jawaban tersebut, beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman.” (HR. Muslim no. 537)

 

Dari hadits tersebut, kita dapat mengetahui tentang disyari’atkanya (bahkan wajib untuk) menjawab bahwa Allah Ta’ala ada di atas langit. Karena Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam membenarkan jawaban budak tadi. Dan jawaban tersebut sesuai dengan Al-Qur’an yang mengatakan, “Apakah kalian merasa aman terhadap ‘Yang di langit’ bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian?” (QS. Al-Mulk: 16)

 

Yang dimaksud dengan “Yang di langit” adalah Allah Ta’ala, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas –radhiallohu ‘anhu-. Sedangkan makna fis samaa’ (di langit) adalah ‘alaas samaa’ (di atas langit).

 

2. Penjelasan seputar Ma’iyyah (Kebersamaan) Allah Ta’ala

 

Lalu bagaimana dengan ayat-ayat yang seolah-olah menyatakan bahwa Allah Ta’ala senantiasa dekat/ bersama dengan makhlukNya? Sebagian orang salah memahami ayat-ayat yang menyatakan tentang dekatnya Allah Ta’ala dengan makhlukNya. Kebanyakan mereka mengira bahwa ayat-ayat tersebut bertentangan dengan dalil-dalil ‘uluw (tinggi)nya Allah di atas ‘ArsyNya. Seperti ayat-ayat yang menyatakan kebersamaan Allah Ta’ala dengan makhlukNya sebagai berikut: “… Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada…” (QS. Al-Hadiid: 4)

 

Juga ayat yang menyatakan dekatnya Allah dengan makhlukNya. Diantaranya Allah Ta’ala berfirman: “… dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.” (QS. Qaaf: 16)

 

Ayat-ayat tersebut di atas dan yang semakna dengannya seringkali menyebabkan sebagian kaum muslimin keliru dalam memahaminya. Sebagian diantara mereka menyatakan “Allah ada di mana-mana.”, “Allah di hati” atau “Allah menyatu dengan makhlukNya”. Seperti ucapan Jahm bin Sofwan (pencetus aliran Jahmiyyah): “Allah di segala sesuatu, bersama setiap sesuatu”. Hingga akhirnya mereka menentang sekian banyak ayat dan hadits yang menyatakan tingginya Allah Ta’ala di atas seluruh makhlukNya.

 

Secara bahasa makna ma’iyyah (kebersamaan) tidak mesti bermakna bersatu dalam satu tempat, tetapi bermakna kebersamaan secara mutlak, apakah bersama-sama dalam satu amalan yang sama di tempat yang berbeda atau bersama dalam arti mengawasi atau memperhatikan dan lain-lain. Maka ma’iyyah Allah Ta’ala harus ditafsirkan sesuai dengan dzahir ayatnya masing-masing. Untuk mendekatkan pemahaman, kita bisa menyaksikan keberadaan bulan yang senantiasa mengikuti/bersama kita di manapun kita berada. (Kita di Solo mendapati bulan, ketika kita pergi ke Jakarta juga mendapati bulan yang sama bersama kita, padahal bulan itu satu dan tidak berpindah tempat.)

 

Maka ayat-ayat Allah tentang kebersamaan Allah Ta’ala dengan MakhlukNya, sama sekali tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang menyatakan tingginya Dzat Allah Ta’ala di atas seluruh makhlukNya. Karena itu bagi Allah Ta’ala semuanya dekat, karena Allah Maha Besar, Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Mengetahui, bahkan mengetahui bisikan-bisikan yang masih ada dalam dada.

