Kisah ‘Atha bin Yasar dengan Seorang Wanita

Pada suatu hari, ‘Atha bin Yasar bersama saudaranya Sulaiman bin Yasar keluar dari kota Madinah untuk menunaikan ibadah haji bersama para sahabatnya. Ketika mereka sampai di ‘Abwa, mereka singgah di suatu tempat peristirahatan.

Kemudian Sulaiman bin Yasar dan para sahabatnya pergi untuk memenuhi hajat keperluan mereka, maka tinggallah ‘Atha bin Yasar sendirian, ketika itu dia sedang melaksanakan shalat, tiba-tiba seorang wanita badui yang cantik masuk ke dalam persinggahan. Maka tatkala ‘Atha merasakan kehadirannya, ia meringankan shalatnya karena mengira wanita itu mempunyai keperluan dengannya.

Ketika ‘Atha selesai melaksanakan shalat, dia bertanya,

ألك حاجة؟

“Apakah engkau mempunyai keperluan?”

قالت : نعم

Wanita itu berkata, “Ya.”

فقال : ماهي؟

(‘Atha) berkata, “Apa keperluanmu?”

قالت : قم . فأصب مني ، فإني قد ودقت (أي رغبت في الرجال) ولا بعل لي

Wanita itu berkata, “Bangunlah, lalu curahkanlah kasih sayangmu kepadaku. Karena sesungguhnya aku adalah wanita yang membutuhkan kasih sayang (dari laki-laki) dan aku tidak mempunyai suami.”

فقال : إليك عني. لا تحرقيني ونفسك بالنار

(‘Atha) berkata, “Menjauhlah engkau dariku. Janganlah engkau membakar aku dan dirimu dengan api neraka.”

‘Atha memandang wanita yang cantik itu. Lalu wanita tersebut berusaha merayu dan menggodanya dan tidak menghiraukan apapun kecuali apa yang diinginkannya. Maka mulailah ‘Atha menangis sambil berkata,

إليك عني. إليك عني

“Menjauhlah engkau dariku, menjauhlah engkau dariku.”

Semakin lama tangisan ‘Atha semakin keras, maka wanita tersebut menjadi cemas dan akhirnya wanita tersebut pun ikut menangis.

Pada saat itu tiba-tiba datanglah Sulaiman bin Yasar kembali setelah memenuhi kebutuhannya. Ketika Sulaiman melihat ‘Atha menangis dan juga melihat seorang wanita menangis di sudut rumah. Sulaiman pun ikut menangis, padahal dia tidak mengetahui apa penyebab mereka berdua menangis, setelah itu datanglah para sahabat ‘Atha satu per satu.

Mereka yang melihat ‘Atha dan yang lainnya menangis, satu per satu dari mereka juga ikut menangis tanpa menanyakan apa penyebab mereka semua menangis. Akhirnya tangisan pun terdengar sampai keras.

Ketika wanita badui itu melihat keadaan seperti itu, ia pun berdiri lalu pergi. Berdirilah ‘Atha dan para sahabatnya, Sulaiman terdiam dan tidak menanyakan penyebab peristiwa yang menimpa saudaranya karena rasa hormat dan segan terhadap ‘Atha. Kemudian keduanya pergi ke Mesir untuk menunaikan sebagian hajat mereka, lalu keduanya tinggal di sana selama waktu yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada suatu malam ‘Atha terbangun dalam keadaan menangis. Sulaiman bertanya kepadanya,

ما يبكيك يا أخي؟

“Apa yang membuatmu menangis, wahai saudaraku?” 

قال عطاء : رؤيا رأيتها الليلة

Berkata ‘Atha, “Aku telah bermimpi tadi malam.”

قال سليمان : ما هي؟

Sulaiman berkata, “(Mimpi) apakah itu?”

قال عطاء : بشرط أن لا تخبر بها أحدا مادمت حيا

Berkata ‘Atha, “Syaratnya, jangan engkau ceritakan mimpi ini kepada siapapun selama aku masih hidup.”

قال سليمان : لك ما شرطت

Berkata Sulaiman, “Akan kupenuhi syaratmu.”

قال عطاء: رأيت يوسف النبي عليه السلام في النوم ، فجئت أنظر إليه فيمن ينظر، فلما رأيت حسنه ، بكيت ، فنظر إلي في الناس. فقال ما يبكيك أيها الرجل؟

Berkata ‘Atha, “Aku melihat Nabi Yusuf ‘alaihissalaam di dalam mimpi. Maka aku pun mendatangi beliau untuk melihatnya, maka aku (kagum) melihat ketampanan beliau maka aku pun menangis. Maka beliau melihatku di tengah kerumunan orang banyak lalu beliau berkata, ‘Mengapa engkau menangis wahai laki-laki?’”

قلت : بأبي أنت وأمي يا نبي الله ، ذكرتك وامرأة العزيز، وما ابتليت به من أمرها، وما لقيت من السجن ، وفرقة الشيخ يعقوب ، فبكيت من ذلك ، وجعلت أتعجب منه

Aku (‘Atha) berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabiyallaah. Aku teringat (kisah) engkau dengan istri Al-Aziz dan ujian yang menimpa anda dari perkara wanita tersebut. Dan apa yang anda jumpai di penjara. Dan perpisahanmu dengan ayahanda Ya’qub yang sudah berusia lanjut. Aku menangis karena mengingat akan hal itu dan itulah yang membuatku kagum.”

فقال يوسف عليه السلام : فهلا تعجب من صاحب المرأة البدوية بالأبواء؟ فعرفت الذي أراد، فبكيت واستيقظت باكيا

Berkata Nabi Yusuf ‘alaihissalaam, “Mengapa engkau tidak kagum terhadap pemilik (kisah dengan) seorang wanita badui di ‘Abwa?” Aku mengerti maksud beliau (Nabi Yusuf ‘alaihissalaam). Oleh sebab itu aku menangis dan terbangun dalam keadaan menangis.

فقال سليمان : أي أخي وما كان حال تلك المرأة؟

Berkata Sulaiman, “Wahai saudaraku, apakah yang sebenarnya terjadi antara engkau dengan wanita itu?”

Maka ‘Atha pun menceritakan kisahnya dengan wanita itu, kisah itu pun tidak pernah diberitahukan kepada seorangpun sampai ‘Atha wafat. Setelah ‘Atha wafat barulah salah satu dari keluarganya menceritakan kisah itu kepada orang lain.

(kisah ini bisa dilihat pada kitab Al-Atqiyaa wa Fitanun Nisaa)

Tambahan, nama lengkap ‘Atha adalah ‘Atha bin Yasar Al-Hilali Abu Muhammad Al-Madani Al-Qadhi. Seorang mantan budak Maimunah, seorang yang faqih dan banyak meriwayatkan hadits, wafat tahun 103 H dalam usia 84 tahun di Mesir.

2 thoughts on “Kisah ‘Atha bin Yasar dengan Seorang Wanita

  1. Ping-balik: Kisah ‘Atha bin Yasar dengan Seorang Wanita « Ummu 'Abdillah

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini, بارك الله فيك

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s