 

Kalau kita perhatikan lebih lanjut ayat-ayat yang menyatakan kebersamaan Allah Ta’ala secara lengkap, akan terlihat kalau ayat-ayat tersebut berbicara tentang ilmu, pendengaran, penglihatan atau dukungan dan pembelaan Allah Ta’ala. Seperti firman Allah Ta’ala: Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy. Dia Maha Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadaNya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al Hadiid: 4)

 

Imam Sufyan Ats Tsauri pernah ditanya tentang ayat di atas, maka beliau menjawab: “Dia bersama kalian, yakni dengan ilmunya.” (diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang Hasan dalam Kitab Asma’ wa Sifat, hal 341)

 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Dzahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah yang sesuai dengan konteksnya adalah memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian. Inilah maksud perkataan salaf: ‘Bersama mereka dengan ilmuNya’. Dan ini adalah dzahir ayat dan hakikatnya (bukan ta’wil). (Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Juz V hal. 103)

 

Faedah lain dari ayat ini adalah tidak adanya pertentangan antara tinggi (‘uluw)nya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy dan kebersamaan (ma’iyyah)Nya dengan makhlukNya, karena dalam ayat ini keduanya (ketinggian dan kebersamaan Allah Ta’ala) disebutkan bersama-sama.

 

Berkata Ibnul Qayyim, “Dalam ayat ini Allah mengkhabarkan bahwa diriNya tinggi di atas ‘ArsyNya, sekaligus menyatakan bersama makhlukNya, melihat dan memperhatikan amalan mereka di atas ‘ArsyNya. Seperti dalam hadits: (“Allah di atas ‘ArsyNya melihat apa yang kalian kerjakan”). Maka ‘uluwNya Allah tidak bertentangan dengan ma’iyyahNya. Kedua-duanya adalah benar.” (Mukhtashar Shawa’iq al Mursalah, hal. 410)

 

3. Allah Ta’ala beristiwa’ di atas ‘Arsy

 

Kata ‘Arsy secara bahasa adalah dipan (permadani) yang diperuntukkan khusus untuk raja. Secara istilah Agama Islam, ‘Arsy bermakna sesuatu yang sangat besar yang Allah Ta’ala ber-istiqrar (berada tinggi) di atasnya. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar. Allah Ta’ala mensifatinya dengan keagungan, kemuliaan, dan kegagahan.

 

Berkata Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash Shabuni: “Para ‘ulama ahli hadits meyakini dan mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala di atas tujuh lapis langit, di atas ‘ArsyNya sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam kitabNya.” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al Manshuri, hal. 44)

 

Berkata Abdullah Ibnul Mubarak: “Kami mengenali Rabb kami di atas tujuh lapis langit, tinggi di atas ‘ArsyNya, terpisah dari makhlukNYa. Dan kami tidak berkata seperti ucapan Jahmiyah bahwa Dia ada di sini (sambil menunjuk ke bumi).” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al Manshuri, hal. 46-47)

 

Ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Maha Tinggi di atas ‘ArsyNya sangat banyak. Di antaranya firman Allah: “Ar Rahman yang beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5)

 

Dan juga firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy…” (QS. Al A’raaf: 54)

 

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan Maha Tingginya Allah di atas ‘ArsyNya. Dan banyaknya ayat-ayat dan hadits yang muhkamat (jelas dan tidak tersamar) tersebut, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak para shahabat, tabi’in dan para pengikut mereka dari kalangan ahlul hadits mengimani dengan yakin dan mempersaksikan bahwa Allah Ta’ala tinggi di atas ‘ArsyNya. Mereka memahami makna istiwa’ dalam bahasa Arab yaitu “Tinggi di atas”. Hanya saja mereka tetap menyatakan bahwa ketinggian Allah Ta’ala di atas ‘ArsyNya tidak sama dengan makhlukNya; tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraanya. Ahlus Sunnah wal jama’ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘ArsyNya sesuai dengan kemulianNya. Dan mereka tidak mempersalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa’nya Allah Ta’ala di atas ‘ArsyNya. Karena mereka meyakini bahwa Dzat Allah Ta’ala tidak sama dengan makhlukNya, maka mereka tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa’nya Allah Ta’ala di atas ‘ArsyNya. Apalagi tidak ada satupun dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya (bagaimananya).

 

Seperti kisah yang terjadi pada Imam Malik –rahimahullah– sebagaimana dinukil oleh Imam Ash Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majelisnya, kemudian bertanya: “Ar Rahman ‘alal ‘Arsy istawa’, bagaimana istiwa’Nya?”. Kemudian Imam Malik tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oeh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata:

 

Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna’istiwa’ sudah diketahui, beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid’ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.” Kemudian orang itupun diperintahkan untuk pergi dari majelisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al Manshuri, hal 45)

 

Demikanlah sikap keras para ulama ahlus sunnah terhadap pertanyaan takyif (bertanya bagaimana tentang sifat Allah Ta’ala) yang tidak mungkin bisa dipikirkan dengan akal, karena masalah Dzat Allah Ta’ala dan sifat-sifatNya adalah masalah ghaib yang kita tidak mungkin dapat mengenalinya kecuali melalui Al Qur’an dan Sunnah.

 

Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa’Nya Allah Ta’ala di atas ‘ArsyNya, dan ‘ArsyNya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Mereka mengimani, membenarkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam berita-berita yang telah Allah Ta’ala ucapkan tentang istiwa’Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dzahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyah (bentuk)nya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al Manshuri, hal. 44)

 

4. Keyakinan Imam Asy Syafi’i

 

Berdasarkan kisah budak Mu’awiyyah –radhiallohu ‘anhu- yang telah kami sampaikan di awal pembahasan, Imam Syafi’i juga berdalil dengan hadits itu bahwa beliau meyakini Allah Maha Tinggi di atas ‘ArsyNya, dan bahwasanya seseorang yang mengikrarkan yang demikian adalah seorang mukmin.

 

Tidak mungkin seorang seperti Imam Syafi’i, tidak sependapat dengan hadits yang telah beliau riwayatkan. Sebagaimana telah dikisahkan dari beliau ketika pada suatu hari beliau meriwayatkan hadits, ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah (panggilan kunyah dari Imam Syafi’i) apakah engkau sependapat dengan hadits (tentang kisah budak Mu’awiyah –radhiallohu ‘anhu-) itu?” Maka beliau marah seraya berkata: “Apakah engkau melihat aku (keluar) dari biara atau gereja?! Apakah engkau melihat aku memakai pakaian orang kafir?! Bukankah engkau melihat aku berada dalam masjid kaum muslimin, dengan pakaian kaum muslimin, menghadap kiblat kaum muslimin? Apakah apabila aku telah meriwayatkan hadits dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam kemudian aku tidak sependapat dengannya?!” (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq abul Yamin Al Manshuri, hal. 47-48)

 

Ini adalah bukti kalau Imam Syafi’i tentu sependapat dengan hadits ini (kisah budak Mu’awiyyah –radhiallohu ‘anhu-), bahwa seseorang dikatakan mukmin jika mengikrarkan dan meyakini bahwa Allah Maha Tinggi di atas tujuh lapis langit di atas “ArsyNya. Wallahu a’lam.

 

Maraji’:

– Aqidatus Salaf Ashabul Hadits,

– Qawa’idul Mutsla,

– Lum’atul I’tiqad

 

Sumber: Buletin Istiqomah edisi 41, diterbitkan oleh Ma’had ‘Ilmi Al Madinah, Surakarta

 

Tambahan:

 

Pertanyaan:

Bagaimana pandangan hukum terhadap jawaban sebagian orang: “Allah berada di mana-mana,” bila ditanya: “Di mana Allah?” Apakah jawaban seperti ini sepenuhnya benar?

 

Jawab:

Jawaban ini sepenuhnya bathil. Apabila seseorang ditanya: “Allah di mana?” hendaklah ia menjawab: “Di langit,” seperti dikemukakan oleh seorang (budak) perempuan yang ditanya oleh Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam: “Di mana Allah?” jawabnya: “Di langit.”

 

Adapun otang yang menjawab dengan kata-kata: “Allah itu ada,” maka jawaban ini sangat samar dan menyesatkan. Orang yang mengatakan Allah itu ada di mana-mana, adalah kafir. Karena ia telah mendustakan keterangan-keterangan agama, bahwa dalil-dalil wahyu dan akal serta fitrah. Allah berada di atas segala makhluk. Dia berada di atas semua langit, berada (istiqraar) di atas ‘Arsy.

 

Oleh Syaikh Ibnu Utsaimin (Dikutip dari terjemah Majmu’ Fatawaa wa Rasaail, juz 1 halaman 132-133)

One thought on “Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s